Dalam setahun belakangan ini tuntutan lingkunganku terhadap diriku semakin tinggi, dan saat aku mengatakan tuntutan terhadapku yang kumaksud adalah tentang skripsiku yang tak kunjung selesai. Semakin lama aku mengerjakan semakin banyak orang yang bertanya-tanya, kapan skripsinya selesai? Kapan pendadaran? Kapan seminar? Dan bukannya aku tidak menghargai kepedulian orang-orang di sekitarku, hanya saja seperti biasa orang-orang di sekitarku tidak memahami kepribadianku. Dalam hal ini yang tidak mereka pahami adalah kenyataan bahwa semakin mereka menanyaiku bukannya membuatku semakin semangat tetapi semakin tinggi resistensi yang kutunjukkan. Sesuatu yang disebut sebagai Stubbornness di sini, berikut kutipannya:

Independence, derived primarily from strongly introverted Thinking, leads to perhaps the most difficult aspect (for others) of the INTP, namely stubbornness. If an INTP is pushed into doing something he will automatically resist. The reason for the resistance is simply that any action must first be filtered by the Ti, guided by the Ne. He must be given the chance to reach an independent decision, approving or rejecting the action. Hence, he must withdraw to allow the analysis process to work. If withdrawal is not allowed then stubborn resistance is the inevitable result. However, others may not always find the INTP excessively stubborn, since the decision-making process can sometimes be rapidly accelerated when intuition takes the upper hand. The best way to get an INTP to do something is to suggest the idea as an option and let him sleep on it. Ultimately, the INTP must always believe that it is his decision. Once he is satisfied that the decision was independently reached, then he is content.

Haruskah aku menyalahkan orang-orang di sekitarku? Well basically, this won’t happen if I don’t take the Ideal way that lead me to a prolonged process. Jadi pada dasarnya ini adalah salahku. Tapi hei, selalu ada jalan untuk memperbaiki kesalahan yang telah kita perbuat bukan? Salah satunya adalah lewat komunikasi, dan hal itu terjadi pagi ini tanggal 27 Juni 2010. Saat itu aku sedang menonton National Geographic dengan tema Lamborghini. Ibuku masuk ke kamarku dan berulang-ulang mengingatkanku tentang skripsi. Membuatku semakin malas untuk mengerjakan skripsi -_-… hingga akhirnya aku mengatakan alasan sebenarnya kenapa aku tidak selesai-selesai. Aku menceritakan argumenku dengan panjang lebar dan berulang-ulang, tapi intinya adalah aku tidak ingin disuruh-suruh atau diingatkan karena itu membuatku semakin malas untuk mengerjakan. Lalu ibuku keluar dari kamarku dan tak lama kemudian akhirnya ibuku kembali dan mengatakan bahwa beliau tidak akan bertanya-tanya lagi dan memintaku untuk memberitahu kalau skripsiku sudah selesai. Kemudian ibuku keluar dari kamarku, dan selagi aku masih menonton film tadi tiba-tiba aku merasa sepertinya mataku berkaca-kaca, aku merasa sangat lega, karena aku mendapatkan kepercayaan lagi.

Inti dari cerita ini sebenarnya bukanlah mengenai Faith ataupun Stubbornness, melainkan mengenai komunikasi. Komunikasi yang baik dapat menyelesaikan masalah apapun, tidak peduli seberapa beratnya masalah itu. Dan komunikasi yang baik memerlukan keberanian, keberanian untuk berbicara dari lubuk hati yang paling dalam, dan keberanian untuk menuangkannya dalam tulisan seperti ini.

Tulisan ini kudedikasikan kepada kedua Orang Tuaku yang telah mendukungku selama proses menulis skripsiku, serta saudara-saudaraku yang telah peduli kepadaku, Arip, Rama, Rifki, Prof. Dunker, dan terutama saudara-saudaraku yang telah percaya padaku mas Pug dan mas Roes.

June 27, 2010