Ah ya, sedari jam 6 sore tadi aku terus-menerus bertanya pada ibuku, makan apa malam ini, sampai ibuku jeleh menjawabnya. Dan kebanyakan jawaban beliau selalu sama, yakni “dilihat aja sendiri” hahahaha.

Seperti biasa, meski diriku berbadan langsing (istilah keren dari kerempeng :p) pada kenyataannya nafsu makanku sedikit banyak di atas rata-rata. Untuk hari ini dikarenakan tetangga lagi mau pindahan otomatis sarapanku tertunda hingga menjelang adzan dluhur. Kemudian makan siang diundur jam setengah 4, lalu jam setengah 6 perut sudah bergemuruh tanda memohon untuk diisi ulang.

Dan karena tiba-tiba ingin merasakan telur akhirnya diriku membuat telur dadar. Telur dadar buatanku bisa terbilang nyleneh, karena biasanya telur buatanku cuman campuran antara telur dan garam. Kadang, dan sangat jarang, diriku mencampurnya dengan sayur macam bawang merah, luncang, lombok, bawang putih. Ada yang aneh? Jika anda pernah membuat telur dadar anda akan ngeh bahwa salah satu komposisinya seharusnya tidak ada di sana hahahaha…

Anyway, soal telur dadarku yang nyleneh itu tadi, seperti biasa aku membuatnya dengan tambahan garam saja. Dengan keahlianku membuka telur dengan satu tangan yang telah kulatih selama berbulan-bulan aku pun memulai memasukkan isi telur ke mangkuk, lalu kunyalakan kompor dengan api sekecil mungkin dan kusiapkan wajan teflon beserta minyak di atasnya. Setelah itu kutambahkan garam lege artis ke dalam mangkuk dan kukocok dengan garpu.

Langkah selanjutnya ialah memastikan bahwa minyak gorengnya sudah cukup panas, caranya adalah dengan mengambil garpu dari kocokan telur tadi dan meneteskan sedikit telur ke dalam wajan teflon, kalau telur langsung berubah putih maka minyak sudah cukup panas. Jika sudah cukup panas maka telur siap dimasukkan dalam wajan.

Setelah telur dituangkan dalam wajan maka tinggal menunggu telur menjendal semua baru dibalik, itu adalah langkah yang biasanya kulakukan, tapi kali ini aku melakukannya dengan cara yang sedikit berbeda, yakni dengan menunggu hingga telur yang belum menjendal tinggal sedikit lalu langsung kubalik. Setelah kubalik lalu kutunggu sebentar, dan voila telur yang kubuat matang 80%! Wow, itu adalah telur dadar pertamaku yang tidak matang sepenuhnya.

Selanjutnya, saatnya makan! For the sake of simplicity aku hanya makan dengan nasi putih, lalu kutambahkan telur dadar buatanku yang bulat di atasnya sehingga 3/4 bagian nasi tertutupi oleh telur. Sebagai catatan aku kurang suka melipat telur dadarku karena aku suka telur dengan kematangan yang merata :). Finishing touch-nya adalah dengan menambahkan topping saus sambal super pedas di atas telur dadarku dan meratakannya. Dan rasanya, hmmm, nikmat dan sederhana :). Somehow it reminds me to some other food but I can’t recall what it is.

I must say that (so far) this is the best omelet I’ve ever made :)

 

June 23rd, 2012

Muhammad Radifar