Seperti biasa, sebelum membaca tulisan ini anda diharapkan sudah membaca “Mikirin Ceweeeek Mlulu Part 1, Part 2,  Part 3 dan Part 4” terlebih dahulu, mengingat mata kuliah tersebut adalah mata kuliah prasyarat sebelum mengambil mata kuliah ini ceritanya saling berkaitan satu sama lain. Tulisan tersebut dapat anda baca di blog saya di friendster (untuk yang part 4 ada di blog ini) yang mana link-nya terdapat di sebelah kanan blog ini.

9 months after part 4 written…

Setelah pencarian yang demikian lama, aku baru bener-bener paham dengan apa yang diomongkan bu Nunung dosen P.A.-ku… Omongan yang mana? Yaitu omongan yang “Kita harus memperluas jaringan kita dan berkenalan dengan sebanyak mungkin lawan jenis kita.” Belakangan aku baru mengerti alasan dibalik semua itu… Alasannya ternyata tidak sesederhana yang kukira dulu, dulu kupikir itu hanyalah sekedar pemercepat-pertemuan-dengan-soulmate-kita. Namun alasan yang sebenarnya tidaklah sesederhana itu, harus kuakui aku yang dulu terlalu lugu dan naif untuk menangkap makna sebenarnya yang sedemikian dalam. Memang dibutuhkan pengalaman yang banyak untuk menangkap makna sebenarnya, dan kini setelah hampir satu tahun berlalu dan banyak hal yang telah terjadi padaku, seberkas cahayapun mulai menyoroti paradigmaku yang dirundung dalam kegelapan.

Kini, setelah aku menggunakan cara yang bergerak yang benar-benar berbeda daripada aku yang dulu (thx to u :), aku yang sekarang lebih fleksibel. Sebagai akibatnya lambat namun pasti, aku mulai menemukan potongan-potongan yang diperlukan untuk menemukan makna-makna tersembunyi dalam ayat-ayat yang kuterima dari orang-orang disekitarku. Dan ayat yang ingin kuangkat adalah ayat yang kudapat dari dosen P.A.-ku.

Beruntung sekali… aku kuliah di dunia dimana stok ceweknya melimpah, aku kuliah di fakultas farmasi dimana cowok : cewek = 1 : 7. Sayangnya kini setelah masuk jurusan FSI perbandingannya jadi 1 : 5 hahaha… Loh?! Apa hubungannya cewek yang melimpah dengan omongannya bu Nunung? Mmm, gini lho jeng… untuk mengaplikasikan apa yang diomongkan bu Nunung aku khan musti kenalan dengan banyak cewek, nah caranya tentu dengan pergi ke luar fakultas. Lha aku khan punya banyak keterbatasan, apa lagi dengan kepribadianku yang kek gini. Nah, karena disini dah ada banyak cewek jadinya rasanya gak perlu keluar-keluar lagi khan? Hahahaha… Jadi inget omongan pak Sudjadi pas kuliah rekayasa genetika, beliau pernah ngomongin tentang salah satu mahasiswanya yang saat sedang pretest praktikum analisis farmasi ditanyai perihal jodoh, mahasiswanya itu malah ngomong “gak usah nyari diluar pak, di sini khan dah banyak”. Tahukah kamu? Mahasiswa yang dimaksud pak Sudjadi itu aku! Wakakakakak

Dengan banyaknya cewek disini aku mulai bisa belajar berinteraksi dengan berbagai macam cewek. Dari situ sedikit demi sedikit aku bisa melihat mana sifat-sifat yang kusukai dari seorang cewek dan mana yang tidak tapi bisa kutolerir sampai sifat yang tidak bisa kutolerir sama sekali. Output akhirnya? Tentu saja cewek yang kuidamkan… Dengan mengumpulkan sifat-sifat yang kusuka dan menghilangkan yang tidak kusuka akupun mulai membangun model dari cewek yang kuidam-idamkan selama ini.

Dan tahukah kamu? Aku baru bener-bener menyadari hal itu gara-gara kuliah farmakokimia 2 yang pas itu diampu oleh pak Ari. Pas itu pak Ari menjelaskan tentang Structure-Based Drug Design. Di dalam Structure-Based Drug Design ada teknik yang namanya de novo Design, teknik apakah itu? Itu adalah teknik dimana kita mengumpulkan potongan-potongan molekul yang sesuai dengan bagian-bagian tertentu dari binding site pada protein (lihat gambar). Dari sedemikian banyak potongan molekul yang sesuai tersebut kita sambung-sambung. Pada kenyataannya ada berbagai macam ikatan antara molekul substrat dan enzim/reseptor, selain itu bentuk molekul substrat yang khas, dan bentuk binding site dari enzim/reseptor yang khas menyebabkan adanya ‘spesifisitas ikatan’. Voila! The miracle of enzime! :)

Dan tahukah anda? Bahwa hubungan antara dua insan itu serupa dengan ikatan enzim-substrat. Anda tidak percaya? Mari saya ‘paksa’ anda, agar anda mau percaya. Pada dasarnya ikatan antara dua insan disebabkan oleh adanya kemiripan dan perbedaan. Hal yang serupa juga terjadi pada enzim-substrat. Pada interaksi enzim-substrat, terdapat berbagai macam ikatan/interaksi. Yakni ikatan hidrogen, ikatan polar, ikatan non-polar/hidrofobik, interaksi phi. Ikatan hidrogen dan ikatan polar merepresentasikan ‘ikatan akibat perbedaan’, karena ikatan ini terjadi akibat dua bagian yang bertolak belakang, dimana pada ikatan hidrogen terjadi akibat adanya atom yang amat elektronegatif dan atom hidrogen yang terikat pada atom yang amat elektronegatif, sedangkan ikatan polar terjadi akibat dua atom yang bermuatan berlawanan satu sama lain sehingga saling tarik menarik. Ikatan hidrofobik dan interaksi phi merepresentasikan ‘ikatan akibat kemiripan’, karena ikatan hidrofobik terjadi akibat pertemuan dua gugus yang tidak bermuatan, sedangkan interaksi phi terjadi akibat pertemuan dua gugus elektron ikatan phi (biasanya dalam bentuk gugus aromatik).

interaksi enzim substrat

Ikatan-ikatan pada enzim-substrat tersebut merepresentasikan kecocokan antara dua insan. Dan kecocokan itu dapat disebabkan oleh adanya perbedaan (mis. yang satu sangat pemarah dan yang satu lagi penyabar, yang satu fotografer yang satu lagi model) dan bisa juga disebabkan oleh kemiripan (mis. sama-sama suka berorganisasi, sama-sama penyayang binatang). Namun tentu saja ada satu hal lagi yang sangat vital yang perlu diperhatikan, apakah hal itu? Hal itu adalah prinsip, standar dan nilai-nilai kehidupan yang dibawa setiap insan. Adalah percuma jika terdapat banyak kecocokan namun dalam hal prinsip, standar dan nilai-nilai kehidupan ternyata tidak sejalan (bukan sekedar berbeda, karena perbedaan prinsip, standar dan nilai-nilai kehidupan boleh berbeda selama masih bisa saling mentolerir satu sama lain). Hal yang sama terjadi antara enzim dan substrat, analogi dari prinsip, standar dan nilai-nilai adalah kerangka dasar/backbone dari substrat dan bentuk 3D dari binding site. Jika gugus-gugus yang benar menempel pada bagian yang salah dari kerangka dasar tentu kecocokan yang ada menjadi tidak berguna, bentuk kerangka dasar yang salah (terlalu panjang/pendek, atau melengkung ditempat yang salah) juga tidak berguna karena ikatan dengan enzim tidak akan fit.

Nah, sekarang bagaimana cara mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari? Sependek yang saya tahu, berdasarkan dua buku yang pernah saya tahu yakni Making Love Happen karya Bart A. Bagget dan Dating for Dummies karya Dr. Joy Browne, disitu terdapat sebuah kemiripan dibagian awal bukunya, apakah itu? Yakni mengenal diri sendiri dan mencari tahu apa yang kita inginkan. Hal ini benar-benar sesuai dengan de novo design, dimana pertama-tama kita harus mencari tahu residu-residu asam amino apa saja yang ikut berperan dalam binding site suatu enzim/reseptor. Mari kita analogikan si enzim/reseptor sebagai diri kita dan residu-residu asam amino tersebut sebagai sifat-sifat kita, sedangkan wujud 3D ruang binding site sebagai prinsip, standar dan nilai-nilai kehidupan kita. Jika kita ingin mencari tahu apa yang kita inginkan maka kita harus mengenali diri sendiri. Jika kita telah berhasil mengenali diri sendiri maka mencari tahu apa yang kita inginkan menjadi lebih mudah.

Second step… dalam pencarian ‘potongan-potongan’ yang diperlukan dalam menyusun obat, maka berbagai macam senyawa kecil dengan gugus tertentu dimasukkan untuk dilihat interaksinya dengan residu-residu asam amino dalam binding site. Jika energinya rendah (ikatan bagus/stabil), maka ‘potongan’ tersebut adalah kandidat untuk bagian obat yang akan kita susun nanti. Di dalam kehidupan nyata, kita dapat berinteraksi dengan sebanyak mungkin lawan jenis. Dari berbagai macam sifat yang kita temui, kita bisa memonitor perasaan kita untuk mengetahui apakah sifat seperti ini yang kita cari? Atau malah ilfil? Kemudian kita bisa mengumpulkan potongan-potongan itu menjadi satu, sehingga kita bisa mendapatkan ‘prototipe’ pasangan idaman kita. Tentu saja itu semua baru sebatas kecocokan dibanyak hal, namanya juga prototipe… ingat, ada hal fundamental yang harus diperhatikan. Yakni prinsip, standar dan nilai-nilai kehidupan kita. Perhatikanlah prinsip, standar dan nilai-nilai kehidupan kalian berdua, apakah sama atau berbeda? Jika sama tidak perlu dipertanyakan, namun jika berbeda? Lihatlah perbedaannya, jika masih bisa berjalan bersama maka lanjutkan. Tapi jika prinsip, standar atau nilai-nilai kehidupan yang dipegang masing-masing sudah bertolak belakang satu sama lain maka sudah tidak ada gunanya hubungan yang ada dilanjutkan, lebih baik sekedar teman daripada sakit hati.

de novo 2

Yang menjadi masalah sekarang adalah, cinta belum tentu cocok, dan cocok belum tentu cinta. But luckily, I’ve got the solution already. Stop or slow down ur feeling when u don’t know the one u’re attracted to. And build ur feeling when u know someone u’re compatible with ^^. Never ever got involved (crush or moreover… infatuated) before u know the real him/her! Once u got involved, u can’t use ur brain, trust me! Pada kenyataannya tentu saja tidak semudah yang kutulis barusan, tetapi aku sudah belajar cukup banyak, baik dari temanku, forum dan dari buku (my special thanx to Arko Java for the lesson ’bout how to slowing down the feeling, it really works! U’re genius Arko! Hahaha…). Dan lagi, ada range toleransi dari segi fisik, materi, lingkungan keluarganya, and the other “outer quality”. Ada kalanya meskipun kita merasa ada kecocokan tetapi dari segi “outer quality” kurang memungkinkan. Mmmm… inner quality is confusing enough, and there is outer quality also… so much things to calculate… ~.~

BTW, kita sebenarnya sudah mengaplikasikan ilmu ini tanpa kita sadari ^^, kalau anda tidak percaya, cobalah liat ke belakang hehehe… (kecuali kalau anda tidak pernah berminat mencari jodoh, atau tidak pernah serius mencari jodoh)

Sayangnya kita tidak mengaplikasikannya dengan benar… satu hal yang sering kali terlupakan… mencoba melihat ke dalam diri sendiri… jika anda tidak pernah mencari tahu apa yang ada dalam diri anda, maka anda tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya anda cari

Good Luck in Finding Ur Soulmate!

———appendix———-

de novo Design

1. Get the structure of protein. Know the amino acid that playing the role
2. Find the ‘pieces’ that fit to the amino acid
3. Assembly those pieces into one
4. Try to synthesize the drug LOL Hahahahaha…
Soulmate Finding

1. Recognize urself
2. Recognize what u want
3. Find what u want
4. Build the mutual feeling
PS : Don’t expect too high, there’s no such thing as “perfect human”, u must accept other’s limitation. Because that’s what tolerance for…