Tanggal 9 Juli 2010 aku menaiki kereta Fajar Utama, jurusan Jogja-Jakarta. Saat di kereta aku mengkonsumsi makanan dan minuman tertentu yang menyebabkan diriku terpaksa memproduksi sampah-sampah, baik sampah organik maupun anorganik. Saat aku berhasil memproduksi sampah-sampah tersebut akupun berusaha untuk menyimpannya untuk dibuang nanti. Tetapi bapakku malah bilang buang aja lewat jendela. Tetapi aku membiarkannya tetap di dalam, bodo amat dengan apa yang dibilang bapakku. Sebagai manusia aku berpikir, tidak baik bila ada sampah-sampah berserakan di pinggir sawah, apalagi kalau berupa kardus-kardus dan plastik. Kalau cuman kulit kacang atau bungkus lemper mah sudah pasti akan langsung kubuang keluar karena toh sampah-sampah macam kek gitu pasti akan musnah dari muka bumi dalam hitungan minggu.

Saya merasa tidak benar jika kita harus melanggar aturan atau merusak sisi estetika karena hal-hal yang super sepele. Lagi-lagi sisi idealisme saya muncul, tapi toh kalau dapat dipraktikkan dengan mudah kenapa tidak direalisasikan. Aturan ada agar kita warga negara tertib dan semuanya berjalan dengan lancar, kalau tidak ada warga negara yang tidak taat aturan pasti negara itu akan amburadul. Aturan dan ketaatan lah yang membuat suatu bangsa menjadi beradab, jika di negara kita orang-orang tidak taat aturan maka bangsa ini akan dicap sebagai BANGSA YANG TIDAK BERADAB!!! Dan oleh karenanya TIDAK AKAN PERNAH ADA PERADABAN DI NEGRI INI!!!

Woi anak-anak muda generasi penerus bangsa! Ngapain juga kamu turun ke jalanan nyuruh-nyuruh orang “Jangan korupsi! Jangan melanggar hukum! Jangan mempersulit rakyat kecil!” kalau kamunya sendiri masih suka nglanggar aturan! Kalau ujian suka curang, kalau ditanyain orang suka jawab yang gak bener, kalau dapat duit proyek penelitian suka diembat, kalau di jalanan masih suka ugal-ugalan, dan kalau-kalau yang lain. Itu mah sama aja orang gak pernah sholat nyuruh orang puasa, lak yo koplak to? Ada orang yang bilang, orang itu omongannya baru bener-bener punya kekuatan kalau omongan dan kelakuannya sesuai. Udah berkali-kali dibilangin “marilah mulai dari diri kita masing-masing” masih gak ngeh juga. Dasar kalian mahasiswa-mahasiswa yang mabuk akan euforia demonstrasi pasca era orde baru.

Marilah lanjutkan peradaban dengan menjadi orang-orang yang beradab. Anyway, itu gak berarti kita musti benar-benar strict, ada saat-saat tertentu di mana kita terpaksa melanggar aturan. Intinya adalah pada pertimbangan untung rugi pada diri kita dan pada orang lain, to put it in one word: Pragmatism.

July 10, 2010