Lagi-lagi jadi pemberi materi, kali ini materinya adalah WordPress. Ini adalah kesempatan bagus untuk memperbaiki cara mengajarku yang dulu. Kali ini aku ingin mencoba mengajar dengan memprioritaskan sisi praktis. WordPress adalah materi yang cocok untuk menguji cara mengajar tersebut, karena WordPress memiliki begitu banyak fitur dan pengaturan yang menimbulkan kesan rumit bagi orang-orang yang belum pernah mencobanya.

Sebelum beranjak lebih jauh, aku ingin memberikan gambaran tentang pendidikan di Indonesia, utamanya pendidikan tinggi. Jika kita cermati, proses belajar mengajar di Indonesia masih terlalu mengutamakan komprehensifitas ketimbang sisi praktisnya. Hal ini bisa kita lihat dari situasi perkuliahan yang mencakup seluruh bidang, entah itu perlu maupun tidak, kemudian setiap mahasiswa diminta untuk mempelajari semua bidang tersebut untuk kemudian diujikan dengan soal yang komprehensif pula. Padahal, saat nanti mahasiswa tersebut terjun ke dunia nyata dan menjadi seorang praktisi bisa jadi materi yang dulu pernah dipelajari yang digunakan hanya 10% atau bahkan tidak sama sekali. Selain itu kebanyakan pola pikir mahasiswa tidak berkembang dengan baik. Ironis sekali. Di luar kenyataan akan adanya dependensi antara satu materi dengan materi yang lain, pola pembelajaran yang linear dan menyeluruh sangatlah tidak menguntungkan, baik dari segi waktu, psikologis maupun ekonomi. Dari segi waktu tentu saja pembelajaran yang sangat menyeluruh dan memperhatikan setiap detil akan memakan waktu yang sangat banyak baik bagi dosen maupun mahasiswa baik saat jam kuliah maupun di luar jam kuliah. Dari segi psikologis cara pembelajaran ini akan membunuh keinginan mahasiswa untuk mempelajari mata kuliah terkait karena mahasiswa akan kehilangan kesempatan untuk berekspresi, selain itu tidak semua mahasiswa menyukai model pembelajaran yang linear, beberapa mahasiswa berpola pikir global akan cenderung menyukai cara belajar yang melompat-lompat dan akan berusaha untuk melihat gambaran besar sebelum mempelajari setiap detilnya. Terakhir dari segi ekonomi model pembelajaran yang komprehensif tentu sangat tidak menguntungkan, karena output dari sistem tersebut hanya akan menghasilkan lulusan yang tidak siap untuk menghadapi dunia nyata, alhasil lulusan-lulusan tersebut akan “terpaksa” belajar lagi di dunia nyata. Sehingga mereka kurang produktif di saat awal.

Kembali ke cerita awal, aku menyadari bahwa agar para siswa dapat mengaplikasikan ilmu mereka maka aku hanya harus menyampaikan seperlunya saja. Sesuai dengan apa yang ditulis David C. Young dalam bukunya yang berjudul Computational Chemistry:

By the end of their college career, most chemistry students have noticed that the information being disseminated in their third- and fourth-year chemistry
classes-level seems to conflict with what was taught in introductory courses. The course instructors or professors have not tried to intentionally deceive their students. Most individuals cannot grasp the full depth and detail of any chemical concept the first time that it is presented to them. It has been found that most people learn complex subjects best when first given a basic description of the concepts and then left to develop a more detailed understanding over time. Despite the best efforts of educators, a few misconceptions are at times possibly introduced in the attempt to simplify complex material for freshmen students. The part of this process that perpetuates any confusion is the fact that texts and instructors alike often do not acknowledge the simplifications being presented.

Hal ini sesuai dengan metode belajar SCL (Student Centered Learning), dimana pengajar hanya perlu menyampaikan konsep-konsep dasarnya saja, kemudian murid diharuskan untuk menggali materi lebih dalam.

Pada tanggal 22 Mei aku mendapatkan kesempatan untuk menerapkan metode belajar tersebut. Seperti yang sudah kutulis diatas kali ini aku berkesempatan untuk mengajarkan WordPress. WordPress memiliki banyak sekali fitur dan pengaturan, jika anda baru pertama kali menggunakan WordPress pasti anda akan canggung karena ada begitu banyak link dan pilihan. Oleh karenanya aku memutuskan untuk mengajari bagian-bagian yang esensial saja, dan membiarkan mereka untuk mempelajari detilnya nanti bila mereka sudah merasa membutuhkannya. Dengan mengaburkan kompleksitas diharapkan akan mencegah mereka kehilangan minat belajar. Selain itu kompleksitas juga dapat menghentikan flow,sehingga dengan mengaburkan kompleksitas maka kita bisa lebih mudah mendapatkan kondisi “flow”.

Pada pukul 13.00 materi WordPress telah siap, aku sudah makan siang dan sholat, akupun langsung berangkat menuju TKP. Tetapi karena aku belum tahu dimana TKP-nya maka akupun langsung SMS-an dengan Fitri ketua Forkesmagama. Akhirnya kita janjian ketemuan di sebelah timur RS Wirosaban. Sesampainya disana ternyata Fitri dan Dalis sedang makan di warung mi ayam. Akupun langsung menyambangi mereka dan memesan segelas es teh. Kitapun ngobrol-ngobrol sambil menunggu yang lainnya datang. Ternyata sekitar 20 menit kemudian datanglah Tedo, koordinator acaranya, sambil membawa LCD proyektor. Tak lama kemudian kamipun berangkat bersama-sama ke rumah Ocha anak FKG (Fakultas Kedokteran Gigi) yang tidak jauh dari posisi kami saat itu. Sesampai disana ternyata cuman ada Ocha dan Ana yang juga dari FKG. Kemudian kamipun segera menyiapkan peralatan untuk acara Workshop Pelatihan WordPress dalam rangka upgrading Forkesmagama. Setelah semua alat sudah siap kemudian datanglah Rifki ex-ketua sekaligus pencetus Forkesmagama. Sehingga peserta yang hadir ialah Fitri(Farmasi), Dalis(Farmasi), Tedo(Farmasi), Ocha(FKG), Ana(FKG), Rifki(Farmasi). Sebenarnya masih banyak lagi anggota Forkesmagama yang berasal dari fakultas Farmasi, Kedokteran dan Kedokteran Gigi, namun karena banyak yang berhalangan hadir maka yang datang hanya bertujuh termasuk aku. Meskipun yang datang hanya sedikit acara tetap berjalan.

Segera setelah Tedo membacakan CV-ku aku pun segera menyampaikan materi dalam bentuk PPT. Beberapa hari sebelumnya aku telah mendaftar WordPress dan meng-capture setiap langkahnya sehingga aku bisa menampilkannya dalam bentuk PPT. Dengan menggunakan slide show aku tidak perlu menggunakan koneksi internet untuk menunjukkan langkah-langkah menggunakan WordPress hehehe… di dalam menyusun slide WordPress aku berusaha menggunakan beberapa efek agar hal-hal yang tidak diperlukan dikaburkan, sehingga mereka dapat fokus pada apa yang sedang kuajarkan (baca: menghilangkan kompleksitas & komprehensifitas). Namun sayangnya saat sampai ditengah-tengah pembuatan slide penggunaan efek tersebut tidak terlaksana karena keterbatasan waktu.

Selama proses pengajaran, Alhamdulillah berjalan lancar. Mereka dapat mendaftarkan diri di WordPress serta dapat menggunakan fitur-fitur dasar seperti Posting, Comment (Discussion), Page, Tampilan, dll. Dan yang terpenting adalah minat belajar mereka tidak surut akibat kompleksitas dari WordPress.

Alhamdulillah penyampaian materi kali ini cukup berhasil, ini adalah bukti bahwa di dalam proses pembelajaran akan lebih baik bila kita hanya mengajarkan apa yang benar-benar diperlukan serta menyingkirkan komprehensifitas dan kompleksitas. Kita harus mempercayakan detil-detil materi kepada mereka, karena suatu saat kelak mereka pasti akan mempelajarinya jika mereka sudah merasa membutuhkannya. Selain itu dengan menyederhanakan materi dan mengutamakan apa yang benar-benar penting menjaga minat belajar mereka serta memudahkan mereka dalam mengekspresikan ide-ide mereka.

Bagi anda yang tertarik menggunakan slide PPT pelatihan WordPress dapat di-download di page My masterpieces. Slide tersebut menggunakan lisensi Copyleft, yang berarti anda dapat menggunakan, mengedit, me-redistribute selama bukan untuk tujuan komersial. Jika anda memodifikasi/rewrite dan menggunakan slide ini untuk edukasi maka anda diwajibkan untuk menyertakan credit (dengan mencantumkan nama penyusun slide) bagi penyusun slide tersebut. Segala macam bentuk derivat dari slide tersebut wajib menggunakan lisensi yang sama (Copyleft). Jika ingin menggunakan slide tersebut atau derivat dari slide tersebut untuk tujuan komersial maka haruslah dengan ijin dari penyusun slide tersebut.

Pembuatan slide menggunakan: GIMP (untuk picture editing) dan Power Point 2010 Beta.

Referensi
Young, David C., Computational Chemistry, John Willey & Sons (2001).
Fine Tuning Your Programming Brain

May 27, 2010

Lagi-lagi jadi pemberi materi, kali ini materinya adalah WordPress. Ini adalah

kesempatan bagus untuk memperbaiki ‘cara mengajarku yang dulu'<link to Part 1>.

Kali ini aku ingin mencoba mengajar dengan memprioritaskan sisi praktis. WordPress

adalah materi yang cocok untuk menguji cara mengajar tersebut, karena WordPress

memiliki begitu banyak fitur dan pengaturan yang menimbulkan kesan rumit bagi

orang-orang yang belum pernah mencobanya.

Sebelum beranjak lebih jauh, aku ingin memberikan gambaran tentang pendidikan di

Indonesia, utamanya pendidikan tinggi. Jika kita cermati, proses belajar mengajar

di Indonesia masih terlalu mengutamakan komprehensifitas ketimbang sisi praktisnya.

Hal ini bisa kita lihat dari situasi perkuliahan yang mencakup seluruh bidang,

entah itu perlu maupun tidak, kemudian setiap mahasiswa diminta untuk mempelajari

semua bidang tersebut untuk kemudian diujikan dengan soal yang komprehensif pula.

Padahal, saat nanti mahasiswa tersebut terjun ke dunia nyata dan menjadi seorang

praktisi bisa jadi materi yang dulu pernah dipelajari yang digunakan hanya 10% atau

bahkan tidak sama sekali. Selain itu kebanyakan pola pikir mahasiswa tidak

berkembang dengan baik. Ironis sekali. Di luar kenyataan akan adanya dependensi

antara satu materi dengan materi yang lain, pola pembelajaran yang linear dan

menyeluruh sangatlah tidak menguntungkan, baik dari segi waktu, psikologis maupun

ekonomi. Dari segi waktu tentu saja pembelajaran yang sangat menyeluruh dan

memperhatikan setiap detil akan memakan waktu yang sangat banyak baik bagi dosen

maupun mahasiswa baik saat jam kuliah maupun di luar jam kuliah. Dari segi

psikologis cara pembelajaran ini akan membunuh keinginan mahasiswa untuk

mempelajari mata kuliah terkait karena mahasiswa akan kehilangan kesempatan untuk

berekspresi, selain itu tidak semua mahasiswa menyukai model pembelajaran yang

linear, beberapa mahasiswa berpola pikir global akan cenderung menyukai cara

belajar yang melompat-lompat dan akan berusaha untuk melihat gambaran besar sebelum

mempelajari setiap detilnya. Terakhir dari segi ekonomi model pembelajaran yang

komprehensif tentu sangat tidak menguntungkan, karena output dari sistem tersebut

hanya akan menghasilkan lulusan yang tidak siap untuk menghadapi dunia nyata,

alhasil lulusan-lulusan tersebut akan “terpaksa” belajar lagi di dunia nyata.

Sehingga mereka kurang produktif di saat awal.

Kembali ke cerita awal, aku menyadari bahwa agar para siswa dapat mengaplikasikan

ilmu mereka maka aku hanya harus menyampaikan seperlunya saja. Sesuai dengan apa

yang ditulis David C. Young dalam bukunya yang berjudul Computational Chemistry:

“By the end of their college career, most chemistry students have noticed that the
information being disseminated in their third- and fourth-year chemistry
classes-level seems to conflict with what was taught in introductory courses. The

course instructors or professors have not tried to intentionally deceive their
students. Most individuals cannot grasp the full depth and detail of any chemical
concept the first time that it is presented to them. <b>It has been found that
most people learn complex subjects best when first given a basic description of
the concepts and then left to develop a more detailed understanding over time.</b>
Despite the best efforts of educators, a few misconceptions are at times possibly
introduced in the attempt to simplify complex material for freshmen students.
The part of this process that perpetuates any confusion is the fact that texts and
instructors alike often do not acknowledge the simplifications being presented.”

Hal ini sesuai dengan metode belajar SCL (Student Centered Learning), dimana

pengajar hanya perlu menyampaikan konsep-konsep dasarnya saja, kemudian murid

diharuskan untuk menggali materi lebih dalam.

Pada tanggal 22 Mei aku mendapatkan kesempatan untuk menerapkan metode belajar

tersebut. Seperti yang sudah kutulis diatas kali ini aku berkesempatan untuk

mengajarkan WordPress. WordPress memiliki banyak sekali fitur dan pengaturan, jika

anda baru pertama kali menggunakan WordPress pasti anda akan canggung karena ada

begitu banyak link dan pilihan. Oleh karenanya aku memutuskan untuk mengajari

bagian-bagian yang esensial saja, dan membiarkan mereka untuk mempelajari detilnya

nanti bila mereka sudah merasa membutuhkannya. Dengan mengaburkan kompleksitas

diharapkan akan mencegah mereka kehilangan minat belajar. Selain itu kompleksitas

juga dapat menghentikan “flow”

(http://www.programming4scientists.com/2009/04/27/fine-tuning-your-programming-

brain/), sehingga dengan mengaburkan kompleksitas maka kita bisa lebih mudah

mendapatkan kondisi “flow”.

Pada pukul 13.00 materi WordPress telah siap, aku sudah makan siang dan sholat,

akupun langsung berangkat menuju TKP. Tetapi karena aku belum tahu dimana TKP-nya

maka akupun langsung SMS-an dengan Fitri ketua Forkesmagama. Akhirnya kita janjian

ketemuan di sebelah timur RS Wirosaban. Sesampainya disana ternyata Fitri dan Dalis

sedang makan di warung mi ayam. Akupun langsung menyambangi mereka dan memesan

segelas es teh. Kitapun ngobrol-ngobrol sambil menunggu yang lainnya datang.

Ternyata sekitar 20 menit kemudian datanglah Tedo, koordinator acaranya, sambil

membawa LCD proyektor. Tak lama kemudian kamipun berangkat bersama-sama ke rumah

Ocha anak FKG (Fakultas Kedokteran Gigi) yang tidak jauh dari posisi kami saat itu.

Sesampai disana ternyata cuman ada Ocha dan Ana yang juga dari FKG. Kemudian

kamipun segera menyiapkan peralatan untuk acara Workshop Pelatihan WordPress dalam

rangka upgrading Forkesmagama. Setelah semua alat sudah siap kemudian datanglah

Rifki ex-ketua sekaligus pencetus Forkesmagama. Sehingga peserta yang hadir ialah

Fitri(Farmasi), Dalis(Farmasi), Tedo(Farmasi), Ocha(FKG), Ana(FKG), Rifki(Farmasi).

Sebenarnya masih banyak lagi anggota Forkesmagama yang berasal dari fakultas

Farmasi, Kedokteran dan Kedokteran Gigi, namun karena banyak yang berhalangan hadir

maka yang datang hanya bertujuh termasuk aku. Meskipun yang datang hanya sedikit

acara tetap berjalan.

Segera setelah Tedo membacakan CV-ku aku pun segera menyampaikan materi dalam

bentuk PPT. Beberapa hari sebelumnya aku telah mendaftar WordPress dan meng-capture

setiap langkahnya sehingga aku bisa menampilkannya dalam bentuk PPT. Dengan

menggunakan slide show aku tidak perlu menggunakan koneksi internet untuk

menunjukkan langkah-langkah menggunakan WordPress hehehe… di dalam menyusun slide

WordPress aku berusaha menggunakan beberapa efek agar hal-hal yang tidak diperlukan

dikaburkan, sehingga mereka dapat fokus pada apa yang sedang kuajarkan (baca:

menghilangkan kompleksitas & komprehensifitas). Namun sayangnya saat sampai

ditengah-tengah pembuatan slide penggunaan efek tersebut tidak terlaksana karena

keterbatasan waktu.

Selama proses pengajaran, Alhamdulillah berjalan lancar. Mereka dapat mendaftarkan

diri di WordPress serta dapat menggunakan fitur-fitur dasar seperti Posting,

Comment (Discussion), Page, Tampilan, dll. Dan yang terpenting adalah minat belajar

mereka tidak surut akibat kompleksitas dari WordPress.

Alhamdulillah penyampaian materi kali ini cukup berhasil, ini adalah bukti bahwa di

dalam proses pembelajaran akan lebih baik bila kita hanya mengajarkan apa yang

benar-benar diperlukan serta menyingkirkan komprehensifitas dan kompleksitas. Kita

harus mempercayakan detil-detil materi kepada mereka, karena suatu saat kelak

mereka pasti akan mempelajarinya jika mereka sudah merasa membutuhkannya. Selain

itu dengan menyederhanakan materi dan mengutamakan apa yang benar-benar penting

menjaga minat belajar mereka serta memudahkan mereka dalam mengekspresikan ide-ide

mereka.

Bagi anda yang tertarik menggunakan slide PPT pelatihan WordPress dapat di-download

di link “My Masterpieces” di sebelah kanan. Slide tersebut menggunakan lisensi

Copyleft, yang berarti anda dapat menggunakan, mengedit, me-redistribute selama

bukan untuk tujuan komersial. Jika anda memodifikasi/rewrite dan menggunakan slide

ini untuk edukasi maka anda diwajibkan untuk menyertakan credit (dengan

mencantumkan nama penyusun slide) bagi penyusun slide tersebut. Segala macam bentuk

derivat dari slide tersebut wajib menggunakan lisensi yang sama (Copyleft). Jika

ingin menggunakan slide tersebut atau derivat dari slide tersebut untuk tujuan

komersial maka haruslah dengan ijin dari penyusun slide tersebut.

Pembuatan slide menggunakan: GIMP (untuk picture editing) dan Power Point 2010

Beta.

Referensi
Young, David C., Computational Chemistry, John Willey & Sons (2001).
http://www.programming4scientists.com/2009/04/27/fine-tuning-your-programming-

brain/

May 27, 2010