“Membangun manusia seutuhnya” itulah cita-cita pendiri negeri ini yang tertuang dalam UUD 45. Apakah cita-cita tersebut sudah tercapai? Tentu saja pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh diri kita sendiri. Aku? Tentu saja belum, perdjoeangankoe masih pandjaaang. Belakangan aku sadar bahwa aku sedikit demi sedikit mulai mengumpulkan potongan-potongan untuk mengisi liang-liang kosong dalam diriku. Jujur saja, semenjak kecil lingkup orientasiku memiliki kecenderungan pada dunia sains. Alhasil aku acuh tak acuh pada lingkup yang lain. Hal ini terlihat jelas dari nilai mata pelajaranku yang sangat bagus untuk pelajaran-pelajaran IPA, sedangkan pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Jawa, Sejarah, Geografi, Akuntansi, Ekonomi begitu jauh dari memuaskan.

Seiring berjalannya waktu akhirnya sampailah aku di pintu gerbang Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Di semester pertama aku mendapatkan mata kuliah Pancasila, mata kuliah di mana aku mulai mempelajari makna penting dari Nasionalisme, serta tujuan luhur para pendiri bangsa yang tertuang dalam Pancasila dan pembukaan UUD 45. Disini aku mulai menyadari akan arti penting dari “Menjadi manusia yang utuh”. Apakah maksud dari “Menjadi manusia yang utuh”? Menjadi manusia yang utuh bukan berarti menjadi manusia yang sempurna, melainkan berusaha untuk memahami setiap aspek kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Aspek-aspek tersebut amatlah luas, melingkupi Agama, IPTEKS (Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni), POLSOSBUD (Politik, Sosial dan Budaya), Hukum, Ekonomi, Bahasa, Sejarah, Psikologi, Kekeluargaan, Filosofi dll. Namun tentu saja kita tidak perlu untuk menjadi ahli di semua aspek. Era saat ini sangatlah menuntut profesionalisme & spesialisasi, yang berarti bahwa setiap orang haruslah ahli di bidangnya masing-masing agar dapat bekerja sama dalam suatu kesatuan di dalam mencapai suatu tujuan yang telah disepakati bersama-sama. Sayangnya spesialisasi telah membuat banyak orang lupa bahwa ada banyak hal yang seharusnya mereka pahami. Contoh gamblangnya ialah fenomena gaptek di antara para pejabat. Para pejabat seharusnya mengerti bagaimana cara menggunakan e-mail, cara transfer foto dari kamera digital ke PC, dsb. Namun para pejabat juga tidak diharuskan untuk menguasai IT.

Harus kuakui, menjadi utuh tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Aku sendiri tidak menyukai politik, ekonomi, sejarah. Namun seiring dengan berjalannya waktu, di dalam perjalanan hidupku aku dihadapkan oleh beberapa hal yang membuatku tertarik pada hal-hal yang dulunya aku tidak tertarik untuk mempelajarinya. Berikut adalah contoh-contoh beberapa kejadian di dalam hidupku yang membuatku tertarik untuk mempelajari hal-hal yang tadinya aku tidak tertarik untuk mempelajarinya:

1. Seringkali ada suatu acara yang mewajibkanku untuk terjun ke masyarakat di daerah pelosok dimana masyarakatnya sangat mengutamakan sopan santun sehingga saat berbicara akupun diharuskan untuk berbicara dengan bahasa Krama (bahasa Jawa halus, yang digunakan saat berbicara dengan orang yang berbeda usia). Entah itu saat KKN (Kuliah Kerja Nyata), Baksos, survey suatu acara (makrab), dsb. Hingga akhirnya aku pun tertarik untuk mempelajari bahasa Krama. Di Yogyakarta bahasa Krama pertama kali diajarkan saat SD, saat SD sendiri aku tidak menyukai pelajaran bahasa Jawa, alhasil nilaiku selalu jelek, akupun juga tidak memahami pelajaran itu. Sehingga akhirnya akupun menyesal, kenapa aku dulu tidak suka bahasa Jawa ya? Sekarang aku pun sedikit demi sedikit mempelajari bahasa Krama agar aku dapat berkomunikasi dengan masyarakat desa.

2. Aku sejak kecil tidak begitu suka sejarah, sampai SMA pun demikian. Namun belakangan aku sadar bahwa masa lalu itu penting untuk dipelajari karena mengandung pelajaran-pelajaran berharga yang tidak bisa didapatkan dengan menonton reality show yang sedang marak ditayangkan di stasiun-stasiun TV swasta. Selain itu ternyata pelajaran Sejarah itu mengasyikkan jika kita mengetahui detail-detail di dalamnya, kemudian mengamati logika-logika serta keterkaitan antara suatu kejadian.  Akhirnya akupun mulai menyukai cerita-cerita sejarah serta cerita kerajaan-kerajaan Indonesia di masa lalu.

3. Aku tidak pernah menyukai hukum dan perundang-undangan atau regulasi-regulasi yang ada di Indonesia. Namun itu berubah saat aku menyadari bahwa ada undang-undang yang mempengaruhi proses penemuan obat, utamanya penemuan obat yang berbahan alami. Sejak saat itu aku mulai rajin membaca UU untuk mengetahui bagaimana UU dapat mempengaruhi kehidupanku utamanya di bidang profesiku nanti.

Itulah beberapa kejadian yang menimbulkan semangat untuk mempelajari hal-hal yang semestinya kupelajari serta merubah kehidupanku. Aku harap Allah akan terus mengarahkanku ke hal-hal yang harus kupelajari agar suatu saat kelak aku bisa menjadi manusia yang utuh, amin… Selain itu pelajaran penting yang kudapat adalah bahwa untuk memahami suatu materi kita haruslah dapat menyukai suatu materi.

Lalu bagaimana dengan anda? Sudah utuhkah anda?

May 27, 2010