Masa2 SMA adalah masa dimana self-concept ku mulai terbentuk, dan self-esteem ku mulai meningkat. Masa2 yang sangat menyenangkan bagiku. Aku mulai sadar bahwa teman2ku yang disini berbeda dengan teman2ku waktu SMP, seiring dengan bertambahnya usia, manusia semakin menyadari akan adanya perbedaan dan mereka menghargai adanya perbedaan, dengan kata lain aku yang "amat unik" ini mulai dapat diterima (bukan dengan sekejap tentunya, ada proses yang cukup lama). Spesialisasiku semakin menjadi2 dan keunikanku mulai nampak. Aku semakin tergiring ke arah exact/sains. Aku masih ingat betapa buruknya nilai2 pelajaran non exact ku, dalam pelajaran sejarah, ekonomi, akuntansi, bahasa indonesia aku selalu yang terjelek nilainya di kelas. Keunggulanku saat itu adalah di bidang sains dan bahasa inggris. Setidaknya aku punya komoditas yang dapat dipakai untuk menarik teman. My favorite was chemistry of course. Saat kelas 3 adalah saat dimana aku tumbuh dengan cepat, kondisi lingkungan kondusif, mengagumkan bagaimana seorang introvert sepertiku bisa mendapatkan banyak teman dan menjadi terkenal(beneran lho, aku dulu ini terkenal di SMA-ku cuman pas kelas 3 sampe lulus).

My love story… wasn’t go well. Ahm! Banyak temen2 yang kusukai waktu itu, kebanyakan cuman ketertarikan fisik. Ada juga yang punya pribadi yang bagus(lebih dari satu lho). Tapi aku masih trauma dengan kisahku waktu SMP jadi kuputuskan buat latihan deketin aja. Kucoba untuk bertingkah senormal mungkin kalau ketemu dia dan kalau ngobrol sama dia. Ternyata aku yang sekarang jadi lebih berani dan lebih asertif ketimbang yang dulu. Syukur Alhamdulillah. Di lain sisi ada cewe’ yang seneng sama aku terus kita juga sering ngobrol bareng, while she develope her feeling on me, me doesn’t. Dengan kata lain ini cuman satu arah aja, eeee… malah banyak yang ngira kita udah jadian, aaahhh biarin aja lah. Aku nyesel juga kenapa aku dulu nggak ngomong langsung, aku dulu orangnya ngga’ tega sih. Tapi kemudian urusan malah jadi rumit. Untung aja belakangan kita bisa ketemuan lagi, karena aku yang sekarang udah lebih asertif dan berani aku jadi bisa ngungkapin apa yang kurasakan. Jadi masalahnya bisa lebih cepat selesai. I’m sorry that it must be ended-up like this, but this is the best for the two of us T_T
My interest… Sama seperti yang dulu aku selalu punya hobi yang bisa berganti2 setiap berapa tahun sekali. Aku dulu suka mempelajari explosive, high voltage (30.000 volt), chemistry, firework, pyrotechnic, computer, astronomy, electronic, dll. I always spend a lot of money for my hobby, sampe2 ortu-ku bilang kalau aku ini nggak bisa ngatur duit, yups aku dulu emang boros duit (bukan buat beli jajan, tapi buat semua hobiku, demi hobiku). Aku selalu punya hobi yang unik, sedari kecil tuuuh… sampai sekarang juga.

Mulai duduk di bangku kuliah. Temen2ku yang disini bahkan lebih mampu lagi mentolerir "keunikanku" ketimbang waktu SMA, seperti yang udah aku bilang sebelumnya: seiring dengan bertambahnya… bla bla bla. Yokatta ne…(Syukurlah….). Setiap hari aku naik sepeda ke kampus dari rumahku yang jauhnya 8 km, kalau anda baru mendengarnya kali ini jangan terkejut, ini cuman masalah kebiasaan aja. Selain itu waktu awal masuk kuliah yang belum punya HP saat itu adalah Ikhsan dan aku. Tapi waktu semester 2 Ikhsan mulai beli HP. Jadi satu2nya anak yang gak punya HP di kelas adalah aku, somehow I wasn’t really bothered by the fact that I’m so different. Kamu bisa bilang kalau aku ini gak punya rasa kebanggaan/harga diri(pride) dan gengsi(dignity) seperti yang orang lain punya. I have my own standard, and what I think deserve is deserve. Everything must be rational, and what I do gotta be something necessary, If I didn’t find the necessity then I won’t do. Fakta lain yang menarik tentang diriku : Aku jarang jalan2 sama temenku, aku nggak pernah nonton bioskop, aku nggak pernah masuk ke Amplaz (biarpun temen2ku banyak yg udah berkali2 keluar masuk sana), aku nggak naik motor karena 3 alasan: 1. Motor dirumah cuman ada 1 (motor dinas) dan itupun biasa dipakai bapakku kalau kerja 2. Aku nggak punya SIM 3. Aku masih takut naik motor di jalan besar (cuman masalah kebiasaan aja).

You see, I’m so different in the way I see the world and the way I move. But I’m not really bothered at all. I’m free to be me. As long as I understand about my self (having self-concept), build my self-esteem (What I think & feel about my self-concept), and I can give some contribution to this world everything would be fine.

Boku wa boku ni wa shinjiru….(I believe in myself…..)

To be continued….