What if? What if the truth and faith that I’m hold is wrong? How should I find out? Test it of course, but how? Kemarin sempat debat dengan seseorang yang tidak dikenal di internet, friend of friend, via statusnya temenku. Panjang dan lebar, tapi intinya ialah perlukah kita berkoar-koar tentang sesuatu yang jauh di sana, jauh di luar jangkauan kita? Dia (sebut saja M), beranggapan bahwa kita tidak perlu menganggapi hal tersebut, jangan buang energimu untuk itu, melainkan lakukan yang terbaik untuk orang-orang di sekitar kita dan beri teladan yang baik. Ya, saya akui hal itu memang ada benarnya, tapi yang kurang saya setujui ialah bahwa kita tidak perlu menanggapi apapun terhadap hal-hal yang diluar kendali kita. Argumen saya ialah penting bagi kita untuk mempertemukan argumen-argumen kita, bahkan untuk hal-hal yang di luar kendali kita sekalipun. Karena cara pandang kita terhadap hal-hal tersebut akan mempengaruhi cara kita bertindak nantinya. Bagaimana kalau ternyata cara pandang atau kepercayaan kita terhadap suatu hal ternyata kurang benar? Saya tidak berbicara tentang agama di sini, melainkan kejadian sehari-hari yang ada di sekitar kita baik yang dalam kendali kita maupun di luar kendali kita.

Contohnya saja, saya berpendapat bahwa dengan adanya bakteri Sakazakii pada susu maka penambahan antibodi untuk mematikan patogen-patogen dalam usus menjadi tidak relevan karena dengan dugaan kuat adanya bakteri Sakazakii otomatis kita harus menggunakan air panas (>70 derajat C) sehingga antibodi akan rusak. Lalu anda berpendapat berbeda, karena menurut anda ada zat yang dapat menstabilkan antibodi pada suhu tinggi. Dengan adanya pertemuan dua pendapat yang berbeda maka kelak akan mencapai satu titik temu, dan bila saya tidak mempertemukan pendapat saya dengan orang lain maka saya akan terus menerus memiliki keyakinan yang salah dan keyakinan itu pasti akan menjalar dalam derivat produk-produknya yang lain (keyakinan-keyakinan lain yang diturunkan dari keyakinan itu).

Kemudian contoh lainnya tentang penistaan agama dan pembubaran ormas, contoh konkrit yang kami bicarakan saat itu, kalau saya tidak mengutarakan pendapat saya maka saya tidak akan tahu apa yang menjadi pusat perhatian teman saya, apakah tindakan pemerintah atau tindakan ormas tersebut. Selain itu kita bisa saling berbagi informasi dan wawasan akan siapa berbuat apa, mengapa demikian, dan apakah hal tersebut dapat dibenarkan atau tidak. Dan yang terpenting adalah kita dapat lebih memahami orang lain. Memang kita tidak bisa memberikan dampak apa-apa secara langsung pada apa yang terjadi jauh di sana, tapi kita saling mempengaruhi satu sama lain, entah itu keyakinan, pandangan, perasaan maupun mindset. Bagaimana bila pandangan kita salah? Dan kita tidak pernah membicarakannya dengan orang lain? Sudah barang tentu pandangan kita terhadap dunia ini akan selalu salah. Selain itu membicarakan hal-hal yang ada di sekitar kita meski di luar kendali kita dapat melatih rasa kritis kita, kewaspadaan dan menambah wawasan. Saya rasa sebagai warga negara yang baik ada baiknya mawas diri, mawas lingkungan, mawas bangsa dan mawas multi-bangsa.

Cukup sekian dari saya dan terima kasih.

February 17th 2011