Saat itu jumat tanggal 9 Juli 2010, aku akan berangkat ke jakarta dengan menaiki kereta Fajar Utama. Kereta tersebut dijadwalkan berangkat jam 08.00 WIB dan sampai di Jakarta pada pukul 16.00 WIB. Jadi pagi itu kami langsung bersiap-siap untuk berangkat, baju-baju telah dipersiapkan sejak beberapa hari sebelumnya. Pada pukul 6.45 aku, bapakku dan ibuku berangkat dari rumah menggunakan taxi. Jika dipikir-pikir biasanya aku sedikit tegang jika akan bepergian jauh, terutama saat aku masih belum kuliah dulu. Saat aku belum memasuki jenjang strata satu seringkali aku merasa tegang saat akan bepergian jauh, aku sendiri tidak tahu kenapa, tapi sepertinya karena aku tidak terbiasa (gak kerasan) jika tidak berada di rumah sendiri. Seringkali aku merasa sulit tidur saat malam sebelum bepergian jauh, atau tidurku jauh dari nyenyak karena kegelisahan yang kualami saat sedang tidur. Namun seiring dengan berjalannya waktu aku mulai terbiasa, terutama mungkin karena KKN juga. Berada jauh dari rumah dalam jangka waktu lama membuatku lebih terbiasa untuk tidak berada di rumah. Berkat KKN aku bisa tidur kapanpun dimanapun, skill yang luar biasa bagiku mengingat aku biasanya sulit tidur kalau sedang tidak di rumah.

Namun di hari itu terasa lain, aku benar-benar tenang dan tidak terbebani. Mulai sejak malam sebelum keberangkatan sampai stasiun dan akhirnya sampai di tujuan, kemudian naik kereta. Aku sadar bahwa aku yang sekarang sudah mulai bisa membedakan mana yang harus dipikirkan dan mana yang tidak. Dan hal tersebut sangatlah berarti bagiku. Dengan membagi hal-hal menjadi mana yang “I don’t give a damn shit” dan yang “Ah, that’s important!” aku bisa menghemat energi mental dalam jumlah yang besar, dan hal tersebut sangatlah berarti bagiku karena aku yang dulu terlalu sering memikirkan (dan mengkhawatirkan) hal-hal yang sebenarnya tidak penting, dan itu amat sangat menguras energi mentalku terutama dalam bentuk perhatian (ke hal-hal yang sebenarnya tidak penting).

Dan jika aku melihat lebih dalam ke dalam diriku aku sadar, ini bukanlah mengenai kebiasaan saja, ini juga karena aku telah belajar menggunakan darkness. Aku sudah belajar menggunakan darkness sejak satu setengah tahun lalu. Menggunakan darkness berarti belajar menggunakan Anger, Lies, Hatred, Apathy, Pessimism, dan sifat-sifat buruk lainnya dalam mencapai apa yang ingin kucapai. Harus kuakui menggunakan darkness memang sangat beresiko, terutama saat tidak ada cahaya yang masuk sama sekali. Tetapi dengan menggunakan darkness dan light di saat bersamaan akan memudahkanku dalam mencapai apa yang menjadi tujuanku. In other words it is worth it to learn how to use the darkness. Dan itu terbukti lagi saat itu, dengan menjadi apathetic terhadap banyak hal aku bisa menghemat energi dalam jumlah besar.

Now I am much more carefree than before… another example of the benefit of the darkness…

The Knight of The Darkness
July 10, 2010

PS. Ini adalah tulisan pertama yang kutulis di luar Jogja, aku menulis ini di Jakarta :D