Siapa sangka bahwa ternyata kemana kita memandang maka kesana lah standar kita tertancap. Sebagai seseorang yang “pada awalnya” merasa sangat percaya diri, dipenuhi dengan mimpi muluk-muluk dan tidak mengerti arti dari realitas yang sebenarnya aku selalu memandang ke puncak gunung. Aku selalu membayangkan bahwa posisiku berada di kaki gunung, aku selalu melihat bahwa banyak orang yang berada di bawahku, dibanding merasa harus ada yang diisi aku justru merasa selalu meluap-luap. Aku selalu berusaha menuju ke puncak dan aku yakin bahwa aku bisa mencapai puncak itu. Namun setelah aku menyadari betapa sulitnya mendaki gunung yang terjal ini maka akupun berkata “Holy shit! So this is reality? Am I gonna make it?”, melihat ke puncak, dan memandang perjalanan yang terjal di sekitarku akupun mulai melihat begitu banyaknya “ketidakutuhan” dalam diriku. Akupun merasa bahwa aku harus utuh sesegera mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa harus mengisi begitu banyak lubang untuk menjadi utuh, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa begitu takut akan ketidakutuhan diriku di dalam perjalananku menuju puncak.

Hingga suatu ketika aku sadar… aku hanya belum terbiasa… aku belum terbiasa dalam realitas ini. Selama ini aku selalu dimanjakan oleh pikiran dan fantasiku, aku selalu meluap-luap karena aku acuh tak acuh terhadap realita, di saat yang bersamaan aku telah terbiasa melihat ke puncak. Namun karena kini aku telah melihat dan merasakan pahitnya realita aku harus belajar melihat ke bawah, I have to learn to imagine that things could always have been worse, to appreciate the condition and circumstance that I have, to thanks to God no matter what…

Memang sulit membayangkan semua hal yang kulalui ini bisa lebih buruk lagi, tapi akan kucoba… Biarpun sulit akan kucoba… If I don’t have such skill, then I don’t have what it takes to stand on top of the world.

August 30th, 2010