Nge-blog Ria After Mid (#5 Chapter – last chapter) ~ Psychopath? Nggaklaaaahh… Stalker? Iya Keknya…

Psikopat? Apa yang terpikir dalam benak anda segera setelah mendengar kata itu? Kalau aku sendiri yang terpikir dalam benak pikiranku adalah orang yang sukanya menguntit orang lain kemudian menerornya. Stalker gitu dech, gak lebih gak kurang.

Kenapa aku ngomongin soal psikopat? Soalnya kemaren aku sempet ngelakuin hal yang aneh yang bikin temenku nanyain “Kamu ini psikopat ya?”. Hohoho… waktu itu aku nggak ngerasa kalau aku ini psikopat jadi ya aku jawab dengan bercanda aja. Sejak saat itu aku jadi penasaran… sebenernya definisi dari psikopat itu apa sich? Dan aku ini psikopat bukan ya?

Didorong oleh rasa penasaranku akupun membuka wikipedia dan mencari tahu tentang psikopat. Berikut definisi psikopat dari Wikipedia :

The prototypical psychopath has deficits or deviances in several areas: interpersonal relationships, emotion, and self-control. Psychopaths lack a sense of guilt or remorse for any harm they may have caused others, instead rationalizing the behavior, blaming someone else, or denying it outright. Psychopaths also lack empathy towards others in general, resulting in tactlessness, insensitivity, and contemptuousness. All of this belies their tendency to make a good, likable first impression. Psychopaths have a superficial charm about them, enabled by their low self-consciousness, a willingness to say anything without concern for accuracy or truth. This extends into their pathological lying and willingness to con and manipulate others for personal gain or amusement. The prototypical psychopath’s emotions are described as a shallow affect, meaning their overall way of relating is characterized by mere displays of friendliness and other emotion for personal gain; the displayed emotion need not correlate with felt emotion, in other words. Shallow affect also describes the psychopath’s tendency for genuine emotion to be short lived and egocentric with an overall cold demeanor. Their behavior is impulsive and irresponsible, often failing to keep a job or defaulting on debts.

Since psychopaths cause harm through their actions, it is assumed that they are not emotionally attached to the people they harm; however, according to the PCL-R Checklist, psychopaths are also careless in the way they treat themselves. They frequently fail to alter their behavior in a way that would prevent them from enduring future discomfort.

It is thought that any emotions which the primary psychopath exhibits are the fruits of watching and mimicking other people’s emotions. They show poor impulse control and a low tolerance for frustration and aggression. They have no empathy, remorse, anxiety or guilt in relation to their behavior. In short, they truly are devoid of conscience. However, they understand that society expects them to behave in a conscientious manner, and therefore they mimic this behavior when it suits their needs.

Most studies of psychopaths have taken place among prison populations. This remains a limitation on its applicability to a general population but that has not prevented fiction writers from popularizing psychopaths in the movies.

Cleckley defined psychopathy thus:

1. Superficial charm and “intelligence”.
2. Absence of delusions and other signs of irrational thinking.
3. Absence of nervousness or neurotic manifestations.
4. Unreliability.
5. Untruthfulness and insincerity.
6. Lack of remorse or shame.
7. Antisocial behavior without apparent compunction.
8. Poor judgment and failure to learn from experience.
9. Pathological egocentricity and incapacity to love.
10. General poverty in major affective reactions.
11. Specific loss of insight.
12. Unresponsiveness in general interpersonal relations.
13. Fantastic and uninviting behavior with drink, and sometimes without.
14. Suicide threats rarely carried out.
15. Sex life impersonal, trivial, and poorly integrated.
16. Failure to follow any life plan.

It has been shown that punishment and behavior modification techniques do not improve the behavior of a psychopath. They have been regularly observed to respond to both by becoming more cunning and hiding their behavior better. It has been suggested that traditional therapeutic approaches actually make them, if not worse, then far more adept at manipulating others and concealing their behavior. They are generally considered to be not only incurable but also untreatable.

Psychopaths also have a markedly distorted sense of the potential consequences of their actions, not only for others, but also for themselves. They do not, for example, deeply recognize the risk of being caught, disbelieved or injured as a result of their behaviour.

Hmmm… bagaimana? Membingungkan bukan? Awalnya aku mencoba untuk menterjemahkan semua kalimat ke bahasa Indonesia, tetapi ternyata sulitnya bukan main. Secara tidak semua bahasa Inggris bisa di-Indonesia-kan hehe ^^.

Ternyata setelah diperhatikan psikopat tidak seperti yang kubayangkan selama ini. Apa mungkin ada kesalahkaprahan dalam masyarakat kita dalam mendefinisikan kata psikopat? Entahlah…

Sekarang mari kita bandingkan 16 ciri-ciri psikopat dengan sifat-sifatku :

1. Pesona dan kecerdasan yang rendah — hohoho… yang ini jelas bukan, aku khan mempesona *haiah*
2. Tidak ada khayalan dan tidak ada tanda-tanda pemikiran irasional — hohoho… aku malah sering berkhayal dan harus kuakui terkadang tindakanku irasional.
3. Tidak ada kegugupan/kecemasan atau gejala-gejala penyakit kejiwaan — Hmm… ternyata kalau aku masih bisa cemas itu malah bagus LOL, kalau gejala-gejala penyakit kejiwaan aku sih ada, khan aku udah mulai ada gejala schizotypal, schizoid, dan paranoid.
4. Tidak bisa dipercaya — Hmm, I’m pretty reliable you know.
5. Ketidakjujuran dan ketidaktulusan hati — Bukan aku banget deh hahaha
6. Kurang rasa penyesalan yang mendalam dan rasa malu — T_T aku malah belakangan ini sering menyesal… kalau rasa malu, meskipun terkadang tindakanku memalukan tapi itu hanya untuk bercanda kok hehe ^^
7. Perilaku antisosial tanpa nampak adanya penyesalan — Nggak banget dech…
8. Kemampuan menilai yang rendah dan kemampuan dalam belajar dari pengalaman yang rendah pula — Yaahh, biarpun kemampuanku dalam menilai nggak top tapi lumayan laaaah, kalau belajar dari pengalaman itu harus!
9. Egosentris patologis dan ketidakmampuan dalam mencintai — Meskipun aku memakai tipe kepribadian paling introvet tapi aku tidak egosentris lho. Kemampuan mencintai? Lagi jatuh cinta malah LOL
10. Secara umum kesulitan dalam memberi tanggapan emosi yang sesuai — hmm… kadang-kadang sih, tapi secara umum masih sesuai kok ^^
11. Kehilangan pengertian/pengetahuan yang mendalam dalam hal tertentu — doh, ini dia… kalau gejala ini aku sih ada… masih normal gak ya?
12. Tidak bisa menanggapi dalam hubungan antar sesama secara umum — masih tanggap kok
13. Perilaku fantastis dan tidak menarik dengan minuman beralkohol, dan terkadang tanpa minuman beralkohol — Mmm… kalau fantastis sih iya, tapi kalau tidak menarik keknya gak dech. Minuman beralkohol? No thanx. Dah pernah nyoba arak bali, bir bintang, brem bali, rasanya gak enak dan panas di tenggorokan kecuali brem bali. Brem Bali enak banget lho hehe ^^
14. Jarang ada yang bunuh diri — nah ini keknya aku juga gak bakalan bunuh diri dech, hahaha… masak gara-gara males bunuh diri dibilang psikopat?
15. Kehidupan hubungan intim tanpa menyangkut orang lain, biasa saja, dan tidak terlaksana dengan baik — Hmm… no comment, pacaran aja belum kok
16. Kegagalan dalam mengikuti segala rencana hidup — biarpun gak semuanya terlaksana tapi lumayan laaahh…

Hmm, dari 16 ciri yang pas dengan aku hanya no.11 dan no.14 hohoho… berarti aku bukan psikopat khan? Aw pleaaaasssee don’t call me psychopath, coz I’m not! T_T

Lalu bagaimana dengan stalker? Stalker dalam bahasa Indonesia mungkin serupa dengan penguntit, tetapi ketika kucek di wikipedia stalker ternyata memiliki definisi yang lebih luas. Berikut adalah definisi stalking yang kudapat dari wikipedia:

Stalking (from Middle English stalk: from Old English bestealcian; akin to Old English stelan to steal) is a legal term for repeated harassment or other forms of invasion of a person’s privacy in a manner that causes fear to its target.

Statutes vary between jurisdiction but may include such acts as:

* repeated physical following
* unwanted contact (by letter or other means of communication)
* observing a person’s actions closely for an extended period of time
* contacting family members, friends, or associates inappropriately

Stalking can also include seeking and obtaining the person’s personal information in order to contact them; e.g. looking for their details on computers, electoral rolls, personal files and other material with the person’s personal details without their consent. Personal details include their date of birth, marital status, home address, email address, telephone number (landline and mobile), where they work, or which school, college or university they go to; and personal information on their family and friends and any other sensitive and confidential information (e.g. medical conditions and disabilities etc.)

* cyberstalking

According to the United States National Center for Victims of Crime, one out of every 12 women and one out of every 45 men will be stalked during their lifetime.

Jika di dalam bahasa Indonesia menguntit berarti terus menerus mengikuti, namun dalam bahasa Inggris stalking berarti mengikuti korban, menghubungi korban (yang tidak diinginkan oleh korban), mengamati tiap gerak-gerik korban dalam waktu yang lama, menghubungi keluarga, teman, atau kolega dengan cara yang tidak sesuai.

Selain itu stalking juga bisa diartikan dengan tindakan mencari data-data pribadi seseorang agar bisa berhubungan dengan mereka. Hohoho… kita semua pernah melakukan hal tersebut bukan? Yaaahhh, setidaknya sampai batasan tertentu. Selama tidak melanggar privasi orang lain, dan tidak merugikan orang lain rasanya tidak apa-apa.

Bagaimana dengan aku sendiri? Ehm… jujur saja belakangan ini aku memang suka mencari data pribadi orang lain, mengamati setiap gerak-geriknya dalam waktu yang lama, dan bahkan pernah memberinya message yang tidak diinginkan. Stalking? Yaahh… mungkin bisa dibilang begitu… aku rasa kita semua juga pernah melakukannya bukan? Hahahaha… gimana mas Roes? Mau bikin pengakuan juga disini? Atau mungkin juga ada pengunjung budiman lain yang ingin mengaku? Hahaha…

So the conclusion is I’m not a psycopath but I’m kinda stalker yeah…

Ingat-ingat ada pepatah yang mengatakan “tak kenal maka tak sayang”, maka kenalilah setiap teman anda dengan menjadi stalker LOL, bertebaranlah kalian para stalker dan tak perlu menjadi munafik LOL again.

End of “Nge-blog Ria After Mid”

2 thoughts on “Nge-blog Ria After Mid (#5 Chapter – last chapter) ~ Psychopath? Nggaklaaaahh… Stalker? Iya Keknya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in: Logo

You are commenting using your account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s