Untuk kedua kalinya aku diminta untuk maju sebagai pemberi materi, yang pertama adalah saat workshop Homology Modelling yang diadakan IBSF saat akhir 2009. Kali ini aku diminta untuk memberi materi dalam upgrading PIOGAMA, materi yang aku berikan ialah Pelatihan Open Source – Mengolah Gambar dengan GIMP. Kenapa memilih topik itu? Pada awalnya saat berbicara dengan Dewi Febriana – kepala PSDM PIOGAMA – aku diminta untuk mengisi materi pelatihan Linux kepada anak-anak PIOGAMA. Namun setelah menimbang-nimbang, betapa tidak praktisnya jika nanti kami harus di samping mengajari mereka bagaimana menggunakan Linux tetapi juga bagaimana melakukan instalasi Linux pada PC akhirnya kami mengganti topik. Akhirnya kami mengambil tema pelatihan Open Source, pada awalnya aku ingin memberikan pelatihan untuk dua atau tiga software tetapi karena keterbatasan waktu yang diberikan akhirnya kami sepakat untuk memilih satu software saja, dan akhirnya aku memilih untuk memberi materi GIMP karena selain GIMP merupakan software yang paling aku kuasai di antara software-software Open Source lainnya, manipulasi gambar juga nampaknya memiliki animo yang besar di antara para mahasiswa.

Pada awalnya acara ini akan diadakan pada tanggal 1 Mei, tetapi entah karena alasan apa akhirnya diundur jadi 8 Mei. Sehingga aku yang tadinya punya waktu dua minggu jadi punya waktu tiga minggu untuk mempersiapkan materi yang akan aku berikan. Pada kenyataannya sebenarnya hingga tanggal 1 Mei aku belum menyiapkan materi. Tapi at least aku sudah mulai menyortir fitur-fitur GIMP, kira-kira mana saja yang akan aku bahas. Barulah tiga atau empat hari sebelum hari H aku sudah mengumpulkan gambar-gambar yang akan diedit, lalu akupun juga selain telah menyortir fitur-fitur GIMP akupun telah menyiapkan urutan penyampaian materi. Ada hal yang menarik saat aku menyusun materi, aku jadi teringat omongan pak Enade saat kami bertemu bulan juli/agustus 2009 kemarin. Saat itu kami membicarakan tentang buku-buku untuk belajar komputer (e.g. Linux, Pemrograman, etc.), aku sudah agak lupa apa yang beliau katakan tapi kira-kira begini yang beliau katakan, “Aku gak suka beli buku begituan, banyak yang isinya terlalu komplit, mendingan googling dan langsung cari tau gimana caranya pakai program X”. Jika anda sudah sering membaca buku-buku komputer seperti bagaimana cara menggunakan software ini, panduan bahasa pemrograman X, dll. anda akan mengerti bahwa ternyata buku komputer itu pada dasarnya dibagi dalam tiga tipe. Yang pertama ialah tipe referensi, buku tipe ini pada dasarnya membahas secara komprehensif dan begitu mendetil dari setiap fungsi/fitur dalam suatu program atau bahasa pemrograman, buku-buku tipe ini pada dasarnya tidaklah lebih baik dari user-guide/manual/reference-guide. Buku dalam tipe ini tergolong buku yang dibenci oleh orang-orang yang menyukai kepraktisan dan memiliki kesibukan yang tinggi. Buku tipe kedua ialah half-practical, buku tipe ini memberikan dasar-dasar yang diperlukan saat akan mempraktekkan langkah-langkah praktis yang disajikan dalam buku tersebut, kemudian akan ada langkah-langkah praktek yang dapat diterapkan dalam persoalan sehari-hari. Dibandingkan dengan buku tipe referensi buku ini tidaklah komprehensif, hal ini sangat penting karena akan membantu para pemula agar tidak dilibatkan dalam kerumitan yang tidak perlu. Buku ini biasanya yang paling disukai orang-orang pada umumnya. Buku tipe ketiga ialah tipe truly-practical, hingga saat ini aku baru dua kali menemui buku tipe ini, judulnya ialah Python Scripting for Computational Science & Wicked Cool Shell Scripts—101 Scripts for Linux, Mac OS X, and Unix Systems, buku-buku seperti ini tidak akan membahas mengenai dasar-dasar namun akan langsung menuju ke persoalan dan bagaimana cara mengatasi persoalan tersebut. Buku tipe ini sangatlah tidak cocok untuk pemula karena pada dasarnya penulis buku ini berasumsi bahwa pembacanya ialah orang-orang yang mengerti dasar-dasarnya atau tipe orang-orang yang cepat mengerti. Kembali ke topik awal, tentang penyusunan materi, saat menyusun materi aku sadar bahwa ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan. Contoh konkritnya ialah bagaimana aku mengatur proporsi antara 1)pemberian materi tools dengan 2)aplikasinya di dunia nyata, kemudian bagaimana mengurutkan suatu materi karena adanya dependensi antara satu materi terhadap materi lainnya. Tidak seperti saat workshop Homology Modelling yang pembicaranya ialah pak Ari sedangkan aku sebagai asisten sehingga aku tidak perlu (terlalu) repot-repot menyusun materi yang akan diberikan, namun kali ini aku harus menyusun materinya sendiri, dan ini memberikan tantangan tersendiri untukku.

Baik dasar maupun aplikasi keduanya adalah penting dan saling mendukung satu sama lain. Di satu sisi kita tidak bisa terlalu menekankan dasar karena hanya akan menimbulkan kerumitan pada siswa yang pada nantinya akan berakhir pada disorientasi dan hilangnya semangat siswa dalam mempelajari materi yang kita berikan. Di sisi lain aplikasi tanpa dasar hanya akan membingungkan siswa yang diajar karena materi dasar merupakan stepping stone (tempat berpijak), tanpa stepping stone yang kuat siswa tidak akan dapat mengaplikasikan solusi dengan tepat. Itulah sebabnya kenapa di antara para dosen yang menerapkan SCL (Student-Centered Learning) di Fakultas Farmasi UGM tercinta ini aku memilih pak Djoko Santosa sebagai dosen terbaik di bidang penerapan SCL. Di dalam menerapkan SCL beliau memberikan proporsi yang pas antara materi dasar dan problem-solving, sehingga mahasiswa di satu sisi mendapatkan stepping stone yang kuat dan di sisi lain mahasiswa menjadi lebih aktif dan dapat mengekspresikan diri.

Oke, jadi aku sudah menyusun materi, mungkin tidak ideal dan tidak pula praktis, akupun juga tidak tahu apakah sudah menaruh proporsi yang pas antara dasar dan aplikasi atau tidak, anyway this is the best I can offer (so far). Dan setelah itu saatnya pembuktian tiba, 8 Mei 2010 pukul 7.50 aku berangkat ke kampus dan aku sampai kampus sekitar 8.30. Setiba di kampus acara upgrading PIOGAMA sudah dimulai dengan materi pertama “Pelatihan Negosiasi”, giliranku ialah setelah ini. Setelah menyiapkan mental dan mengecek materi akhirnya aku maju untuk memberikan materi pada pukul 10.30. Berikut adalah copy-paste dari susunan materi yang kupersiapkan sebelumnya (not edited at all):

OPEN SOURCE
Apa itu open source, perbandingan dengan proprietary (kelebihan dan kekurangan). Contoh2 open source (mozilla firefox, open office, gimp).

GIMP
Instalasi (next next next… finish)
Pengenalan GIMP
Pengenalan interface
new file (setting canvas)
open image, open as layer, crop
konsep layer
scale image, resize canvas, transform
save image & export (explain picture format: xcf, gif, png, jpg).

text tools
selecting tools
bucket fill tool, blend tool, pencil, paintbrush, airbrush, eraser tools
image editing –> adjust lighting, color, hue-saturation
clone & heal
blur/sharp, smudge, dodge/burn
Create Button & logo, create from clipboard

real-world application:
combining image
menghaluskan wajah
Gradient text

filter
Blur –> Blur, gaussian blur
enhance –> sharpen
distort –> emboss, mosaic, iwarp
Light and shadow –> gradient flare
Edge-detect –> Edge, Neon
Artistic –> Apply canvas, photocopy, softglow
Decor –> Old Photo,
Map –> Illusion, make seamless,

Pada awalnya aku memberikan gambaran tentang apakah itu sebenarnya Open Source, kemudian barulah aku membahas mengenai GIMP yang diikuti dengan pemberian dasar-dasar penggunaan GIMP. Setelah itu kami melakukan praktek (real-world application) seperti bagaimana caranya menggabungkan gambar, menghaluskan wajah, membuat teks dengan gradien. Oh iya, perlu diketahui, bahwa untuk dasar-dasarnya kami juga mempraktekkan setiap langkah penggunaan tool-tool yang ada.

Kemudian aku melakukan evaluasi dengan melakukan observasi terhadap orang-orang yang aku ajari dan berdiskusi dengan beberapa di antara mereka. Satu hal yang menarik ialah saat aku meminta mereka menghaluskan wajah (menghilangkan jerawat) tanpa memberikan langkah-langkah praktis kepada mereka. Sebelum sesi tersebut harus kuakui mereka kurang antusias dan nampaknya kurang memahami setiap tool (dasar-dasar) yang telah aku sampaikan. Namun saat aku meminta mereka mencari dan mengaplikasikan solusi tanpa diberi langkah-langkah praktis dengan (sebelumnya) memaparkan mereka dengan dasar-dasar yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang akan diberikan ternyata dapat membuat mereka menjadi antusias dan aktif, beberapa di antara mereka bahkan ada yang mengekspresikan diri dengan melakukan improvisasi dengan (tidak hanya menghilangkan jerawat) menghilangkan keriput-keriput yang ada. Jika saja kita bisa selalu mengaplikasikan seluruh tool dalam masalah-masalah dunia nyata pasti acara workshop ini bisa lebih hidup, pikirku. Tetapi apa boleh buat, waktu yang diberikan amatlah terbatas, hanya 2 jam, IMO untuk pelatihan pengolahan grafis seperti ini seharusnya memakan waktu at least 6 x 2 jam.

Come to think of it, that wasn’t really good. Well at least I’ve done my best. Dan setidaknya sekarang aku telah belajar banyak dari proses transfer ilmu hari ini. Selamat malam, aku sudah mengantuk dan sudah ingin bobok.

May 8, 2010