Previous parts:
Part 1, part 2, part 3, part 4part 5, part6

Ya, aku masih ingat saat aku pertama masuk di Fakultas Farmasi UGM tercinta, aku tidak begitu peduli yang namanya cewek, aku begitu konsen dengan kuliah. Hingga suatu saat, kalau tidak salah saat akhir semester 2 atau awal semester 3 aku melihat sesosok gadis yang begitu cantik dan manis. Wow, akupun terpukau. Saat itu aku masih memiliki idealisme untuk mencari gadis yang sekitar 5 tahun lebih muda, aku masih ingat saat aku berdiskusi dengan Nuri dan Maya saat praktikum (kami dulu satu kelas dan satu golongan praktikum, namun kemudian aku masuk PST dan mereka berdua masuk CCP) aku pernah bercerita kepada mereka tentang idealismeku itu. Namun seiring dengan berjalannya waktu ternyata aku semakin suka pada gadis itu, dan ternyata kami masuk dalam jurusan yang sama (PST) sehingga rasa sukaku semakin menjadi-jadi. Dan ternyata dia memiliki Quality of Interest yang kuidam-idamkan, wow! Akupun akhirnya jatuh cinta kepada gadis itu, meskipun ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan berkat kebodohan-kebodohan yang telah aku lakukan LOL.

Setelah lama rasa cintaku akhirnya mereda namun tidak pernah hilang, aku pun sadar bahwa itulah cinta yang sesungguhnya, setelah membandingkan dengan rasa sukaku yang dulu-dulu (saat sebelum kuliah) ternyata aku baru kali ini merasakan jatuh cinta. Adekku pernah bilang, “cinta pertama itu gak ada matinya”, dan aku rasa itu benar. Lama kelamaan rasa itu memang meredup, namun tidak pernah hilang. Belakangan sering kali aku merindukan perasaan yang dulu pernah ada, the “I don’t give a damn shit” state of mind. Keadaan di mana aku tidak peduli dengan cewek dan hanya berfokus pada cita-citaku. Menarik juga bagaimana idealisme kita bisa luntur saat bertemu dengan orang yang kita cintai, kemudian idealisme tersebut bisa kembali lagi setelah rasa cinta kita mulai memudar. Aku sadar bahwa ternyata cinta bisa mempengaruhi idealisme, dan oleh karenanya juga mempengaruhi pencapaian kita terhadap cita-cita. Aku ingat, aku pernah berdiskusi (via YM) dengan pak Enade tentang masa depanku, satu ketika pak Enade bertanya “Dif kamu belum punya pacar to?”, lalu aku bilang belum, lalu pak Enade berkata “Bagus, kalau begitu kamu bisa kerja di mana aja”. Jika aku mengingat diskusi itu aku jadi sadar pentingnya menjadi jomblo dalam meraih cita-cita. Jika kita memiliki pasangan “sebelum masa depan kita pasti” maka di dalam menentukan masa depan akan ada lebih banyak pertimbangan, utamanya terkait pasangan kita.

Meskipun demikian, tetap menjadi seorang jomblo tidaklah mudah bila di dalam benak kita selalu terbayang untuk memiliki pasangan, terlebih lagi bila di sekitar kita sudah banyak yang memiliki pasangan, terlebih lagi bila umur kita sudah semakin tua. Itulah sebabnya aku ingin secepatnya menuju the “I don’t give a damn shit” state of mind. Agar aku bisa benar-benar fokus pada apa yang aku tuju.

June 08, 2010