Lagi-lagi ada foto hantu yang lagi heboh-hebohnya. Kali ini foto api yang menyerupai wajah manusia nampak saat kebakaran di Ramayana Kebayoran Lama. Beberapa orang meyakini itu adalah sesosok jin yang menampakkan wajahnya, beberapa orang bilang itu cuman sekedar rekayasa foto (meskipun pak Roy Suryo sudah angkat bicara kalo foto itu asli dan tanpa rekayasa), beberapa orang antara percaya dan tidak percaya. Ini bukan pertama kalinya terjadi, lantas bagaimana kita harus menanggapinya? Saya tentu tidak sedang memaksa para pembaca untuk mengikuti yang saya tulis, melainkan saya hanya ingin berbagi atas bagaimana saya menanggapi peristiwa tersebut.

Semenjak kecil saya sudah terbiasa untuk selalu berpikir secara saintifik (menggunakan nalar) dalam menghadapi fenomena-fenomena yang di alam. Perlu pembaca ketahui bahwa meskipun saya fanatik sains namun saya juga mempercayai adanya hal-hal gaib. Di dalam menghadapi fenomena-fenomena di alam, terutama dalam hal yang gaib saya selalu mencari kebenaran dari fenomena tersebut. Contoh yang paling mudah adalah tafsir mimpi, benarkah mimpi itu dapat ditafsirkan? Pertama-tama tentu saya harus melihat ke masa lalu, menurut yang saya ketahui, di masa lalu sudah banyak ilmu tafsir mimpi, bahkan Nabi Yusuf sendiri diberi Tuhan kemampuan untuk melakukan tafsir mimpi. Kemudian dapatkah tafsir mimpi itu dibuktikan? Saya sendiri pernah membaca beberapa artikel tanya jawab tentang tafsir mimpi. Saya masih ingat saat itu saya baru saja duduk di bangku SMP, saat-saat awal saya masih belum terbiasa dengan kondisi saat SMP yang kontras dengan kondisi saat SD sehingga saya mengalami stres untuk yang pertama kalinya. Pada suatu ketika saya sering bermimpi (hampir tiap malam) berjalan-jalan kemana-mana dalam keadaan telanjang bulat. Tidak lama kemudian stres sayapun hilang. Tidak lama setelah kejadian itu saya membaca di sebuah tabloid tentang hal-hal gaib yang saya sendiri sudah lupa namanya. Saat saya membaca bagian tanya jawab tafsir mimpi sayapun membaca tentang mimpi yang belum lama ini saya alami, yakni mimpi telanjang bulat. Ternyata arti dari mimpi tersebut adalah orang tersebut akan terlepas dari masalah besar yang sedang dihadapinya. Dan wow! Sayapun kaget, itu serupa yang baru saja saya alami! Di lain kesempatan, saat saya mendapati mimpi yang serupa, sayapun yakin bahwa masalah yang sedang saya hadapi akan hilang.

Namun, tidak hanya itu saja, ada beberapa mimpi yang terkadang saya sendiri ternyata mampu menafsirkannya sendiri. Aturan dasarnya ialah: seringkali mimpi itu memiliki arti yang berkebalikan dari mimpi itu sendiri. Pada suatu ketika saya bermimpi ada banyak maling yang melintas di sekitar rumah saya saat malam hari. Saat saya bangun entah kenapa terlintas di benak saya bahwa saya hari ini akan mendapatkan banyak rejeki, dan benar saja, memang hari itu saya mendapatkan banyak rejeki. Dan setiap kali saya mendapati mimpi yang serupa, saya mengalami hal yang serupa.

Selain mimpi, saya juga menghadapi mitos-mitos dengan pola pikir yang saintifik. Kembali di saat saya akan masuk SMP saya sempat kejatuhan cecak, kata orang Jawa, jika kita kejatuhan cecak maka artinya kita akan ketiban sial. Tak lama setelah kejadian itu memang saya mengalami stres. Tapi apakah saya langsung mempercayai mitos itu? Tentu saja tidak, SINGLE PROOF is NOT ENOUGH for me. Sampai saat ini kalau tidak salah sudah terhitung 4-5 kali saya kejatuhan cecak, tapi dari semua itu hanya sekali saja saya ketiban sial. Untuk mengatakan sesuatu itu benar atau tidak saya perlu bukti yang teruji kebenarannya dalam berbagai situasi dan kondisi yang berbeda!

Nah, sekarang mari kita berbicara tentang sesosok wajah pada api yang berkobar dari lantai 3 gedung Ramayana. Is it for real? Jawaban saya, karena menurut pak Roy Suryo foto itu asli, maka sayapun akan mengatakan hal yang sama. Kemudian pertanyaan yang lain, apakah saya percaya bahwa itu adalah peristiwa penampakan dari dunia lain yang menghuni gedung tersebut? Pertama kali saya melihat foto tersebut, yang pertama terlintas di benak saya adalah banyaknya pola wajah yang nampak di dinding rumah saya, entah karena banyaknya kotoran di dinding, atau karena lapisan dinding yang kurang rata, atau sebab-sebab lain yang tidak saya ketahui. Inilah yang biasa disebut sebagai probabilitas. Di dunia ini ada begitu banyak faktor keacakan, sebutkanlah virus, bakteri, udara, cahaya matahari, komposisi darah manusia, komposisi air, komposisi tanah, struktur tanah, temperatur udara, kelembaban, tekanan udara, lighting, kemiringan tanah, dan masih banyak faktor-faktor lain yang menyebabkan keacakan. Sekarang marilah kita bandingkan dengan awan yang selalu bergerak dengan dinamis, di satu saat awan itu tidak berbentuk, di saat lain awan tersebut berbentuk jantung, di saat lain lagi awan itu bisa berbentuk seperti angsa, dan seterusnya. Sesuatu yang kurang dinamis (tembok di rumah saya) saja bisa membentuk pola wajah, apalagi sesuatu yang sangat dinamis seperti awan dan api? Bisa jadi pergeseran sedikit saja dari posisi DVD player yang dijual di lantai 3 gedung Ramayana menyebabkan foto tersebut tidak akan pernah ada. Anda mengerti yang saya maksud bukan? Jika memang benar ada sesuatu yang berusaha menampakkan dirinya maka seharusnya peristiwa tersebut tidak hanya terjadi sekali, terutama bila hal tersebut terjadi pada suatu obyek yang memiliki faktor keacakan yang tinggi dan sangat dinamis. Jika memang benar hal tersebut adalah merupakan peristiwa penampakan maka seharusnya peristiwa tersebut terjadi lebih dari sekali (dengan pola yang serupa) sehingga manusia akan sadar bahwa peristiwa tersebut bukanlah merupakan kebetulan belaka!

I always open myself to any idea/construct, and on the other hand I’m also 100% Scientific…