I’ve been walking in the wrong path all this time yeah….

Tulisan ini terinspirasi oleh artikel Perbedaan, Penipuan Ataukah Penyesatan? dari blognya 49

Antara otak dan hati….

Otak adalah logika dan hati adalah perasaan, ya semua orang pasti tahu itu. Tapi tahukah anda apa yang akan terjadi kalau kita terlalu sering memakai otak/hati. Aku sendiri belakangan baru sadar kalau aku ternyata terlalu banyak memakai otak. Kenapa begitu? Begini ceritanya, sejak kecil aku (secara tidak sadar) menyukai keringkasan, efisiensi, dan jalan yang aman dan sesingkatsingkatnya. Hal itu hingga kini masih terbawa-bawa.

Saat ini ada begitu banyak hal yang sedang kukejar, harapan-harapan dan mimpi-mimpiku, entah kecil, besar maupun yang muluk-muluk. Adalah sulit untuk menggapai mereka semua, itu adalah benar. Dan dalam proses penggapaian tersebut sering kali aku mengatur diriku dengan cara seefisien mungkin dan selalu menjaga keseimbangan, bisa dibilang aku ini nggak mau terlalu ngoyo. Namun waktu kemarin aku ngobrol dengan Ipeh ada sesuatu hal yang membuatku tersadar. Waktu itu kami membicarakan masalah hiking, dan sempat aku bilang ke Ipeh "Peh, dulu waktu aku naik ke gunung Merbabu nggak sampai puncak e" terus Ipeh bilang "Aku habis ikut kemah kurang tidur besoknya malah naik gunung Merbabu sampai puncak". Terus aku bilang "Tenane", Ipeh bilang "Tenan", terus aku bilang "Sebenarnya aku juga bisa sampai puncak sih, cuman aku lagi nggak mau maksa tubuhku", Ipeh bilang "Sebenernya masalah semangat sih Dif", aku bilang "Iya, betul juga". Dalam hatiku aku menyadari, betul juga, kata lain dari tidak-mau-memaksa-tubuh adalah tidak-semangat. Hmmmmm… kenapa aku baru sadar yaaa. Kalau dipikir-pikir aku ini terlalu mengejar efisiensi. Aku ingat waktu Nunink pernah bertanya kepada pak Zaenal Muttaqien saat kuliah anfisman. Kira-kira Nunink bertanya seperti ini (aku udah agak lupa karena kejadiaannya udah lama banget): "Pak kira-kira bagaimana pendapat bapak jika kita melakukan kegiatan secara berlebihan dan dibantu dengan kekuatan semangat". Terus bapaknya menjawab kira-kira begini "Kalau kita kita melakukan kegiatan secara berlebihan, tentu itu akan merusak sel-sel kita dan sebaiknya jangan dilakukan." Jujur saja hati kecilku saat itu berkata "Jawaban yang kurang memuaskan".

Tahukah anda bahwa sel-sel dalam tubuh kita memiliki begitu banyak batasan, salah satu batasan yang ada adalah banyaknya suatu sel dapat membelah. Setiap sel stem (sel induk/ sel yang belum mengalami diferensiasi) memiliki kromosom yang mana terdapat telomere yang terbatas panjangnya. Hal ini menyebabkan banyaknya pembelahan sel yang benar-benar sukses menjadi terbatas. Jika telomer telah habis maka hasil pembelahan selanjutnya akan menghasilkan sel-sel anak dengan kromosom yang tidak komplit (mengalami pemendekan) hal inilah yang disebut dengan penuaan. Jika kita terlalu sering memaksakan tubuh kita maka secara otomatis kita akan sering merusak sel, sebagai akibat jangka pendeknya adalah kita akan jatuh sakit, akibat panjangnya sel kita akan lebih sering membelah untuk menggantikan sel-sel yang rusak, dan karena sering membelah artinya kita memperpendek usia kita.

Disitulah letak efisiensiku, aku terlalu berusaha menjaga agar aku selalu sehat dan panjang umur. Tetapi untungnya disini ada banyak teman-teman yang menginspirasikan aku seperti Arko, Ocha, Verda, Nunink, Ipeh. Mereka adalah orang-orang yang kutahu mau untuk mengorbankan waktu dan energinya demi mendapatkan apa yang mereka inginkan (tentu saja masih banyak teman-temanku yang lain yang memiliki semangat yang luar biasa hanya saja diluar pandanganku, hihihi). Mereka adalah orang-orang yang mau menggunakan hati (baca: semangat) daripada otak (baca: logika). Aku punya cita-cita yang besar, oleh karena itu logikaku yang berlebihan hanya akan menghambat diriku dalam mencapai tujuanku yang besar itu.

Tapi bagaimana caranya menggeser proporsi penggunaan hati-otak ku? Aku pun mulai berusaha mencari jawaban, dan jawaban yang cukup mengena kudapatkan dari Arko. Arko bilang "Kita harus sering-sering memaksakan tubuh kita secara berulang-ulang, kalau sudah down berhenti sebentar, kalau bisa dipaksa ya dipaksa lagi terus menerus. Kalau sudah begitu nanti lama-lama semangat kita akan lebih tahan lama (berstamina red.)." Hmmmm betul juga pikirku. Aku harus lebih sering menggunakan hatiku ketimbang otakku jika aku benar-benar ingin mencapai apa yang aku impi-impikan. Kini aku benar-benar sadar bahwa cara yang efisien bukanlah cara yang terbaik, tapi cara yang maksimum adalah cara yang terbaik. Tidak peduli apakah nanti tubuhku akan sering sakit-sakitan dan umurku memendek, aku harus berjuang sebaik mungkin, SEMANGAT!!! Seperti kata Benjamin Franklin "There are no gains with no pains".

Terima kasih kepada teman-temanku Arko, Ocha, Verda, Nunink dan Ipeh yang telah memberiku inspirasi sehingga aku mendapatkan petunjuk setelah tersesat sedemikian lama.

Everyone is doing their best, then so do I…. for the sake of my mission.

PS: Aku nggak mau ada yang salah sangka dengan pola pikirku tentang masalah umur. Mungkin setelah membaca tulisanku diatas ada yang berpikir begini "Loh umur itu khan sudah ditentukan (baca: ditetapkan) sama yang diatas" maka aku akan jawab "Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga kaum itu mau merubahnya sendiri". Menurutku yang dimaksud dengan ditetapkan / ditentukan itu adalah telah ditetapkan konstantanya, nah variabelnya ada pada kita sendiri. Misalkan saja persamaan untuk umur adalah y = 32a + (4b x 2 c), dimana y adalah umur kita, sedang a, b, dan c adalah tindakan-tindakan yang pernah kita lakukan seumur hidup kita. Jadi umur bukanlah sesuatu yang tetap. Aku harap sih nggak ada yang offense, tapi kalau punya pendapat sendiri ya monggo.