Hari ini bingung mau nulis apa, padahal aku harus posting setiap hari selasa dan jum’at pada pukul 23.59. Postingan yang sebelumnya juga mepet banget, ditulis 9 Agustus dan diposting 10 Agustus. Makanya postingan yang sebelumnya super pendek karena saya bingung mau nulis apa jadi nulis aja apa yang terlintas di pikirin saya saat itu. Oke, daripada bingung-bingung mending saya menjelaskan sedikit porsi dari skripsi saya, yakni asma.

Jadi apakah asma itu? Banyak pengertian tentang asma, berikut adalah penjelasan saya tentang asma, asma merupakan penyakit di mana terjadi pengurangan volume udara dalam paru-paru yang diakibatkan oleh sebab yang kompleks seperti penyempitan saluran trakea/bronkus, edema (pembengkakan akibat terlalu banyak cairan dan sel darah putih) dan pengeluaran lendir berlebih pada saluran trakea/bronkus. Penyebab asma cukup beragam, namun yang paling sering disebabkan oleh interaksi antara gen dan lingkungan. Yang dimaksud dengan interaksi antara gen dan lingkungan adalah adanya faktor genetika yang memberikan respon tertentu terhadap rangsangan dari lingkungan sekitar entah berupa debu, udara dingin maupun mikroba.

Berdasarkan fakta-fakta yang didapat dari penelitian selama berdekade-dekade didapati beberapa gen yang diduga bertanggung jawab terhadap penyakit tersebut. Kebanyakan gen tersebut merupakan gen-gen yang terkait dengan sistem kekebalan tubuh, hal ini sangat masuk akal karena seperti yang kita ketahui asma memiliki kaitan yang erat dengan alergi.

Sekarang marilah melihat asma dari segi molekular, selular dan jaringan. Asma dimulai dengan stimulus dari luar entah debu, mikroba maupun udara dingin. Apakah persamaan antara ketiga hal tersebut? Persamaannya adalah mereka bertiga sama-sama memicu sel mast (sel yang memproduksi histamin) untuk melepaskan histamin dari wadah-wadah penyimpanannya. Tunggu dulu! Apa itu histamin? Histamin pada dasarnya merupakan senyawa yang dilepaskan saat tubuh mendapatkan rangsangan dari benda-benda asing, benda-benda asing ini haruslah sesegera mungkin dimusnahkan karena dapat mengganggu sel-sel dalam tubuh kita berfungsi dengan normal, terutama bila benda asing tersebut adalah virus atau bakteri. Histamin berfungsi dalam membantu sel-sel darah putih menembus pembuluh darah menuju jaringan-jaringan dalam tubuh, di sisi lain histamin juga yang memberikan rasa gatal pada kulit saat kita mengalami alergi sehingga kita seringkali diberi obat antihistamin (CTM misalnya) saat sedang alergi. Jika anda cermat mungkin anda menyadari ada yang aneh dalam paragraf ini, jika anda tidak mengerti maksud saya maka kembalilah ke saat di mana saya menjelaskan tentang stimulus penyebab asma. Oke lah debu dan mikroba adalah benda asing, lalu bagaimana dengan udara dingin? Kenapa udara dingin dapat menyebabkan asma? Fungsi lain dari histamin adalah menjaga kondisi tubuh dalam kondisi setimbang yang secara ilmiah disebut homeostasis. Dalam hal ini histamin menjaga temperatur tubuh tetap normal, jika suhu udara menurun maka sel-sel mast akan diminta untuk melepaskan histamin untuk meningkatkan pembakaran dalam tubuh, namun histamin tidak meningkatkan pembakaran secara langsung melainkan melalui serangkaian reaksi yang rumit dalam tubuh. Proses produksi histamin yang tinggi terutama dalam paru-paru dapat membantu menghangatkan udara yang masuk dalam tubuh, dan pada kondisi yang normal menurunkan ukuran saluran pernafasan sehingga rasio luas-permukaan-saluran-udara / volume-udara meningkat yang menyebabkan suhu udara lebih mudah disesuaikan dengan suhu tubuh. Mekanisme ganda (peningkatan pembakaran kalori dan penurunan ukuran saluran pernafasan) tersebut akan membantu proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida dalam alveolus dapat berjalan dengan baik karena suhu udara rendah dapat memperlambat proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Sayangnya pada individu tertentu penurunan ukuran saluran pernafasan terjadi secara berlebih sehingga menyebabkan asma.

Struktur histamin

Lalu bagaimana histamin dapat menyebabkan asma? Sebelum beranjak lebih lanjut saya akan menjelaskan tentang proses terjadinya asma pada tingkat selular dan jaringan. Asma terjadi dalam dua tahap, yakni tahap awal dan tahap akhir. Pada tahap awal jaringan otot-otot polos pada saluran pernafasan akan berkontraksi (menjadi kencang) yang menyebabkan saluran pernafasan menyempit. Pada tahap akhir sistem kekebalan tubuh menyebabkan pelebaran pembuluh darah di saluran pernafasan, hal ini menyebabkan produksi lendir berlebih dan peningkatan jumlah sel darah putih yang menyebabkan edema. Jika asma terjadi secara berkepanjangan maka dapat menyebabkan hipertrofi (pembesaran ukuran jaringan akibat membesarnya ukuran sel-sel) yang dapat kembali normal ataupun hiperplasia (pembesaran ukuran jaringan akibat membelahnya sel-sel) yang tidak dapat kembali normal.

Perbandingan saluran pernafasan normal (kiri) dan terkena asma (kanan) Sumber: http://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMp048139

Histamin memiliki peran penting dalam menyebabkan asma tahap awal, sedangkan pada tahap akhir histamin tidak memiliki peran (secara langsung) karena pada tahap akhir kebanyakan histamin telah mengalami metabolisme oleh tubuh. Pada tahap awal histamin yang dilepaskan akan ditangkap oleh reseptor histamin (reseptor adalah jenis protein yang dapat menyampaikan sinyal dari luar ke dalam sel) yang terdapat pada sel-sel otot polos saluran pernafasan. Melalui serangkaian proses penyampaian sinyal yang spesifik kadar kalsium dalam sel-sel tersebut meningkat, hal ini akan menyebabkan kecenderungan sel-sel otot polos berkontraksi meningkat. Inilah yang biasa disebut asma tahap awal.

Pada kenyataannya histamin bukanlah satu-satunya zat yang menyebabkan asma, sel mast juga menyimpan leukotrien dan interleukin. Kedua zat tersebut yang menyebabkan sel-sel darah putih datang berbondong-bondong dan teraktifkan saat sampai di saluran pernafasan. Hal inilah yang menyebabkan edema dan keluarnya lendir secara berlebih. Karena proses ini cukup memakan waktu maka proses ini menimbulkan respon setelah 3-5 jam kemudian sehingga disebut dengan asma tahap akhir.

Proses perekrutan sel imun ke saluran pernafasan. Sumber: http://www.nhlbi.nih.gov/guidelines/asthma/03_sec2_def.pdf

Karena asma terjadi dalam dua proses yang berbeda maka seringkali dalam menangani asma digunakan dua obat yang berbeda. Obat pertama biasanya adalah bronkodilator, suatu obat yang berfungsi memperbesar saluran pernafasan dengan cara merilekskan otot-otot saluran pernafasan yang berkontraksi. Obat yang kedua adalah senyawa-senyawa yang berfungsi menurunkan kekebalan tubuh agar tidak terjadi respon kekebalan tubuh secara berlebih, obat ini efektif dalam mencegah edema dan produksi lendir berlebih dalam saluran pernafasan.

Bronkodilator yang sering digunakan biasanya merupakan senyawa-senyawa beta-adrenergik, senyawa ini merupakan analog dari adrenalin. Itulah sebabnya kenapa suntikan adrenalin dapat digunakan untuk asma akut. Karena adrenalin mampu membantu melebarkan saluran pernafasan. Selain senyawa-senyawa beta-adrenergik dapat pula digunakan senyawa-senyawa turunan xanthin, teofilin misalnya. Teofilin banyak terkandung dalam teh, itulah sebabnya kenapa segelas teh hangat baik diminum untuk orang yang terkena asma.

Untuk senyawa penurun kekebalan tubuh biasanya merupakan senyawa-senyawa golongan kortikosteroid. Senyawa ini dapat mencegah diproduksinya protein-protein yang bertanggungjawab dalam proses asma, utamanya protein-protein dalam proses kekebalan tubuh. Sebagai akibatnya sel-sel darah putih yang berumur pendek tidak akan teraktifasi, padahal aktifasi penting untuk menjaga sel darah putih tetap hidup sehingga dapat menghancurkan benda-benda asing.

Dengan mengkombinasikan beta-adrenergik dan kortikosteroid maka dapat mengobati asma tahap awal dan tahap akhir. Namun baik senyawa beta-adrenergik maupun kortikosteroid memiliki efek samping yang cukup berbahaya. Beta-adrenergik merupakan senyawa sejenis adrenalin sehingga dapat meningkatkan tekanan darah, meningkatkan kadar gula darah dan meningkatkan detak jantung. Sedangkan obat-obat kortikosteroid sendiri dapat menurunkan kekebalan tubuh yang dapat membuat kita rentan terserang penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus atau bahkan kanker. Oleh karenanya obat-obat tersebut tersedia dalam bentuk inhalasi (hirup) sehingga obat-obat tersebut hanya bekerja di paru-paru dan tidak menyebar ke seluruh tubuh.

Semoga dengan artikel ini dapat membantu anda dalam memahami penyakit asma, jika ada pertanyaan silahkan bertanya dengan mengisi komentar di bawah.

13th August, 2010