Seringkali aku ditanya, “Obat untuk penyakit ini apa ya?”, atau “Obat ini diminum berapa kali sehari?”, dan aku dengan entengnya menjawab “gak tahu” sambil bergumam “lha wong aq cah PST koq ditakoni koyo ngono” (artinya: lha wong saya anak PST koq ditanyain begituan). Terus siapapun yang bertanya tadi akan langsung berkata dengan cetus “Gimana sih kamu tu, anak Farmasi koq gak tau begituan”, lalu aku berkata dalam hati “eeerrrr, sabar sabar, mereka khan gak tau apa itu PST dan CCP.”

Anekdot tadi sedikit menggambarkan ketidaktahuan orang awam terhadap dunia pendidikan di Farmasi. Contoh lainnya, seringkali bila orang bertanya kuliah di mana? Lalu aku menjawab “Farmasi” maka orang tersebut biasanya langsung berkata “Wah, entar jadi Apoteker ya?” dan akupun langsung bergumam “Apoteker? Ini orang ngomongin soal lapangan kerjanya Farmasi nanti khan? Bukan Apoteker gelar yang diambil setelah ngambil pendidikan profesi (kuliah selama 1 tahun setelah lulus S1 Farmasi untuk mendapatkan gelar Apt.) itu khan? Hmmm… emang lulus Farmasi dimana-mana cuman jadi apoteker yang punya/jaga apotek ya? Ini orang bener-bener gak tau banyak tentang Farmasi ya?”.

Dahulu memang lulusan Prodi (Program Studi) Farmasi itu serba bisa, semuanya dipelajari, baik bidang Klinik dan Komunitas yang meliputi pelayanan kesehatan, manajemen rumah sakit, farmakoterapi (mempelajari informasi terkait obat-obatan, baik nama senyawa, merek dagang, indikasi, efek-samping, cara penggunaan, interaksi dengan obat lain, dll.), patologi (ilmu yang mendalami suatu penyakit, utamanya gejala suatu penyakit) dll. Kemudian bidang Sains dan Industri yang meliputi penemuan obat baru, formulasi sediaan obat (meracik campuran obat dan bahan tambahan agar obat bisa disajikan dalam bentuk, rasa dan penampilan yang bisa diterima pasien, contoh-contoh sediaan obat ialah tablet, kapsul, sirup, salep, effervescent, dll.), manajemen industri, QC (Quality Control), mekanisme aksi obat di tingkat molekular, sintesis obat, rekayasa gen, dll. Dan yang terakhir bidang obat alami yang serupa dengan sains industri namun lebih terfokus pada obat-obatan yang berasal dari alam, entah tumbuhan, hewan atau mineral (dibanding sains dan industri yang lebih terfokus pada obat-obatan sintetik), selain itu bidang obat alami juga mempelajari bagaimana mendapat, berbudidaya dan mengolah tanaman obat.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Seiring dengan berjalannya waktu akhirnya para akademisi memutuskan untuk memecah Farmasi menjadi PST (Pharmaceutical Science & Technology yang juga dikenal dengan Farmasi Sains dan Industri/FSI) dan CCP (Community & Clinical Pharmacy yang juga dikenal dengan Farmasi Klinik dan Komunitas/FKK) agar lulusan Prodi Farmasi lebih terfokus dan lebih profesional di bidangnya masing-masing. Sehingga setiap mahasiswa akan memperoleh materi dasar saat semester 1-3 dan diharuskan untuk memilih satu di antara dua jalur yang berbeda (PST & CCP) di semester 4. Oh iya, pada saat itu PST juga mempelajari obat alami. Namun beberapa tahun kemudian para akademisi merasa perlu untuk memisahkan PST menjadi PST dan NP (Natural Product) atau yang lebih dikenal sebagai FBA (Farmasi Bahan Alami). Dan timbullah prodi baru, yakni prodi FBA. Prodi FBA pada awalnya terpisah dari Prodi Farmasi, dan banyak orang-orang di fakultas Farmasi memandang sebelah mata Prodi tersebut, apa boleh dikata Prodi tersebut masih belum memiliki track record sama sekali. Sebenarnya materi perkuliahan di PST dan FBA sangatlah mirip, sehingga pada dasarnya FBA memiliki kompetensi yang dapat disandingkan dengan PST maupun CCP. Hingga akhirnya para akademisi memutuskan untuk menggabungkan PST, CCP dan FBA dalam satu wadah, yakni dalam Prodi Farmasi.

Lalu bagaimana dengan peluang kerjanya? CCP memiliki peluang kerja utamanya di Rumah Sakit dan Apotek. Karena inti dari CCP adalah pelayanan dan informasi kesehatan, selain itu CCP juga memiliki peluang dalam mempromosikan produk (sebagai Medical Representative), manajemen pemasaran, uji klinis suatu produk, penyuluhan dan bimbingan kesehatan, dll. Untuk PST peluang kerja utamanya di industri utamanya di bidang R&D (litbang), QC, QA (Quality Assurance). Terakhir untuk FBA memiliki peluang bekerja di industri obat bahan alami di bidang yang serupa dengan PST. Khusus untuk FBA dan PST sebenarnya dapat bertukar tempat dalam artian lulusan PST dapat bekerja di industri obat bahan alami dan FBA-pun dapat bekerja di industri obat sintetik karena pada dasarnya keduanya memiliki kompetensi yang serupa. Secara umum baik lulusan CCP, PST dan FBA dapat bekerja di banyak tempat, tidak hanya di Industri obat, rumah sakit ataupun apotek. Semua lulusan Farmasi juga dapat berkiprah di industri makanan & minuman, suplemen, kosmetik, forensik, di badan-badan pemerintah seperti BPOM, LIPI, BPPT.

Cukup demikian dari saya, semoga anda yang bukan dari dunia Farmasi dapat mengenal lebih dekat dunia Farmasi.

P.S. Semua tulisan di atas berdasar situasi pendidikan Fakultas Farmasi UGM, bisa jadi situasi lapangan di universitas yang berbeda akan berbeda dari yang saya paparkan di sini. Mohon dimaklumi.

May 22, 2010