Kemarin senin siang seperti yang telah dijadwalkan di perguruan PST ’05 diadakan pertemuan rahasia dalam rangka mengembangkan jurus sakti yang sungguh teramat sangat njelimet nan sulit untuk difahami apalagi untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari bagi seorang mahasiswa yang berambisi tinggi, banyak bermimpi, suka berkepala besar, suka senyum dan romantis seperti saya.

Di dalam kelas yang dipimpin oleh pendekar berilmu tinggi yang berwibawa nan jomblo, tersebutlah seorang ‘setan’ yang sedang menyamar menjadi pendekar yang sedang berguru bersama-sama para pendekar (sungguhan, bukan setan yang menyamar!) kepada guru besar BSAS yang memegang gulungan sakti yang bernilai tinggi, konon katanya dengan gulungan tersebut kita dapat menggunakan jurus sakti. Namun jurus tersebut bukanlah jurus untuk mengalahkan musuh apalagi untuk membuat seorang PSK cewek jatuh cinta kepada kita. Melainkan jurus tersebut digunakan untuk menciptakan ramuan super sakti yang memiliki IC50 yang lebih rendah dan LD50 yang lebih tinggi. Begitu hebatnya jurus tersebut hingga sang guru besar BSAS merasa kewalahan untuk menguasainya dan nyaris gila olehnya… Itulah sebabnya… jurus tersebut diberi nama jurus Mbikin Orang Edan atau biasa disingkat dengan MOE…

Nah… kembali ke cerita sang setan yang sedang menyamar tersebut… Tatkala para pendekar yang asli sedang menyimak pendekar-pendekar dari klan 2+1 yang sedang menjelaskan bagaimana teknik-teknik dalam menggunakan jurus MOE tersebut, sang setan ikut menyimak dengan saksama. Sang setan terus menyimak dengan saksama dengan harapan dia pulang dengan ilmu MOE, yang mana pada nantinya akan dia gunakan untuk tujuan yang sungguh amat sangat terlalu keji… yakni untuk menciptakan racun yang paling ampuh dimana LD50 nya begitu rendah hingga LD50 racun lain jauh tertinggal di atas racun tersebut… Kemudian tibalah saatnya para pendekar melakukan pendalaman ilmu, yang istilah kerennya ‘membantai-kawan-di-depan-kelas’. Di saat melakukan pendalaman ilmu tersebut sang setan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperdalam ilmunya dengan cara ‘memohon petunjuk’ kepada mereka para pendekar yang sedang menjelaskan MOE. Beruntung… karena begitu banyaknya yang memohon petunjuk sehingga sang setan tidak kebagian petunjuk… Kemudian di kesempatan kedua sang setan memohon petunjuk lagi, dan ternyata mereka masih beruntung… Mereka tidak tahu bahwa dunia ini akan berada di ambang kehancuran jika sang setan tersebut berhasil menguasai ilmu MOE. Kemudian di saat waktu bagi para pendekar dari klan 2+1 telah semakin menipis, para pendekar tersebut hendak menyelesaikan ‘kewajiban’ mereka. Namun belum sempat mereka mengundurkan diri sang guru besar BSAS ingin memberikan kesempatan bagi sang setan untuk memohon petunjuk, sang guru BSAS tentunya belum menyadari malapetaka apa yang akan naik ke permukaan bumi jika sang setan berhasil menguasai MOE. Namun kali ini dunia ternyata masih terselamatkan, karena sang setan kehilangan minatnya… namun sang setan ternyata punya strategi lain, karena sang setan dapat merasakan bahwa klan 2-1 yang mendapat giliran selanjutnya memiliki kesaktian yang lebih tinggi sehingga akan lebih baik jika memohon petunjuk pada mereka nanti… banyak yang mengira bahwa sang setan sudah mutung kasarung, namun mereka semua salah… mereka tidak menyadari bahaya akan datang nanti…

Dan akhirnya tibalah giliran klan 2-1 untuk maju dan mengajari bagaimana cara menjinakkan MOE… Dan ternyata memang benar… seperti yang telah diprediksi oleh sang setan ternyata klan 2-1 memang benar-benar berbakat, terlebih lagi salah satu anggota klan 2-1 adalah pemimpin tertinggi dari Organisasi Pelaksana Pendekar. Meskipun usianya yang jauh lebih muda daripada pendekar-pendekar lain bahkan dari sang setan sekalipun namun dia memiliki badan yang kekar, sehingga tidak sulit baginya untuk menguasai MOE. Selesai mengajari para pendekar lain, klan 2-1 memberi kesempatan bagi para pendekar lain untuk memohon petunjuk. Dan karena anggota-anggota klan 2-1 merasa kasihan dengan setan tersebut akhirnya mereka memberi kesempatan kepadanya untuk memohon petunjuk, kemudian sang setan mengatakan bahwa dia membutuhkan kejelasan mengenai pemilihan formasi yang sesuai dan bagaimana cara memilih formasi tersebut? Manakah yang harus diutamakan dalam memilih formasi yang sesuai? Kelurusan niat kah? Keseriusan niat kah? Atau konsentrasikah? Kemudian salah seorang dari klan 2-1 mulai angkat bicara… “Menurut kami kelurusan niat adalah yang terpenting… karena dengan niat yang LURUS maka kita akan semakin mudah menuju kejalan yang benar, semakin lurus niat kita maka akan semakin kita menDEKATi kebenaran. Mengapa? Karena niat yang lurus akan menjernihkan hati sehingga kita akan mengenali suara hati nurani, pada nantinya hati nurani inilah yang akan mendekatkan kita dengan kebenaran sehingga KORELASI ANTARA PILIHAN KITA DAN KEBENARAN SEMAKIN TINGGI… lalu keseriusan niat tidaklah begitu penting, karena keSERIUSan tidak ada kaitannya dengan kebenaran. Sedangkan konsentrasi cukup penting, karena konsentrasi mencegah kita dari meNYIMPANG disaat kita menuju kebenaran, tingginya konsentrasi dapat dilihat dari sedikitnya SIMPANGAN yang kita lakukan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam memilih formasi gerakan yang tepat maka yang perlu diutamakan adalah niat yang lurus.”

Mendengar penjelasan tersebut sang setan merasa terganggu… sang setan yang pandai nan cerdas tersebut berpendapat “Adalah benar bahwa niat yang lurus adalah penting untuk mendekatkan pilihan kita dengan kebenaran, tapi kelurusan niat kita tidaklah selalu mendekatkan kita dengan kebenaran, kenapa? Karena jika kita hanya bermain-main (baca : tidak serius) dengan hati nurani kita, akan ada kalanya dimana kita memperhatikan hati nurani dan akan ada saat dimana kita tidak memperhatikan hati nurani. Sebagai akibatnya, meskipun hati nurani terdengar namun pilihan kita masih dapat menjauh dari kebenaran. Keseriusan haruslah diutamakan sehingga disaat hati nurani terdengar atau nyaris terdengar maka keseriusan (baca : konsistensi/tak tergoyahkan) kita akan menuntun kita kepada kebenaran.”

Kemudian tiba-tiba klan 2-1 yang terkenal akan kesangarannya itu terdiam… mereka berusaha mencerna kata-kata sang setan yang bahkan dapat membuat pendekar berilmu sangat tinggi sekalipun menjadi tulalit (Hayo! Ngaku aja, para pembaca budiman juga bingung khan dengan omongan si setan? Lha wong aku sing nulis we ra dong koq karo opo sing tak tulis :P).

Pada akhirnya di akhir pertemuan rahasia tersebut sang guru besar merangkum apa saja yang telah dihasilkan dihari itu dan memberitahu letak kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh murid-muridnya. Sang guru besar tertarik akan kata-kata sang setan terutama pada bagian ‘keseriusan’, apalah arti dari sebuah kedekatan dengan kebenaran jika kita tidak serius dalam menanggapinya? Jika kita tidak serius dalam menanggapi suatu kebenaran namun tidak serius dalm menanggapinya maka akan ada kalanya kita mengikuti kebenaran dan akan ada saatnya dimana kita menjauh dari kebenaran. Misalnya saja kita tahu bahwa membuang sampah harus pada tempatnya, namun kita tidak menanggapi dengan serius akan arti dari kebersihan lingkungan maka akan ada saat dimana kita membuang sampah ditempatnya dan ada saat dimana kita membuang sampah sembarangan. Tentu saja keseriusan tidak ada artinya pula tanpa niat yang lurus hehe…

What the…?? Anekdot gak penting!

Hahahaha… cerita itu sebenarnya hanya fiksi tapi terinspirasi oleh kuliah/diskusi di kelasku. Beberapa bagiannya kumodifikasi agar bisa menceritakan apa yang sebenernya ingin kusampaikan.

—————– Real Stuff ! ——————-

Pada diskusi kemarin senin ada ucapan temanku dan dosenku yang menarik perhatianku, banyak teman-temanku yang tertawa olehnya, tapi aku seperti biasa selalu berusaha menangkap makna yang tersembunyi dibaliknya… hal inilah yang mungkin membuatku jadi pernah dibilangin ‘terlalu serius’, yaaa yaaa aku emang terlalu serius, emang kenapa? Kalo gak suka sikapku ya dah… jangan maksain aku buat berhenti jadi serius donk! Sakit tauk! Kayak gak pernah dipaksa jd orang lain ajah! (Maap… emosi sesaat -_- …) Anyway, back to the topic…. perkataan mereka mengingatkanku pada sebuah teori yang terkenal, teori apakah itu? Yaitu adalah “Triangular Theory of Love” oleh seorang psikologis terkenal bernama Robert Sternberg.

Di dalam teori tersebut disebutkan bahwa cinta membutuhkan 3 komponen untuk menjadi cinta yang utuh, yakni intimacy (kedekatan – atau dalam anekdot diatas adalah kelurusan niat), Commitment (Komitmen – atau dalam anekdot diatas adalah keseriusan), Passion (Hasrat – atau dalam anekdot diatas adalah konsentrasi).

Hmm… bingung juga mau njelasin dari mana… baiklah… awal cerita bermula saat salah seorang temanku mengatakan “tidak ada gunanya dekat kalau tidak serius”, yang mana kemudian dibenarkan oleh dosenku. Yup, aku bisa menangkapnya… memang betul, tetapi kurang tepat (dalam hal relationship hahaha…). Kedekatan berarti kita bisa bercanda tawa, bertukar kabar, bertukar pikiran, berbagi rahasia, dll. Jika kita menambahkan satu komponen lagi yakni serius / komitmen maka hubungan akan naik ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan adanya keseriusan / komitmen berarti kita akan saling berusaha menjaga hubungan ini agar dapat terus berlanjut. Tanpa adanya keseriusan / komitmen kita bisa aja melakukan apa yang semestinya gak kita lakukan meskipun kita tahu semestinya itu tidak kita lakukan, mis. selingkuh, gak perhatian sama dia, dll.

Lalu satu hal lagi yang didalam anekdot tadi ada satu lagi yang satu unsur yang sayangnya tidak dianggap penting yakni konsentrasi yang mana merupakan analog dari hasrat dalam teori diatas. Konsentrasi adalah “force” yang menjaga agar kita selalu dijalan yang sama. Hal ini mirip dengan hasrat, dimana hasrat merupakan “force” yang dapat menjaga agar kita dapat selalu dekat dengannya. Tanpa hasrat semuanya terasa dingin dan kaku, tidak ada kata-kata yang lembut, tidak ada sentuhan-sentuhan yang menangkan jiwa huhuhuhu…

Yup, itulah 3 komponen penting dalam cinta, namun perlu diingat ada hal lain yang perlu diperhatikan yakni kecocokan. Tidak ada gunanya cinta yang komplit tanpa kecocokan… Dan kita semua tahu bahwa cinta itu tidak sama dengan kecocokan…

Percuma jika dua cairan dapat melakukan area kontak yang luas bila keduanya adalah air dan minyak…

It’s just like the both of us… open ur eyes… there are differences between us… especially in our highest value… FYI, my highest value is “honesty”, “efficiency” and “knowledge”. And one of your highest value is “harmony” right? “honesty” and “harmony” can’t walk together… please… take a look at past… don’t u remember? In order to protect the harmony u would do anything… including lying… its so hurt when someone that u love do something against ur core value. I am… I am trying to see ur intention, I know it is a good intention… because protecting the harmony is a noble thing. But for me knowing the truth is in much higher priorities, because I’m desperately seeking for knowledge… For me, it doesn’t matter whether the truth is painful or not, I JUST WANT TO KNOW… it is my deepest desire…

And for you… I always show you the truth… which some are joyful, some others are painful… painful? yes… painful… it will definitely break the harmony right?

That’s why… though my passion has return, there’s no point in resuming our story… My core value will shatter u into pieces like urs will shatter me into pieces… We are… Oil and Water…

Please… seek… someone… better… than… me… I’m… not… good… enough… for… u…