Previous part: Part 8

Aku punya suatu kebiasaan yang kuyakin semua orang juga memilikinya, yakni berkhayal tentang orang yang kita sukai. Hei, jujurlah, itu normal bukan? :D Anyway, itulah yang ingin kubicarakan saat ini. Ya ya, aku tahu, topik yang konyol memang, tapi aku merasa topik ini layak untuk diperbincangkan.

Pertama-tama aku ingin memulai dari saat pertama kita menyukai seseorang. Saat anda berjumpa dengan seseorang yang nampaknya menarik, entah karena parasnya, caranya berbicara, atau gayanya maka mulailah timbul getaran-getaran dalam hati yang membuat anda grogi atau bahkan salting saat berbicara dengannya. Pada saat itu anda memang belum banyak mengenalnya, sehingga saat anda mulai mengkhayalkan diri anda dengannya andapun berkhayal dengan semena-mena, why? Karena masih banyak yang anda belum ketahui dari dirinya sehingga ruang untuk berimajinasi begitu luas! WTF! Lalu seiring dengan berjalannya waktu anda mulai mengenalnya sedikit demi sedikit, kemudian khayalan anda tentang dirinya menjadi semakin spesifik dan semakin sempit. Saat anda tahu dirinya ternyata gemar bersepeda di minggu pagi lantas anda berkhayal bersepeda dengannya di minggu pagi. Saat anda tahu dirinya ternyata gemar bermain gitar andapun berkhayal anda ikut menyanyi mengikuti alunan petikan gitar darinya. Saat anda tahu dirinya ternyata gemar memotret, andapun mengkhayal dipotret oleh dirinya dengan pose-pose yang narsis. Dan semakin lama anda semakin mengenalnya semakin spesifik dan semakin realistik pula khayalan anda.

Wait a minute! Is it really important? Hohoho… tidak juga, tergantung anda melihat cerita ini dari sisi mana. Anyway, IMO saat awal perjumpaan anda dengannya dan anda berkhayal dengan semena-mena adalah salah satu tahap yang paling konyol. Tanpa adanya “data-data” yang akurat dan terpercaya anda bebas memilih khayalan yang anda mau (wild imagination), anda bisa berkhayal selalu rukun dengannya atau berkhayal menjalani kehidupan dengan penuh mind games di dalamnya, keduanya adalah benar :p setidaknya demikianlah yang dapat anda khayalkan sampai anda mendapatkan “data-data” terbaru dan up to date. Khayalan-khayalan yang bersifat geje yang timbul akibat rasa suka yang belum terasionalkan ini merupakan indikasi adanya harapan-harapan terhadap orang yang kita sukai, hmmm… harapan? Kenapa berharap pada orang yang sebenarnya belum pasti kita cintai atau tidak? Hahahahaha, cuman perasaan sesaat, hanya beberapa jam atau beberapa hari sebelum kita tersadar dari harapan yang tidak pantas untuk dikejar.

Oke, oke, katakan anda sudah tersadar dari harapan yang “konyol” itu, lalu apa selanjutnya? Selanjutnya memasuki tahapan let it flow, anda mungkin masih mengkhayalkan dirinya (meskipun jarang), mungkin juga tidak sama sekali. Atau anda bahkan mungkin sudah tidak ambil peduli sama sekali terhadap dirinya. Lalu ada cewek lain yang menarik perhatian anda dan siklus yang sama terulang, duh… atau mungkin nasib berkata lain, anda semakin sering bertemu dengan dirinya, berinteraksi dengan dirinya, lalu menemukan beberapa quality of interest dalam dirinya. Akhirnya andapun menyukainya semakin dalam dan andapun melihat dirinya semakin cantik dan semakin cantik. And oh crap… you begin to falling in love with him/her… you don’t see it coming, it just happen before you know it.

Kemudian, jika anda adalah orang yang hobi berpikir seperti saya mungkin akan ada kesempatan dimana terlintas di pikiran anda, apakah dia benar-benar untukku? Atau jika tidak anda mungkin tidak peduli sama sekali, yang anda pikirkan adalah love love love love and love. Anda benar-benar buta dan tuli, saya katakan A anda tidak mendengarkan, saya bilang B anda pun juga tidak mendengarkan. Anda selalu berkata “dialah yang terbaik untukku, aku tidak peduli kata orang lain”.

Nah saatnya saya membahas khayalan stage selanjutnya, khayalan semi semena-mena, kenapa semi semena-mena? Karena pada tahapan ini anda sudah memiliki cukup banyak data tentang dirinya dan khayalan anda sangat spesifik dan terbilang cukup realistis. Namun masih ada satu masalah, perasaan anda masih menguasai diri anda, alhasil apa yang anda bayangkan masih belum “sempurna” karena perasaan mengalahkan logika. Khayalan baru dapat dikatakan realistis jika dibangun dengan data-data yang akurat dan memenuhi hukum logika (satu potongan bersesuaian dengan potongan-potongan lainnya).

Hingga suatu saat anda memasuki tahapan cinta yang rasional, perasaan anda mulai mereda dan stabil. Pada saat ini anda sudah mulai bisa menggunakan logika, anda sudah bisa melihat kekurangan-kekurangan pada pasangan anda, anda pun juga tidak sejaim yang dulu. Kini khayalan andapun mulai berubah, anda bisa membayangkan ketidakcocokan, kebohongan, kemarahan, pertengkaran atau mungkin bahkan kekerasan dalam khayalan anda. Nah, ini dia khayalan yang lebih realistis, after all… relationship is not always going well…

Sekarang mari fastforward (khayalan kita)… pernahkah anda membayangkan bagaimana rasanya berumah tangga dengan seseorang yang anda sukai/cintai? That is the highest level of daydreaming… that’s right, daydreaming about having household with someone you love… bayangkanlah bagaimana rasanya berumah tangga dengannya, bayangkanlah bagaimana kalian bersama di dapur, di ruang keluarga, merawat anak, bekerja, mengurus rumah, semuanya bersama dengannya. Bisakah anda membayangkan semua kegiatan berumahtangga dengannya? Aku tidak bisa membayangkan bagian ini sama sekali jika orang itu benar-benar bukan untukku, jikalau aku menyukai seseorang dan aku merasakan quality of interest, bahkan chemistry dengan orang itu lalu aku tidak bisa membayangkan sepenuhnya kegiatan-kegiatan dalam rumah tangga meskipun aku memiliki data yang sedemikian banyak tentang orang itu maka itu artinya dunia kami tidak sepenuhnya overlapping… dulu aq pernah berdiskusi dengan salah seorang seniorku, dan kami sepakat bahwa jika kau tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya berumahtangga dengan seseorang yang kau cintai maka dia bukanlah soulmate-mu.

Interesting isn’t it? Have you ever try it? Try to imagine living together with someone you love and bound by marriage. Can you imagine that? Can you imagine everything that might happen? Can you imagine how the both of you will solve the problem in case it happens? If no image come to your mind despite the fact that you have so much data about him/her then (s)he is not for you.

In the end, for me daydreaming is just another tool to check how strong my chemistry with someone I like or love, another tool to see how much overlapping between my world and her world, another tool to avoid wasting my time by being with someone that’s definitely not for me, another tool to help me define my future…

April 20th, 2011

Muhammad Radifar