Kemarin aku agak kecewa, ada beberapa hal yang gak sesuai dengan yang aku harapkan. Yah, sepertinya memang akunya sendiri yang terlalu banyak berharap hahahaha…

First…
Waktu aku berharap orang-orang yang kuberi materi lebih antusias dan dapat mengerti semua materi yang kuberikan ternyata tidak seperti yang aku harapkan. Yah, hal-hal seperti itu memang benar-benar di luar kendaliku.

Second…
Saat selesai acara upgrading aku diberi sertifikat, setelah yang memberi sertifikat menyerahkan sertifikat eh malah gak salaman, langsung ngacir aja tuh anak, iki anak piye to? (artinya: Ini anak gimana sih?)

Third…
Selain diberikan sertifikat, aku juga diberikan roti sebagai bentuk timbal balik. Kalau pembicara yang sebelumnya (pemberi materi negosiasi) diberi amplop, ternyata saat aku cek plastik berisi roti tersebut tidak ada amplopnya. Akupun kemudian bertanya kepada salah satu panitia, “F**, koq gak ada amplopnya?”, dia langsung jawab “iya mas, gak adae.”. Padahal tadinya aku dan ibuku sudah mengharap-harap dapat amplop hahahahaha… sudahlah lha wong aku bagian dari mereka (dibandingkan dengan pembicara sebelumnya yang berasal dari fakultas Ekonomi UGM), lagian ini acara internal…

Conclusion…
Berharap itu boleh, asalkan harapannya itu yang rasional, dan selalulah bersiap-siap terhadap berbagai kemungkinan karena ada hal-hal yang di luar kendali. We do our best, and God decide. Memang betul kita gak akan pernah mengalami kecewa jika kita tidak pernah berharap, tapi berharap itu penting agar kita (dan orang-orang di sekitar kita) bisa menjadi individu yang lebih baik lagi. Dan dunia ini toh tidak akan runtuh jika harapan kita tidak terpenuhi. Terakhir dan yang tidak kalah penting, jauhi sifat perfeksionis.

May 9, 2010