Prelude : It’s been a while that I didn’t post anything in my blog. I’m sorry for taking so long. Well… actually I’ve been writing some, but I decided not to post it due to the low quality of my creation :p, the other reason is because I’m afraid that it will gave me some vulnerability due to my extreme openness like what I did before. Yes, that’s right, its unlike that I post everything that I’ve write (only 19 post out of 40 writing) every of my writing must pass the QC (Quality Control) standard by incubating it for half to two days. That way I can fix if there’s anything that go wrong, if it cannot be fixed then I won’t post it ^^. Sorry Joko-kun for makes you waiting, thanks for paying attention to my blog. As you wish, here’s my newest post after a very looong looong time. And for all of the reader, enjoy it!^^

Prelude : Udah lama aku nggak ngepost di blog ini. Maaf karena terlalu lama nggak ngepost. Sebenernya sih, aku dah nulis beberapa, tapi kemudian kuputuskan untuk tidak mengepostnya karena kualitasnya yang jelek :p, alasan lainnya adalah karena aku takut akan membuatku “rentan” akibat keterbukaanku yang ekstrem seperti yang pernah kulakukan dulu. Yups, itu adalah benar, tidak semua tulisan kupost (cuman 19 yang dipost dari 40 tulisan) setiap tulisan yang kubuat harus melewati standar QC (Quality Control) dengan menginkubasinya selama setengah hingga dua hari. Dengan begitu aku bisa memperbaiki jika ada yang salah, jika tidak bisa dibenarkan maka tidak akan kupost ^^. Maaf Joko-kun karena telah membuatmu lama menunggu, terima kasih karena telah memperhatikan blogku. Seperti yang kau minta, inilah postku yang terbaru setelah sekiaaaaann lama. Dan untuk semua pembaca budiman, selamat menikmati!^^

Kemaren aku sempat menonton sebuah acara infotainment di salah satu stasiun TV swasta ternama, disitu aku mendengar kabar mengenai Dewi Persik dan Syaiful Jamil. Dewi Persik sempat berkata “Kalau memang masih cinta kenapa minta cerai?”. Ho? How ridiculous… aku rasa banyak diantara pembaca budiman yang sudah tahu bahwa cinta saja tidak cukup untuk sepasang kekasih untuk bisa selalu bersama. Ada unsur lain yang dibutuhkan agar mereka selalu bersama. Apa itu? Yups, it’s conformity (baca:kecocokan).

Love & Conformity

Pertama-tama aku ingin menyampaikan teoriku mengenai perjalanan cinta dan hubungannya dengan kecocokan, sebuah pertarungan antara otak dan hati yang akan dijalani oleh setiap insan yang menjalani hubungan eksklusif dengan insan yang dicintai dan mencintainya…

Pada saat awal orang jatuh cinta semuanya terasa begitu indah, segalanya “mungkin”, tidak ada yang tidak mungkin. Saat hubungan berhasil terjalin, dunia serasa milik berdua, and I’m telling you what, Love is blind. Yes love is blind. You can’t see when you’re in love. Kamu bakal merasa bahwa pasangan kamu itu sempurna, kenapa? Itu karena kamu buta, kamu tidak akan bisa melihat apa yang salah pada pasanganmu. But its only in the beginning. Masa “buta” ini hanya akan berlangsung 1-6 bulan (mungkin? aku hanya mengambil kesimpulan dari data-data yang kudapat selama ini). Setelah itu? Otak kita mulai bisa bekerja, meskipun dengan persentase yang kecil. Nah, disaat otak mulai bisa bekerja kita bisa mulai melihat beberapa ketidakcocokan dengan pasanganmu. Tetapi berkat hati (baca: rasa cinta yang besar) kamu yang masih “berkuasa” dalam diri kamu, ketidakcocokan itu dapat ditolerir dan kisah cintapun masih berlanjut.

Seiring dengan berjalannya waktu, perasaan cinta itu secara tidak terhindarkan mulai meredup. Kita mulai memasuki tahap yang kusebut dengan “cinta yang rasional”. Ini adalah masa dimana perasaan kita cukup stabil. Saat memasuki “cinta yang rasional” inilah kita akan tahu apakah kita cocok dengan pasangan kita atau tidak. Masa ini akan terjadi setelah 1-2 tahun setelah komitmen terbentuk. Itulah sebabnya banyak pasangan yang putus setelah 1-2 tahun akibat ketidakcocokan. Kenapa aku menyebutnya “cinta yang rasional”? Itu karena pada masa-masa inilah otak kita dan hati kita bisa berjalan dengan sejajar, otak kita akan mulai mencerna apakah hubungan ini bisa berjalan dengan baik atau tidak? Baik atau tidaknya akan tergantung dari kecocokan yang ada. Jika cocok maka hubungan akan terus dilanjutkan, jika tidak, maka seberapa tidak cocok? Jika hati masih bisa mengalahkan otak maka hubungan masih bisa dilanjutkan (dengan resiko terluka berulang kali tentunya) jika otak bisa mengalahkan hati maka hubungan jelas-jelas tidak bisa dilanjutkan.

For me… I think it’s better if we know we conform to each other before we build our relationship. So, know the one you love better before make some commitment OK! And also, don’t be such in haste. It’ll get hurt, I mean very very hurts, not just for you but also for the one you love if you make the wrong choice.

Love… Is certainly not enough… Oh god… why should you make your slave love someone that don’t conform him/her? How sucks!

P.S. : Anyway its just another of my damn theory that I’ve been build by my own, and I’ve been discuss it with one of my friend and he can’t be more agree with what I’m saying. If you disagree please let me know, but hey, no offense OK!