Sekitar setengah jam sebelum pretest praktikum Teknologi Farmasi Sediaan Padat pertamaku…..

1ofmyfriend : Udah belajar Dif?
iamnobody : Yah baru dikit, hehe…
iamnobody : rasanya deg-degan nih, baru pertama kali sih. Yang pretest sama dosennya langsung khan?
1ofmyfriend : Iyah…
*pause*
1ofmyfriend : Udah belajar Dan? (Nama sebenarnya disamarkan)
anotherfriend : Belum….
1ofmyfriend : *skeptic*
iamnobody : *skeptic too*

Dan saatnya pretest dimulai…. pretest praktikum dilaksanakan oleh dosen secara lisan. Setiap anak ditanyai perihal praktikum yang akan dilakukan. Alhamdulillah… aku bisa menjawab dengan cukup lancar, sedangkan Dani bisa lebih lancar lagi, dia bisa menjawab setiap pertanyaan dari pak Dosen. What the…. I knew I shouldn’t believe him.

1ofmyfriend : Gileee si Dani ternyata malah bisa njawab semuanya…
1ofmyfriend : Bo’ong banget berarti tadi dia ya
iamnobody : Iyah
1ofmyfriend : Tapi emang banyak khan di Farmasi yang kek begitu…
iamnobody : Iyah, Toni, Roni, Doni, Boni, Soni…. (Semua nama samaran)
1ofmyfriend : Kenapa ya mereka kok bo’ong kek gitu…
1ofmyfriend : Apa sih susahnya bilang “iya udah belajar”, ck ck ck…
iamnobody : Iya…
iamnobody : Toh gak ada ruginya bilang kayak gitu.
iamnobody : Aku kalo’ ditanyain gitu, bilang aja apa adanya…
iamnobody : Terus kalo’ masih belum apal ato paham yah bilang aja belum apal ato paham.
1ofmyfriend : Sama aku juga…

Yeaah…. itu tadi sekilas kehidupan sehari-hari di Kampusku. Heran deh…. apa susahnya berkata jujur. Kayaknya takut banget dibilangin disorakin “Wueeee udah belajar!”. Dasar pengecut! Ngadepin kek begituan aja udah kaya’ cecurut, sampe nutupin pake bo’ong segala. Anyway…. di lain sisi, kebohongan mereka itu telah menimbulkan masalah yang tidak nampak di permukaan tapi benar-benar ada di dalam setiap orang yang berinteraksi dengan mereka. Percaya atau tidak, hal ini menimbulkan false belief pada para mahasiswa. Kenapa begitu? Berkat mereka (yang kebanyakan mahasiswa yang rajin belajar namun tidak mau mengakui alasan dibalik kesuksesannya) para mahasiswa yang lain beranggapan bahwa “Success people are born not created through the path of hard work”. Hal ini justru membuat mahasiswa berpikir (secara tidak sadar) bahwa mereka sendiri adalah inferior dan mereka yang “KATANYA tidak pernah belajar” adalah para superior yang bisa meraih IP tinggi tanpa banyak bekerja keras. Yang pada akhirnya membuat mereka sendiri merasa hopeless, kurang PD, dan yang lebih parah lagi malas belajar!

Beneran neh pada ga’ belajar? BULLSHIT!!! There’s no such thing as doing nothing then you got what you want!

Kalo udah belajar bilang aja udah belajar, kalo udah paham dan apal bilang aja udah apal, kalo baru separo bilang aja baru separo. Gitu aja kok repot. Ngerusak pikiran orang lain aja. Baiklah…. mungkin anda sekedar merendah saja, tapi kalau merusak pikiran orang lain apa bagus tuh. Sadarlah meskipun sepele namun karena pelakunya banyak dan dilakukan secara berulang-ulang, tidak peduli seberapa sadar sang korban mereka akan terprogram alam bawah sadarnya. Biasanya apa yang anda tanam adalah apa yang anda tuai, tapi kali ini apa yang anda tanam adalah apa yang orang lain tuai. Bagi anda yang merasa dan anda tidak mau berubah juga, maka anda adalah orang yang egois, apapun alasan anda. Dan bagi anda yang merasa inferior sadarlah bahwasanya semua orang meraih yang diinginkan karena mereka benar-benar bekerja keras bukan karena kejeniusan mereka.

Another day…. mau pretest praktikum Teknologi Sediaan Farmasi Padat lagi

1ofmyfriend : Udah belajar Dif?
iamnobody : Yah lumayan…. *sambil membaca buku petunjuk praktikum*
iamnobody : Tapi gak dong dong
iamnobody : Kamu?
1ofmyfriend : Udah… *sambil membaca ringkasan kecil buatannya*
1ofmyfriend : Hey Dan udah belajar?
anotherfriend : Belum… *straight-faced*
iamnobody & 1ofmyfriend : BO’ONG!!! *serentak*
anotherfriend : *diam seribu bahasa ~ with his impassive face*

Like hell I would get fooled over and over. Hehehe…. lucunya kejadian ini terus berulang di pretest praktikum lainnya. Heran deh ga’ jera-jera juga. Udah habitual kali yak?