Hari selasa setelah aku menemukan rute terpendek menuju UPN Veteran di jalan ring road utara aku menuju ke kampus untuk belajar sebelum mid. Sesampai di kampus aku mengurusi slide show PIO untuk research week bersama Arif. Setelah urusan PIO selesai aku bergegas menuju perpus, disana kulihat Joko sedang belajar untuk ujian TFS CSP nanti. Akupun menghampirinya, dan kamipun sempat ngobrol-ngobrol, kebanyakan mengenai Naruto. Lalu akupun bercerita kepada Joko bahwa aku baru saja mengambil “side-trip” melewati UPN Veteran. Lalu Jokopun bercerita kalau dia pernah mengitari ring-road satu putaran penuh dengan bersepeda, hohoho… Padahal saat itu bulan puasa, dan lucunya saking capeknya dia sempat berhenti di halte bus depan UPN Veteran untuk tidur, haha. Jokopun sempat bertanya padaku apakah aku melewati “Makro” atau tidak? Mmm..? Makro dimana itu? Sepertinya aku pernah dengar. Selain itu Joko bercerita bahwa dia pernah bersepeda menyusuri jalan Kaliurang, dan katanya dia sudah berhasil mencapai UII. Karena sudah tidak sanggup naik lagi Jokopun memutuskan untuk balik ke kostnya. Dan saat pulangnya menyenangkan karena sepeda tidak perlu dikayuh.

Mmm… akupun jadi penasaran… kira-kira aku bisa sampai mana ya? Akupun berencana untuk naik ke puncak gunung Merapi Kaliurang dengan Namikaze-ku. Baiklah sudah kuputuskan minggu pagi besok aku akan naik ke Kaliurang.

Minggu 4 November 2007 – Test drive

Meskipun malamnya aku sempat kurang tidur gara-gara browsing dan ym-an ria hingga jam 11 malam semuanya tetap berjalan sesuai rencana, aku bangun pagi-pagi, sholat, qiraah, sarapan, mandi, lalu menyiapkan bekalku yakni segelas air minum mineral. Awalnya aku ingin berangkat jam 6, tapi ibuku melarang karena sedang hujan. Akupun kemudian tetap ngotot karena hujannya hanya gerimis, tetapi tetap saja tidak boleh. Akhirnya aku menunggu sebentar, dan akhirnya setelah tinggal gerimis rintik-rintik akupun berangkat. Oh iya, sebelum berangkat aku meminta uang saku kepada ibuku, mengingat uang sakuku tinggal 2000. Aku minta 8000, tapi hanya diberi 3000. Yah, lebih baik daripada tidak sama sekali.

Akhirnya akupun berangkat meninggalkan rumah sekitar jam 6.15, dengan keadaan hujan rintik-rintik yang sesekali menjadi gerimis yang masih bisa ditolerir. Pada awalnya aku mengikuti ruteku menuju ke kampus, kemudian sesampai di kampus aku berhenti disana untuk buang air kecil lalu akupun melanjutkan perjalanan menuju ke jakal. Di jakal terus-menerus hujan rintik-rintik yang sesekali menjadi hujan gerimis, akupun terus mengayuh sepedaku. Km 7, 8, 9, 10 aku masih kuat, tetapi diatas Km 10 aku sudah mulai kehabisan nafas dan akhirnya pada pukul 8 aku berhasil sampai di kampus UII yang terletak di jakal Km 14,6. Akupun berhenti sejenak di depan kampus UII, kemudian kubuka tasku dan kuambil segelas air mineral yang kubawa dari rumah. Kubuka dengan mencobloskan bolpenku dan kuteguk perlahan-lahan, sambil menenangkan diri ku menunggu sejenak.

Tak lama kemudian aku melanjutkan perjalananku… meskipun sudah kuset ke gigi terendah namun tetap saja terasa berat mengayuh sepedaku. Seringkali aku berhenti di jalan untuk beristirahat atau menuntun sepedaku jika tanjakannya terlalu tinggi… kemudian aku menyadari kesalahanku, ternyata giginya masih bisa diset ke yang lebih rendah lagi. Selama ini yang kuset adalah gigi belakang, namun gigi depan belum kuset yang terendah. Akhirnya kuset gigi depan ke yang terendah. Perjalanan terasa lebih ringan namun tetap saja setiap kayuhan yang kulakukan terasa berat sekali. Akhirnya aku mencapai Km 20.8 dimana terdapat sebuah masjid bernama Nurul Fatah di sebelah kanan jalan. Aku sudah tidak sanggup lagi akhirnya akupun memutuskan untuk balik.

Saat aku turun kebawah sepedaku melaju dengan kecepatan yang luar biasa cepatnya, belum pernah aku bisa turun secepat itu. Bahkan mobilpun bisa kusalip, jikalau ada spedometer mungkin kecepatan sepedaku mencapai 80km/jam atau lebih. Hohoho… Tetapi setelah melewati UII sepedaku tidak bisa melaju dengan kencang lagi mengingat turunannya mulai landai.

Mendekati perempatan di ring-road ternyata tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang, awalnya kukira seorang teman. Tetapi ternyata Pak Gendon dan Bu Lia bersama anaknya Rizki, mereka adalah kerabat jauh bapakku. Mereka baru dari tempat saudaranya di daerah Mbesi, Mbesi? Dimana itu? Entahlah… Kami sempat ngobrol sebentar kemudian pak Gendon dan keluarganya pergi duluan.

Setelah mencapai perempatan aku belok ke kiri karena aku ingin menjelajahi ring-road timur dengan Namikaze-ku. Perjalanan dari perempatan jakal dan pojok ring-road cukup jauh juga, mana perutku sudah mulai keroncongan lagi… kemudian setelah melalui pojok ring-road aku mulai memasuki daerah ring-road timur, tidak jauh dari pojok ring-road aku melihat papan besar bertuliskan “Makro”. Oooohhh, jadi ini to yang dimaksud Joko, perasaan kemaren abis menjenguk Itung lewat sini tapi kok lupa ya? Kulanjutkan perjalanan hingga jalan Adisucipto kemudian melewati Jl. Janti dan akhirnya aku sampai dirumah, heuuuhhh. Aku sampai di rumah jam 10, itu artinya 3 3/4 jam perjalanan. Perutku sudah lapar jadi aku makan lagi, hohoho… sarapan dua kali.

Kali ini aku gagal mencapai Kaliurang, tapi lain kali mungkin akan berhasil…

Kamis 8 November 2007 – Finally I made it!

Aaahhhh… lagi-lagi aku kurang tidur gara-gara nulis blog yang #1 & #2 chapter. Mana nanti siang mau ketemuan sama Harianto dan Wahyudi untuk mengerjakan laporan tekkim… Selain itu aku seharusnya membeli kertas folio bergaris, ah sudahlah… akan kubeli sepulang dari Kaliurang nanti (itupun kalau aku berhasil mencapai Kaliurang).

Biarpun aku tidur dari jam 12 sampai jam 4, aku tetap ingin melanjutkan rencanaku dalam menggapai Kaliurang. Kali ini aku sudah tahu apa yang akan kuhadapi, aku sudah tahu seberapa banyak stamina yang harus kupertahankan saat mendaki nanti.

Segera setelah bangun aku segera ke ruang makan untuk melihat apakah ada makanan atau tidak. Dan ternyata tidak ada, akhirnya aku memutuskan untuk menggoreng tahu sendiri. Kemudian selesai menggoreng akupun makan seadanya, yakni dengan nasi plus kecap dan tahu goreng. Jika dipikir-pikir sudah 4 hari aku tidak makan sayur ataupun daging, paling-paling nasi, kecap, mi rebus, tempe, tahu dan telur. Yang lebih konyol lagi karena aku sedang sakit kegatelan gatal-gatal akupun harus meminum CTM dan Dexametason setiap setelah makan. Hmm… memaksakan tubuh dibawah pengaruh CTM? Bodoh juga…

Setelah makan akupun baru sholat, qiraah, mandi. Dan tak lupa akupun menyiapkan bekal, kali ini aku membawa 2 gelas air mineral, karena menurutku jarak tempuhku akan lebih jauh ketimbang kemarin. Jam 5.45 aku berangkat dari rumah. Jikalau kemarin aku baru menggunakan gigi terendah saat sudah sampai jakal, kali ini aku menset gigi terendah untuk yang depan sedari awal berangkat, sedangkan untuk yang belakang nanti saja.

Berbeda dengan kemarin minggu, suasananya cerah… awan yang terlihat hanya sedikit. Oleh karena itu kali ini akupun hanya memakai kaos, jaketku kusimpan didalam karena aku takut kepanasan.

Jalur yang kutempuh sama seperti kemarin, jadi akupun mampir lagi ke kampus untuk buang air kecil lagi hehe ^^. Waktu di kampus ada yang berbeda… kali ini sedikit lebih ramai ketimbang kemarin minggu, ya iyalaaaahhh, secara nanti masih ada ujian. Kemudian aku mengayuh Namikaze hingga UII dan disana aku beristirahat sejenak… meneguk air minum yang kubawa dari rumah sambil meregangkan otot-ototku yang sudah mulai kaku. Berbeda dengan sebelumnya kali ini aku tidak begitu kecapekan, kurasa karena aku sudah menset gigi terendah sedari awal. Selain itu udaranya terasa jauh lebih panas dibanding saat kemarin minggu. Langit tidak tertutupi seluruhnya oleh mega, yah setidaknya aku tidak akan kehujanan saat pulang nanti.

Aku terus mengayuh sepedaku, berbeda dengan sebelumnya kali ini aku tidak perlu sering-sering turun untuk istirahat. Karena sedari awal aku mengeset gigi terendah, aku jadi tidak mudah capek, meskipun kecepatanku menjadi lambat tapi tak apa lah. Nampaknya strategiku menghemat stamina cukup berhasil. Dan akhirnya dengan susah payah akupun berhasil mencapai km 20,8, yups! Checkpoint terlalui, kini menuju target selanjutnya yakni gerbang wisata Kaliurang. Akhirnya setelah melalui km 20,8 staminaku mulai habis, seringkali aku harus berhenti untuk beristirahat… Setiap kali aku merasa sangat lelah aku selalu teringat pada diskusiku dengan Ipeh mengenai pendakian gunung sehingga semangatkupun kembali lagi, makasih ya Peh! ^^ Semangat = Mau memaksakan tubuh.

Akhirnya aku sampai di km 21,5 jalannya lurus, dan dari kejauhan terlihat gerbang wisata Kaliurang… Akhirnya! Aku berhasil mencapai gerbang wisata! Tetapi meskipun semangat membara aku tidak mau mempercepat laju sepedaku, ya, staminaku harus tetap dipertahankan agar aku bisa mencapai tujuanku, disini otakku ikut berperan penting. Ada pelajaran berharga yang bisa diambil disini, yakni meskipun kita sangat bersemangat kita tidak boleh bergerak dengan tergesa-gesa, hati saja tidak cukup, otak juga harus ikut bekerja menjaga tingkah laku kita agar kita bisa mencapai tujuan kita.

Sesampai di gerbang dengan nafas yang ngos-ngosan aku bertanya pada bapak penjaga pintu gerbang “bayar pak?”, lalu bapak itu menyuruhku untuk langsung masuk. Hmmm… ternyata untuk pengendara sepeda gratis to. Aku baru tahu… Mungkin lain kali kalau aku dan teman-temanku ke Kaliurang aku naik sepeda saja biar gratis LOL.

Kulanjutkan perjalanan dengan kayuhan yang luar biasa berat, disini sudah tidak ada lagi jalan yang landai, semuanya curam dengan kemiringan lebih dari 20 derajat. Well that’s hard to tolerate. Akupun harus sering-sering turun dari sepedaku dan menuntunnya jika jalannya sudah terlalu curam.

Oh ya, aku sempat lewat depan RSJ Pakem untuk anak-anak dengan keterbelakangan mental, dan di sebuah taman di RSJ tersebut banyak anak-anak yang berkumpul. Pada tempat duduk itu ada yang mengangkat tangannya dan berteriak padaku “Mas!”, lalu aku menyahutnya dengan mengangkat tanganku dan berteriak “Yo!”, lalu anak itu berkata pada temannya “Apiik, apiiik”. Entah apa maksudnya? Who cares… At least anak itu tidak misuh-misuh seperti waktu jaman aku SMA dulu. Aku masih ingat setiap kali aku lewat situ bersama teman-temanku aku dan teman-temanku sering dipisuhi dengan *Maaf* asu dan bajingan. Dan kali ini aku tidak dipisuhi, baguslah…

Dan akhirnya dengan perjuanganku yang keras aku berhasil mencapai km 25,5. Perlu anda ketahui Kaliurang terletak di km 26. Taman bermain berhasil kulalui dan akhirnya aku sampai! Hohohoho… perjuanganku selama ini tidak sia-sia, puas rasanya… sampai di Kaliurang dengan bersepeda yang jaraknya kurang lebih 30 km dari rumahku, nanjak lagi!

Setelah mencapai jalan Telogo putri akupun memutuskan untuk kembali, kulihat jam di sebuah toko menunjukkan pukul 9.00. Mmmm… aku janjian dengan Harianto dan Wahyudi jam 10.00, berarti masih sempat. Akupun menuruni jalanan yang begitu curam, dan tahukah anda? Adalah bodoh menuruni jalanan yang curam dengan rem yang blong bukan? Dan itulah tindakan yang aku lakukan, aku sempat agak panik karena tidak bisa berhenti. Untungnya ada perempatan di depan taman bermain sehingga aku bisa mengambil jalan naik dan menghentikan sepedaku, dan akhirnya diriku dan Namikaze-ku terselamatkan. Fiuuuhhh… That was so close… Alhamdulillah… Untung saja jalanan sedang sepi, kalau tidak kalian mungkin harus mengunjungiku di RS jiwa.

Tidak mau mengulangi kesalahan yang sama akhirnya aku memutuskan untuk berhenti sejenak dan memperbaiki rem sepedaku yang blong. Dengan peralatan dari jaman batu yang kutemukan di pinggir jalan akhirnya akupun berhasil memperbaiki rem sepedaku yang rusak. Akhirnya akupun bisa melanjutkan perjalananku dengan lebih nyaman. Tetap saja akupun harus selalu mengerem karena jalanannya yang berkelok-kelok. Hohoho… disini aku bahkan bisa melaju dengan kecepatan yang lebih cepat lagi dibanding kemarin minggu. Dan bagian yang paling kusuka adalah saat melewati gerbang wisata, secara jalanannya cukup curam dan luruuuuss, sehingga aku bisa melaju sesuka hatiku.

Alhamdulillah perjalananku cukup lancar, hanya saja kaosku baunya bukan main hehe. Kaosku benar-benar basah kuyup gara-gara perjalanan tadi. Namun hembusan angin yang didapat saat menuruni jakal bisa mengeringkannya dengan cepat, kecuali… bagian yang tertutup oleh tas ranselku.

Setelah sampai di daerah UGM akupun menyegerakan diri menuju kopma UGM untuk membeli folio bergaris. Disana aku sempat bingung apakah aku harus membeli minum dan makanan atau tidak, karena seperti kemarin minggu aku merasa sangat lapar setelah perjalanan tadi. Ah sudahlah aku beli di kantin Farmasi saja, lebih kenyang dan lebih murah.

Dari kopma aku langsung menuju neraka dunia bernama kampus kampus Farmasi tercinta. Disana aku segera menuju PIO dan kulihat ada mas Roes, ah sedang bermain Pokemon ternyata… Kulihat jam, ternyata sudah menunjukkan pukul 10.15. Hmmm… Harianto sama Wahyudi dah dateng belum ya? Akupun menitipkan tasku di PIO dan menyegerakan diri menuju perpus, aku cari-cari mereka belum ada. Mmm… sebaiknya aku mengisi perutku dulu di kantin, akupun mengambil nasi, capcai dan sate usus, untuk minumnya aku pesan milo hangat favoritku. Akhirnya… setelah 4 hari aku tidak makan sayur aku bisa makan sayur juga ^^.

Lagi-lagiii aku sarapan dua kali, puas! Setelah makan akupun kembali ke PIO, waktu itu mas Roes sempat membuka profilenya dan melihat komen yang ada, dan disitu tertulis “Happy birthday”, aku pikir ulang tahunnya mas Roes besok. Ealaaaaahh, ternyata hari ini hohoho… aku baru nyadar setelah mas Roes pergi, lalu aku membuka fs-ku dan membuka bagian New Birthday. Dan ternyata mas Roes ulang tahun hari ini, doh. Lalu aku ym-an sama Verda, Arif, Adit, dan Anung. Sempat datang Ipeh dan mbak Ade, mereka membawa selebaran yang berisi perayaan ulang tahun mas Roes. Mereka bertanya “Dimana mas Roes? Tadi dah kesini belum?” Lalu aku jawab “Ada tadi, tapi dah pergi.”. Mbak Ade sempat bertanya “Kok mukamu kusut banget sih Dif”, lalu kujawab “Mbak gak bakal percaya aku habis ngapain”, lalu mbak Ade bilang “emang gak bakal percaya”, terus kubilang “Aku abis dari Kaliurang nyepeda”. “Hah! Ke Kaliurang naik sepeda? Ngapain?” Tanya Ipeh kaget, “hehe, main-main ajah, sekali-kali” jawabku.

Yups, aku ini emang dah gila. Apa sih sebenernya tujuanku naik kesana? Ada banyak tujuan yang ingin kucapai. Yakni ingin tahu sampai sejauh mana tubuhku ini bisa dipaksakan, aku ingin mencoba-coba sekali-kali untuk mencapai keatas sana agar aku punya cerita untuk diceritakan seperti pada saat ini ^^, aku ingin menggapai kepuasan yang didapatkan saat aku menggapai hal-hal yang sulit untuk diraih. Anda tahu khan bagaimana rasanya berhasil mencapai sesuatu yang sangat sulit diraih, luar biasa bukan? Saya bisa, andapun bisa! Janganlah anda takut mencoba hal yang baru, hal-hal yang biasanya dianggap mustahil adalah hal-hal yang belum dicoba. Jika anda gagal ada tiga kemungkinan kenapa anda bisa gagal, yang pertama adalah karena anda kurang keras dalam berusaha, kemungkinan kedua karena anda memakai cara yang salah, dan kemungkinan yang ketiga adalah gabungan antara dua kemungkinan tadi. Dalam kasus saya, yakni saat saya menaiki jakal di hari minggu saya gagal mencapai Kaliurang karena cara yang salah dan kurang keras dalam berusaha, dan setelah saya memperbaiki keduanya sayapun berhasil mencapai apa yang menjadi tujuan saya.

Mm… selanjutnya jalan-jalan kemana lagi ya? Mengitari ring-road? Ke gua Cerme? Ke pantai Parangtritis? Ke Prambanan? Ntahlah…