Well, this is the day of my friend’s wedding and I should be there… But I didn’t.

Cerita bermula sejak hampir sebulan lalu. Saat itu aq begitu sering bermain facebook, terutama bertandang ke group INTP, perkumpulan para orang gila -_- … Aq ingin bercerita tentang itu juga, but I’ll save that for another time. Setelah “sedikit” menggila di dunia maya entah kenapa aq malas facebook-an. Di sisi lain masa pakai kartu sulastri-ku sudah habis, jadi aq pun tak bisa berselancar ria. Tak lama setelah insiden itu aq dapat kabar katanya salah satu temanku akan menikah, sebut saja A1, saat itu aq tidak tahu dia akan menikah dengan siapa. Aq menerima kabar tentang pernikahan kawanku dari IQ, “temen kita ada yang mau nikah, kau harus membuka facebook” katanya. Pada awalnya kukira si K2H. Setelah tak lama kemudian aq berhasil bertandang ke dunia maya lagi saat diriku bertandang ke kampus. Di facebook aq menerima PM dari temanku, sebut saja A2 yang juga meng-CC PM itu ke sejumlah temanku yang lainnya. Dan saat kubuka aku pun agak terkejut, ealah, ternyata dugaanku salah, ternyata yang menikah adalah A1.

Dan entah kenapa aq merasa kurang bersemangat untuk ke sana. Biasanya salah satu faktor pembuat malas adalah posisi rumah teman yang jauh + gak jelas. Tapi pada kenyataannya diriku sudah pernah ke rumah A1 saat A1 mengalami kecelakaan, FYI rumahnya sekitar 80 km dari kota Jogja. Saat itu aq dan teman-temanku berkunjung ke rumahnya, saat itu aq berkunjung bukan sebagai teman dekat karena aq memang bukan teman dekatnya, tapi lebih karena kesetiakawanan sesama anggota FSI, terutama karena diriku adalah paketu halah… ra penting banget hahahaha… anyway, saat itu aq berkunjung bersama beberapa teman dekatku, ada A2, A3, IQ, dan beberapa teman lainnya. Jika diingat-ingat memang “sedikit” konyol karena ada beberapa kejadian yang membuatku merasa bodoh, beberapa diantaranya yakni pada awalnya kami berjanji untuk berkumpul dan berangkat jam 6 pagi sehingga aq bangun sekitar jam setengah 5 pagi lalu segera mandi dan sarapan lalu berangkat ke kampus. Sampai di kampus ternyata aq yang pertama sampai, waktu itu masih sekitar jam 5.45 dan pak bon baru nyapu-nyapu kampus. WTH… dan tiba-tiba aq teringat, kalau aq belum shalat subuh! Ya Allah, koq yo isa kie lo, dagelan tenan og… Aq pun bergegas ke mushola untuk wudhu dan menunaikan shalat subuh. Tak lama kemudian N1, TTM-ku saat kami sekelas dulu tiba. Lalu aq menceritakan tentang ceritaku saat aq lupa shalat subuh dan kami pun tertawa hahahaha. Kemudian setelah hampir jam setengah tujuh kami pun berangkat. Kejadian bodoh kedua terjadi saat kami sampai di kota Solo, alamaaaaakkk… ternyata gak ada yang apal jalan-jalan di kota Solo, alhasil kami pun terjebak di kota itu cukup lama (Sekarang aq baru ingat kalau N1 sebenernya berasal dari Solo, koq dia gak apal jalannya ya? At least jalan antar kota kek, yah mungkin karena di cewek hahahaha…) Setelah “puas” berkeliling-keliling di kota Solo akhirnya kami berhasil lolos dari kota itu. Tujuan selanjutnya tentu saja menuju ke kota Sragen, tempat tinggal si A1.

Setelah kami memasuki area Sragen tak taunya kami mulai mblasuk-mblasuk via kawasannya pithecanthropus dan kjokkenmoddinger a.k.a. Sangiran. Kinda nostalgic for me, soalnya dulu saat SMA aq pernah ke sana. Setelah melewati kawasan Sangiran tibalah kami ke kawasan berkuda, er… maksudku kawasan di mana terdapat lubang-lubang di jalan sehingga motor yang kami tunggangi meloncat-loncat seolah-olah kami sedang berkuda, ditambah lagi gayaku yang meniru koboi yang sedang menunggangi mustang. Am I a retard or something? Ternyata penderitaan kami belum selesai sampai di situ, saat di tengah acara mblasuk-mblasuk ternyata kami justru sempat tersesat, bingung antara memilih jalan yang ini dan itu dan bla bla bla. Setelah perjuangan yang berat hingga berdarah-darah akhirnya kami pun tiba di rumah si A1. Sampai di sana Alhamdulillah kondisi A1 udah baikan, kami pun memulai konferensi pers bersama A1 dan ibunya. Saat mendekati akhir konferensi pers kami ingin meninggalkan sejumlah harta warisan kami untuk “sedikit” meringankan beban A1, dan di sinilah terjadi kebodohan selanjutnya, karena saat kami ingin menyerahkan harta kami ternyata tidak ada yang membawa amplop, lalu kami memutuskan untuk merakit amplop sendiri ala kak Made (merujuk pada acara Hand Made) dengan bahan-bahan seadanya, what idiot fools.

Kebodohan masih berlanjut saat kami hendak pulang, I was in a rush, why you’re asking me? Karena sejujurnya besok adalah agenda saya untuk memberikan kenang-kenangan yang tak terlupakan pada kawan-kawan FSI yang saya cintai dan saya banggakan dengan menyesatkan mereka di sebuah hutan di gunung Merapi*. Sialnya kami tidak punya banyak waktu karena sebentar lagi akan ada kuliah, kalau tidak salah jam 2 dan kami saat itu sudah jam 12 dan kami masih di Sragen, alhasil aq, A2, A3 dan IQ bergegas secepat yang kami bisa, namun apa daya ternyata motor yang ditunggangi A2 dan IQ sedikit bermasalah sehingga A2 meminta kami untuk meneruskan perjuangan kami tanpa mereka. Lalu A3 yang sedang menyupiri motor yang kami tunggangi memacu motor tersebut hingga di atas 100 km/jam, and that was fucking awesome lol. Alhasil kami berhasil menempuh Sragen-Ngayogyakarta Hadiningrat dalam tempo 2 jam saja. Do we make it? Er… saat itu memang kami sampai di kampus jam 2… ummm… katakanlah lewat sedikit. Dan kami lihat pintu ruang kuliah kami ternyata sudah ditutup. “sigh… kita telat” pikirku, dan tak dinyana-nyana ternyata pak Yosi keluar dari ruang kuliah kami, ternyata kuliah dibatalkan karena dosen sebenarnya (yang aq lupa siapa) sedang ada urusan lainnya. Dan diriku pun segera memberikan pengumuman tentang acara kita besok, tentang ketetapan acara jam berapa hingga jam berapa, apa saja yang perlu dibawa, prosedur perjalanan dll. sigh… ternyata sempat.

Ya ya, aq tahu, “sedikit” melenceng dari topik pembicaraan yang sebenarnya. Kembali ke topik, jadi jarak yang jauh sebenarnya bukanlah alasanku untuk menjadi malas, belakangan aq memang sedang malas ngapa-ngapain, malas balas sms, malas facebook-an, malas makan, dan malas-malas lainnya. My world is changing a lot yeah**… Di tengah-tengah kemalasanku itu akupun jadi malas untuk membalas PM yang dikirim oleh A2. A2 ingin memberikan undangannya kepada teman-teman yang lain tapi karena arena bermain A2 yang berbeda membuatnya sulit memberikan undangan secara personal satu persatu hingga kemudian A2 menitipkannya kepada R1 yang notabene sudah menetap di kampus Farmasi UGM. And despite knowing that fact I even still way too lazy to contact R1 to meet and ask for my invitation letter. Kinda idiotic I know…

Kemudian setelah seminggu sebelum acara R1 mengontak aq, “ah, pasti mengenai undangan” pikirku. But not really, no. Dia ternyata minta dibuatkan desain/layout untuk label jamu yang sedang dikelolanya, meskipun sebenarnya saat dia datang ke rumahku dia juga sekalian menyerahkan undangan untukku. and it was shocking me, really, karena ternyata yang akan menikah dengan A1 adalah H1, adik angkatanku sendiri, Is this some kind of joke? Siapa juga yang mengira? Pertama A1 yang dikenal sebagai cewek muslimah dan tidak pernah terlihat bersama seorang cowok ternyata menikah secepat ini. Kedua ternyata yang menikah dengan A1 adalah adik angkatanku sendiri. And it was some sort of laughing matter to me lol. Jika aq Patrick Star mungkin aq akan  langsung berteriak “KENAPA SEMUA INI BISA TERJADIIIII!!!!” hahahahaha.

Dan di saat R1 bertandang ke rumahku kami sempat berbicara tentang kemungkinan aq dan dia untuk memenuhi undangan tersebut. Dan ternyata R1 masih bingung apakah dia bisa pergi atau tidak mengingat akan banyak ujian di minggu saat pernikahan A1. Dan kamipun juga sempat membicarakan kemungkinan kami nebeng E1 seperti saat pernikahan A4 dan E2 dulu.

Sosok A5 saat di kampus

Hari demi hari berlalu aq bahkan masih malas untuk mengontak E1, dan ternyata R1 juga masih belum pasti, apakah bisa ikut atau tidak. Hingga tibalah H-1 (bukan, bukan nama samaran, tapi 1 hari sebelum acara) aq pun mengontak E1, dan ternyata dia ikut, tapi sayangnya gerobaknya yang boros bensin itu sudah penuh. Kemudian aq mencari alternatif lainnya, mungkin bisa A5, karena kemaren saat pernikahan A4 dan E2 dia dulu juga bawa mobil (but not his actually, so where the hell is his car anyway?). Jadi aq pun mencoba mengontak A5, dan dia bilang dia tidak diundang. Oh? Aq pikir akan banyak teman-teman (terutama teman FSI) yang bakal diundang, ternyata malah tidak. Menarik juga, mengingat A5 adalah sosok yang terkenal dan memiliki kemampuan intelektual yang luar biasa halah… Lalu aq pun berusaha meyakinkan A5 untuk ikut meskipun tidak diundang, lha wong temen satu kelas koq. Aq yakin banyak teman-teman yang diundang tapi justru tidak bisa hadir mengingat acaranya hari senin, apalagi hari kamis-minggu depannya libur karena harpitnas, so mereka pasti lebih prefer untuk pulang/main-main di saat itu. Oleh karena itu sudah jelas A5 bisa meramaikan suasana, halah, apaan siiihh… Anyway sebenernya A5 bisa ikut cuman mungkin karena aq ngasih taunya dadakan dan dia gak diundang dia jadi males ikut. Ya sudah, mau gimana lagi? Sebenernya masih ada alternatif lainnya, yakni A4 dan A2. Karena bojonya A4 kerja di sini ada kemungkinan bahwa A4 bakalan balik ke sini dan menjemputnya, dan mungkin bakalan berangkat dari sini menggunakan mobil, untuk mengetahuinya mungkin aq bisa mengontak E2 (bojonya A4) dulu. Tapi entah kenapa diriku sudah dirundung malas duluan plus rasa pesimis. Alternatif lainnya adalah A2, tapi kalau aq satu mobil dengan A2 maka aq bakalan satu mobil dengan si Dia, whoa whoa… seriously, that’s gonna be really awkward. And she’ll feel so uncomfortable for 3 hours straight (and twice). Bahkan saat aq tidak tahu apakah A2 bakalan ikut bareng bojonya aq pun sudah mengurungkan niatku untuk itu. Ya sudah lah, aq urungkan niatku untuk ikut. Hey, once again, it is nothing personal really. My head wasn’t in the game that time.

Satu hal lain yang ingin kubicarakan di sini adalah kenyataan bahwa A5 dan banyak teman-teman sekelasku yang lain yang tidak diundang. Aq tidak tahu berapa banyak teman angkatanku yang diundang (secara resmi a.k.a. dengan surat undangan bukan sms atau tag facebook) tapi melihat bahwa saat A2 dititipi undangan dan mengirimkan PM via facebook pada 13 atau 14 orang teman membuatku berasumsi bahwa teman satu angkatan yang dia kirimi undangan tidak lebih dari 20. Entah jika dia mengirimkan lainnya via pos? (does such thing even exist?) This is truly an interesting fact for me and makes me wanna analyze this. Jadi, apa yang membuat orang mengundangmu dalam acara pernikahanmu atau tidak? Oke, pertama kau haruslah merupakan teman (dekat) dari yang punya gawe, kedua kau tidak boleh dibenci atau memiliki hubungan yang rumit dengan yang punya gawe, ketiga posisimu haruslah memungkinkan untuk menghadiri acara tersebut (seriously, how come you expect them to send you the invitation card when you’re going abroad?). Oke jadi itu adalah faktor-faktor dari si invitee, lalu dari si inviter? Pertama, tergantung pada kondisi finansial (the more money you have the more friend you can invite, isn’t that obvious?), kedua tipe kepribadian si pengundang, jika si pengundang ternyata tipe orang yang lebih menyukai sedikit teman-teman dekat dibanding banyak teman-teman namun biasa saja, maka tentu si pengundang hanya mengirimkan undangan pada teman-teman dekatnya saja.

Mengenai A1, menarik juga bahwa ternyata banyak teman-temanku yang tidak diundang, termasuk diantaranya A5, lalu adekku T1, dan sepertinya J1 dan W1. Padahal mereka semua ada di Jogja dan bisa dibilang readily available (koyo barang wae). Oke, jadi A5 kurang dekat dengan A1, dan aq bisa “sedikit” memakluminya, tapi bagaimana dengan T1 yang bisa dibilang cukup dekat karena sama-sama cewek dan karena golongan 1 dan golongan 2 cukup sering berinteraksi? Aq rasa itu sudah merupakan alasan yang cukup untuk mengundang T1. Kemudian J1 dan W1, oke, memang mereka berdua tidak dekat, tapi dulu A1 pernah mengulang praktikum dan bergabung dalam golongan kami, lebih tepatnya  dalam kelompok kami yang anggotanya terdiri dari aq, J1, W1 dan H2. Well, I guess one event can not makes us close anyway. Lalu kenapa aq diundang? Ini menarik, ini sangat menarik, why? Karena aq sendiri sebenarnya juga gak dekat-dekat amat dengan A1. Okelah dulu aq, A2, A3 dan IQ pernah menjenguknya di Sragen dulu***. Dan aq adalah paketu, but is that enough reason? Kinda weird seeing T1 didn’t get invited. Kenyataan lain yang tidak bisa dihiraukan adalah banyaknya teman-teman yang telah terpencar-pencar dan berada jauh sehingga kemungkinan kecil bisa pulang (di hari senin) untuk datang dalam acaranya. Bukankah itu justru membuat jumlah temannya terlihat sedikit? Kenapa tidak mengundang banyak teman? Terutama yang berada di Jogja? To be honest, as an ex-leader of PST ’05 it’s dissapoint me, tapi ya wis lah… aq sebenernya gak mau ngributin, it just kinda bothering me. Yang sudah berlalu ya sudah…

Terakhir, selamat atas pernikahan kalian, sori aq gak bisa dateng karena diriku yang memang lagi pengen fokus memperbaiki diri (yang ujung-ujungnya bikin males ngapa-ngapain) dan ternyata gak dapet transport. Semoga kalian menjadi keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warrahmah, dan semoga kalian dikaruniai anak yang sholeh dan berguna bagi agama kita, bangsa kita dan negara kita, amin amin yaa Rabbal alamin.

Muhammad Radifar,
May 30, 2011

*No, that wasn’t in my plan actually, the incident when I make y’all get lost was truly an accident :p
**I was in the contemplation mode, trying to figure out my relationship blindspot and my weaknesses, and how to deal with them.
***A2, A3 dan IQ diundang semua oleh A1. A2 & IQ tentu diundang karena teman satu golongan dan sesama anggota KMMF. Sedang A3 bisa dibilang cukup dekat dengan A1.

P.S. Beruntung karena ada banyak temanku yang berinisial A, makes you confuse huh? :p