Sebelum membaca tulisan ini anda diharapkan sudah membaca “Mikirin Ceweeeek Mlulu Part 1, Part 2, dan Part 3” terlebih dahulu, mengingat mata kuliah tersebut adalah mata kuliah prasyarat sebelum mengambil mata kuliah ini ceritanya saling berkaitan satu sama lain.

Hehe… bagi para pembaca budiman yang sudah pernah membaca tulisan saya yang “part 1-3” pasti sudah penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Baiklah, saya akan mulai bercerita. Ehm. Kemarin senin saya mulai mengurus KRS namun karena kemalasan saya yang luar biasa saya baru bisa bertemu dengan dosen p.a. saya pada siang hari pukul satu, nah waktu saya tanyakan apakah ada waktu atau tidak, beliau menjawab bahwasanya beliau sedang akan menghadiri rapat dan rapat tersebut baru selesai jam setengah tiga, jika tidak besok juga bisa pukul sembilan pagi juga bisa. Oh baiklah sayapun akhirnya berjanji akan menemui beliau pukul sembilan pagi besok. Saya tidak mau menemui beliau pukul setengah tiga nanti, maklum saya sudah kadung malas, udah low energy, bawaannya pingin pulaaaaang mlulu.

Keesokan paginya saya sudah lebih bersemangat daripada hari sebelumnya, saya mencoba untuk tepat waktu, saya berangkat ke kampus pukul delapan lebih seperempat dan sampai di kampus sekitar pukul sembilan. Setelah sampai di kampus menenangkan diri dulu sebentar di depan BEM karena masih ngos-ngosan setelah naik sepeda tadi, setelah cukup tenang saya segera menuju Unit V. Sesampainya di unit V saya menyegerakan diri naik ke lantai dua, lantai dimana terdapat ruangan bu Nunung. Hmmm….. yang saya lihat hanyalah tasnya saja, berarti bu Nunung sudah sampai disini, tetapi… dimanakah beliau? Sayapun langsung turun untuk bertemu dengan mbak Nita untuk menanyakan keberadaan beliau, ternyata mbak Nita juga tidak tahu menahu, ya sutralah sayapun menunggu dengan tenang di lantai dua.

Selagi menunggu beliau saya berusaha mengisi waktu luang dengan menuliskan segala hal yang sedang melintas di benak pikiran saya dalam buku “segalanya”, buku dimana saya menuliskan semua hal yang saya anggap penting, beberapa diantaranya adalah diary saya. Saya menuliskan mengenai target IP saya yang harus ditingkatkan, sebelumnya saya sudah menetapkan target IP yang cukup tinggi yakni 3,X, namun karena saya merasa kurang akhirnya saya meningkatkan lagi IP saya menjadi 3,YZ. Selain mengenai IP saya menuliskan perihal permasalahan pribadi saya dengan si dia. Malam sebelumnya kami sempat komunikasi lewat ******************** (maaf saya sensor untuk menjaga kerahasiaan), dan dia sempat menanyakan “apakah kamu masih anak-anak?” yang tentu saja sempat membuat saya kalang kabut. Dengan menekan ego dan harga diri saya serendah mungkin saya menjawab “Yah, entahlah? Mungkin kamu mengira begitu, ya tidak apa-apa. Mungkin memang demikianlah saya. Masih banyak hal yang harus saya pelajari. Toh, dalam hal seperti itu saya memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kamu.”. Setelah memberikan jawaban tersebut saya segera pulang karena sudah jam 12 malam. Sesampainya di rumah saya merasa sangat mengantuk, saya merebahkan diri saya di kasur saya, mata saya sudah terasa berat….. namun….. saya tidak bisa segera menuju ke alam baka mimpi dikarenakan permasalahan itu tadi. Apa yang membuatnya berkata demikian? Sungguh saya tidak habis pikir….. Ini adalah kali kedua dia menganggap saya kekanak-kanakan. Apakah ini berarti saya membuat kesalahan yang ‘sama parahnya’ dengan apa yang saya lakukan saat itu? Apa ya kira-kira penyebabnya? Apakah karena saya mengingatkan dengan ‘keras’ bahwa ‘jebakan’ yang dia pasang itu adalah tindakan yang tidak benar sehingga membuatnya marah dan menyerang balik saya? Apakah karena saya meminta dia menjaga ‘rahasia’ saya dengan cara yang ‘bodoh’? Apakah karena saya ‘hampir salah’ dalam mendeskripsikan perasaan saya pada ‘orang kedua’? Apakah karena saya memberitahu “adalah konyol bahwa saya pernah curhat dengan dia mengenai flirting dengan dua wanita di saat yang bersamaan, sekarang dia tahu ‘orang kedua’ itu berkat ‘jebakannya’ itu, padahal dia dan ‘orang kedua’ itu adalah teman dekat”? Atau mungkin kombinasi dari ‘karena-karena’ diatas? Entahlah…. satu hal yang pasti, saya benar-benar tidak habis pikir…. sampai-sampai saya tidak bisa tidur sampai pukul dua, hampir dua jam waktu saya saya gunakan untuk memikirkan hal tersebut, sehingga saya hanya bisa tidur empat jam (normalnya saya tidur 6-8 jam). Menyesal juga…. kenapaaa saya tadi tidak sekalian menanyakan alasan dibalik pertanyaannya itu. (note : ternyata setelah saya selesai mengurus KRS dia menarik kembali ucapannya semalam, dia bilang setiap orang ada masanya sendiri-sendiri, masa-masanya sendiri katanya? Apalagi ini? Ah sudahlah saya sudah malas mengurusnya, saya sudah tidak mau mempermasalahkan hal itu lagi, kesimpulannya ini semua adalah salah paham). Eh kamu, iya kamu yang aku maksud, kalo masih mau ngebahas permasalahan yang kemaren jangan ditaruh di comment blog ini ya. Pake message aja OK. Tapi kalo kamu memang bener2 menarik ucapanmu itu ya aku sebenernya udah gak mau ngebahas lagi, it’s up to you lah.

Setelah selesai menulis hal-hal yang melintas di benak saya perasaan saya jadi sedikit lebih lega. Tak lama kemudian ada suara langkah kaki yang berasal dari tangga, dan saya harap itu adalah suara langkah kaki dosen p.a. saya. Tapi…. kok ada suara obrolan bernadakan kaum Adam? Oalaaah ternyata mas Dana dan mas Wisnu, dan ternyata mereka sedang ingin berkonsultasi mengenai skripsi mereka ke bu Nunung pula. Sempet ngobrol sebentar dengan mereka berdua, tak lama kemudian yang sudah ditunggu-tunggu datang juga. Sebelum saya masuk sudah ada mbak yang ternyata juga mau KRS-an dengan bu Nunung, sayapun ikutan masuk ke dalam dan selagi mbak itu mengurus KRS-nya bu Nunung bertanya kepada mbak itu apakah ada masalah dalam proses kuliah? Lalu mbak itu menjawab “Alhamdulillah tidak ada bu.”, sempat terlintas dibenak saya jikalau bu Nunung menanyakan hal yang sama maka saya akan menjawab “Iya bu, masalah jodoh” LOL.

Kemudian tibalah saatnya saya duduk didepan bu Nunung untuk meminta tanda tangan beliau, dan tahukah anda…. ternyata beliau menanyakan hal yang sama seperti yang ditanyakan ke mbak tadi. Dan dengan luwesnya mulut saya menjawab “Iya bu, masalah jodoh”. Doh! Heran juga…. kok kata-kata tersebut bisa keluar dengan mudahnya dari mulut saya. Lalu bu Nunung memberi saya begitu banyak nasehat yang berharga. Saya tidak bisa mengingat semua yang beliau katakan apalagi urutan kata-katanya. Maka dari itu saya tuliskan hal-hal penting sejauh yang saya ingat , point-point penting yang beliau sampaikan yakni:

1. Jodoh itu tidak perlu dicari, biarkanlah mengalir dengan sendirinya. Karena jika kita berusaha mencari hanya akan membuang-buang banyak waktu dan energi kita, yang pada akhirnya akan menghambat perkembangan diri kita. Yang penting kita mendewasakan diri kita dulu, mengembangkan jaringan kita seluas mungkin, dan jangan lupa berdoa kepada Tuhan agar diberikan jodoh yang terbaik untuk diri kita.

2. Kembangkan jaringan seluas mungkin. Ikut berorganisasi dan kepanitiaan sehingga dapat berkenalan dengan berbagai macam orang dengan karakter yang berbeda-beda. Semakin banyak kenalan semakin baik karena akan meningkatkan probabilitas kita dalam menemukan jodoh kita.

3. Jika sudah mendapatkan teman (lawan jenis) yang dirasa cocok, bisa klop dalam banyak hal, kita bisa membuat komitmen bersama. Dan dalam prakteknya bu Nunung dahulu waktu masih dekat dengan cowoknya dulu (sekarang sudah menjadi suaminya bu Nunung) beliau melakukan “pacaran yang dewasa”. Loh apakah pacaran yang dewasa itu? Konsep yang ditawarkan oleh bu Nunung betul-betul menggugah hati saya, jadi begini…. jika kita sudah menemukan orang yang “dirasa tepat” kita bisa membuat komitmen bersama untuk saling menunggu untuk mendewasakan diri dulu. Berbeda halnya dengan pacaran yang kebanyakan hanya untuk senang-senang, bercanda bersama setiap malam minggu, hugging lah, cuddling lah, cipika-cipiki lah, kissing lah, etc etc etc….. dan masih banyak lagi. Dalam pacaran ini kita bisa berjanji satu sama lain untuk menunggu hingga waktu yang tepat sehingga bisa melanjutkan ke komitmen yang lebih tinggi lagi (pernikahan -red.). Namun bukan berarti dalam proses menunggu masing-masing hanya mendewasakan diri dan tidak ada komunikasi sama sekali. Dalam proses menunggu ini kita harus saling berkomunikasi dan mencoba untuk terbuka satu sama lain, mendiskusikan hal-hal yang “dewasa”. Kita harus memantau pula keadaan dan kondisi masing-masing. Sehingga terbangun kepercayaan satu sama lain bahwa masing-masing tetap berpegang teguh pada komitmen yang telah dibuat.

Oh ya, mengenai mendiskusikan hal-hal yang “dewasa”. Apakah yang dimaksud dengan hal-hal yang “dewasa” itu? Beliau berkata kita harus membicarakan mengenai “manajemen keuangan yang diinginkan”, “bagaimana cara mendidik & mengasuh anak”, “siapa yang mengurus urusan rumah tangga”, “mau kerja dimana dan tinggal dimana”, dll. Jika ada perbedaan diantara kita dan “calon” kita kita bisa mencoba untuk berkompromi, jika kompromi sulit untuk dilakukan maka ada kemungkinan dia bukanlah “orang yang tepat” untuk kita. Tentu saja tidak berarti bersenang-senang tidak boleh. Hanya saja bersenang-senang itu prioritas nomer dua setelah pembicaraan-pembicaraan yang dewasa.

4. Kedewasaan. Kedewasaan yang dituntut adalah kedewasaan dalam segala hal. Beliau berkata bahwa ada berbagai macam kedewasaan, kedewasaan dalam ekonomi, kedewasaan dalam kebijaksanaan, dll. Hal ini benar-benar sesuai dengan artikel saya yang dulu, dimana saya berteori bahwa setiap orang tumbuh dewasa dengan caranya sendiri-sendiri, tergantung pada kelebihan dan kelemahan yang dibawanya.

Hmmmm… apa lagi ya? Pokoknya banyak deh yang beliau sampaikan kepada saya, maaf saya tidak bisa mengingat semuanya. Dan hei, ternyata beliau jauh lebih bijaksana dari yang saya kira selama ini. Mungkin lain kali jika ada masalah saya curhat saja dengan beliau hehe ^^.

Apa yang dikatakan beliau banyak yang mengena di hati saya…. saya sekarang menjadi lebih mantap dalam hal tertentu, namun juga menjadi luar biasa bimbang pada saat yang bersamaan….

Me : You know what. I’ve been thinking about it over and over.
Me : But, all I feel is nothing but confused.
Metoo : It must be about your soulmate huh?
Me : Yeah….
Metoo : You heard what she said, there’s no need to be so hasty.
Metoo : Be patient Radif…. be patient….
Metoo : It’s unlike that you already in your 30, you still young… there’s much whortier things that you should think about.
Me : I know….
Me : As you can see, I began to keep my impulse in check.
Me : I also began to slowing down my pace, so I can think on the whortier things.
Me : But you know what? Sometimes the feeling that “she is the one” is getting so strong that I can’t help it.
Metoo : How can you be so sure?
Me : I don’t know…. I just feel it….
Me : But at the same time I also feel that it would be better if we just become a friend.
Me : Yeah…. just become a friend.
Metoo : Hey, you’re in doubt I can tell…
Me : Naahh… I just feel tired….
Me : I’ve fought enough to be proud with the pain that I accumulate each day.
Me : Sometimes I just wanna cry…. but I can’t….
Me : I began to lose my confidence and my faith yeah….
Me : I’m not as enthusiastic as I used to be….
Me : But I think that’s good since I can think even more clearly than before.
Me : Now I became more realistic than before.
Me : And because of that now I got confused….
Metoo : Hn… Are you losing your direction or are you losing your way?
Me : I’m losing my way I guess….
Me : I found a blindspot on my old principle…
Me : You see…. I used to think that by having just one girlfriend in a lifetime would pull me away from sin…
Me : Now I know that I was naive…. It’s not that what could pull me away from sin…
Me : It’s the way that I use when I’m interacting with my girlfriend.
Me : Although that I have such principle, if I’m hugging and kissing my girlfriend then what is the point?
Me : Furthermore… if we doing that in such a very long period, four, five, or even seven year maybe?
Metoo : You begin to realize your own stupidity huh?
Me : Yeah I am.
Me : Maybe she was right…
Me : Maybe I should do this with her way…
Me : Maybe I should be a boyfriend in an adult way…
Metoo : Hope you can find your “adult girlfriend” ^^
Me : Yeah….

Hmmm…. sejujurnya sampai saat ini saya masih bimbang dengan saran yang diberikan beliau. Taulah? Yang penting saya berusaha untuk open-minded. Tapi sejujurnya hati saya masih agak tertutup untuk saat ini. Kenapa? Kalau boleh jujur saya yang sekarang masih belum begitu takut dengan yang namanya dosa. Jika anda bertanya apakah saya tidak takut dengan neraka maka saya akan diam dalam waktu yang lama karena hati kecil saya berani bicara bahwa saya tidak takut neraka karena saya nyaris kehilangan keyakinan saya terhadap Tuhan sejak pertengahan semester kemarin. Meskipun saya sholat lima waktu namun iman saya masih setengah-setengah. Oh, pardon me my Lord for losing my faith on you, would you give me some direction pleeeeaaase…..

Got to FIX MY IDEA…. soon….