Dalam postingan sebelumnya aku menulis “sometimes you don’t know where the line is until you cross it”, menilik perjalanan hidupku selama ini adalah menarik untuk diperhatikan bahwa aku seringkali mendapat kendali penuh dalam mengontrol emosi, mental maupun spiritual tertentu saat aku memahami makna sesungguhnya dari hal yang berusaha aku kontrol, atau jika aku ingin menggunakan bahasaku sendiri maka kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikannya adalah “Aku telah menemukan kata-kata yang tepat untuk kondisi emosi, mental atau spiritual tersebut”.

Okay, I admit it, what I was saying before was abstract. Konkritnya begini, seringkali aku melakukan sesuatu dengan “Auto-pilot Mode ON”, segalanya serba otomatis, I mean, most of the things that I’ve done is my true nature, no artificial stuff or whatsoever. Dan sayangnya, sayangnya tidak semua sifat alamiku baik, ada banyak cela di dalamnya. Dan seringkali aku tidak menyadari sifat-sifat yang kurang baik tersebut. Hingga… aku melampaui batas, atau dalam kasus-kasus tertentu aku melihat orang lain yang melakukan hal-hal yang biasa kulakukan namun melampaui batas. Dengan menyimpang (atau melihat penyimpangan) sedemikian jauh dari titik setimbang aku dapat menemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan baik titik setimbang maupun penyimpangan tersebut. Jika aku sudah mendapati makna sebenarnya maka aku bisa mengendalikan hal tersebut. Hmmm, aku jadi teringat dengan kata-kata dari sebuah buku (Stealing the Network: How to Own an Identity, 2005), berikut kopas dari buku tersebut:

Identity is a precious commodity. In centuries past, those who fancied themselves sorcerers believed that if you knew a being’s true name, you could control that being. Near where I live now, there are shamans that impose similar beliefs on their people. The secret is that if you grant such a man, an agency, this power over yourself through your beliefs or actions, then it is true.

Dengan terus melakukan komparasi antara diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita maka kita akan mendapati titik setimbang tersebut dan seberapa jauh kita dari titik setimbang tersebut. Pada kenyataannya kita terus melakukan komparasi dalam alam bawah sadar kita, it is unevitable. And that is good, that is mean that “u’re still attached to sanity”. Aku seringkali menemukan orang jenius tapi gila, namun kenyataannya mereka tidaklah benar-benar gila, mereka hanya lebih terbebaskan dari jeratan-jeratan yang menjaga agar mereka tetap dekat dari titik setimbang. Sebagai konsekuensinya mereka dapat berpikir jauh di luar batas pikiran orang pada umumnya. Mereka sadar di mana titik kesetimbangan itu dan sadar pula akan seberapa jauh diri mereka dari titik setimbang. Jika mereka mau mereka bisa saja kembali ke titik kesetimbangan namun kemungkinan besar mereka tidak mau karena mereka lebih nyaman berada jauh dari titik kesetimbangan. Berbeda dengan orang gila yang tidak dapat menentukan di mana titik kesetimbangan dan di mana posisi dirinya. Dan tidak tahu pula bagaimana caranya kembali ke titik kesetimbangan. Oleh karenanya pengukuran dan komparasi adalah vital dalam menemukan posisi kita.

Adakalanya dalam kehidupan ini aku harus berada begitu jauh dari titik kesetimbangan untuk mengetahui makna sebenarnya, dan adakalanya aku juga harus di titik berlawanan untuk mengetahui makna suatu hal.

Okay, that was just an entrée and doesn’t have anything to do with the title, next is the main course.

Belakangan aku sadar bahwa setiap orang punya caranya sendiri untuk sukses. Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Perang yang sebenarnya adalah perang melawan hawa nafsu”
Itu kira-kira sama artinya dengan perang melawan diri sendiri, sedangkan Sun Tzu pernah berkata:
“Jika kau ingin memenangkan perperangan maka pelajarilah lawanmu”.
Jika kedua pernyataan tersebut digabung maka akan menjadi hukum Rasulullah SAW – Sun Tzu:
“Jika kau ingin menang dalam perang melawan dirimu (baca: sukses) maka pelajarilah dirimu sendiri.”

Cara sukses seseorang tidak bisa benar-benar diterapkan pada orang lain, karena tiap orang memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Meskipun memang ada hal-hal yang umum seperti jangan menyerah, sabar, banyak berdoa, dll, namun setiap orang memerlukan cara-cara yang spesifik dalam meraih tujuannya, setiap orang punya kata-katanya sendiri dalam meraih suatu cita-cita. Kata kuncinya adalah eksplorasi diri.

Dan selama perjalanan hidupku aku terus menerus melakukan eksplorasi diri baik untuk mengetahui skill, interest, maupun kepribadianku. Aku masih ingat, bahkan Radif kecil yang masih duduk di bangku SD kerap kali mengganti hobinya setiap beberapa bulan sekali. Di satu waktu Radif kecil menyukai menanam tanaman hias maupun tanaman obat, di waktu lain dia memiliki hobi filateli, di waktu lain lagi bermain tamiya, dan seterusnya dan seterusnya. Sejak SD aku juga suka mengamati perbedaan kepribadian antara diriku dan orang-orang di sekitarku, saat SMP bahkan pengamatan dan analisis kepribadianku makin intens, saat beranjak SMA aku mulai membangun teori-teori akan diriku dan lingkunganku. Saat aku duduk di bangku kuliah aku bahkan semakin menggila dengan melahap begitu banyak artikel ataupun buku yang berkaitan dengan psikologi seperti penggolongan kepribadian, perbedaan antara laki-laki dan perempuan, psikosis, dll. Aku merasa bahwa psikologi adalah life-skill yang harus dipelajari, karena psikologi secara tidak langsung dapat memberitahu apa yang baik dan apa yang kurang baik dalam diri kita sendiri*.

Dengan memahami banyak hal tentang diriku baik kelebihan maupun kekuranganku aku jadi tahu apa saja yang kurang dari diriku, dan dapat mencari tahu bagaimana mengatasinya. Sedikit demi sedikit aku mulai paham apa yang menjadi kekuranganku dan ternyata aku mendapati bahwa satu atau dua sifat baik saja tidak cukup, semangat dan kerja keras saja tidak cukup, percaya diri dan telaten saja tidak cukup, sehat dan strategi yang baik saja tidak cukup, dan seterusnya. Banyak hal yang harus dipenuhi untuk dapat mencapai cita-cita yang besar. Complex positivity, begitulah aku menyebutnya… kesuksesan itu tidak simple, kesuksesan itu rumit dan setiap orang pasti punya caranya masing-masing…

August 04th, 2010
* This sentence added on August 6th

PS: You can’t fight the enemy that you can’t see, feel it, feel the presence, understand it and face it!