Sebagai salah satu orang ternama di dunia Kimia Komputasi saya sering dimintai bantuan oleh kenalan-kenalan dari segala penjuru nusantara (halah… padahal publish jurnal aja satu pun belum :p). Ada yang tanya ini lah ada yang tanya itu lah. Kadang via email, kadang via message facebook, kadang via sms, kadang bahkan ada juga yang via telepon. Dan pertanyaannya pun beragam, dari yang bisa kujawab hingga yang aku sendiri gak begitu paham alias bukan bidangku sampai-sampai aku malas menjawabnya dan kalau aku orangnya gak tegaan pasti gak bakal kubales :p.

Ada sukanya namun ada dukanya juga. Sukanya ya karena ilmu yang kupelajari bermanfaat bagi orang lain, bisa membantu orang lain pun bisa memberikan kebahagiaan tersendiri :). Selain itu bisa melatih kemampuanku berkomunikasi, terutama mengubah bahasa yang rumit menjadi bahasa yang sederhana sehingga bisa dipahami oleh para mahasiswa sarjana.

Dukanya adalah kalau ditanyai gak bisa jawab karena emang bukan bidangnya, terus kadang ditanyai pertanyaan yang ruwet padahal diriku juga lagi dapat masalah yang ruwet sehingga makin bad mood hahahaha. Terus yang terakhir dan yang paling menyebalkan bagi diriku adalah perihal adab. Sebagai orang yang besar dalam budaya Hacker diriku sangat memperhatikan adab saat berkomunikasi terutama meminta bantuan pada orang yang lebih ahli atau lebih dihormati. Dan topik inilah yang ingin kubahas kali ini, yakni adab bertanya di dunia riset.

Tentu saja, tulisanku kali ini tidak akan membahas segala detil tentang adab bertanya di dunia riset. Semua yang kutulis hanyalah berdasarkan pengalaman pribadi, namun setidaknya tulisan ini bisa memberikan gambaran besar apa saja yang perlu diperhatikan saat berkomunikasi dengan orang yang baru kita kenal di dunia riset. Dan sebelumnya penulis ingin memohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan, karena memang begitulah gaya penulisan saya :D.

Baiklah langsung saja kita mulai. Yang paling pertama harus diperhatikan tentu saja tentang perkenalan. Pastikan anda memberitahu siapa nama anda, boleh nama lengkap maupun nama panggilan, yang pasti anda harus memberitahukan nama panggilan anda karena seringkali saya bingung mau manggil apa (gak penting banget yah? :p). Apalagi kalau nama anda panjang sekali. Dengan memberikan nama panggilan maka secara otomatis lebih mudah membangun kedekatan dengan orang yang dihubungi. Lalu setelah itu tentu saja anda memberitahu asal/institusi anda. Baru setelah itu anda menanyakan identitas orang yang anda hubungi, dalam artian memastikan nama panggilan atau keahlian/spesialisasi orang tersebut. Karena jujur saya sedikit terganggu dengan orang yang memanggil nama saya dengan sesuka hati tanpa menanyakan nama panggilan saya, dan saya sebal dengan orang yang tiba-tiba bertanya tanpa menanyakan apakah itu adalah keahlian saya. SELALU, SELALU, dan SELALU pastikan bahwa orang yang anda tanyai adalah AHLI atau MEMILIKI KEAHLIAN di bidang yang anda tanyakan. Carilah BUKTI KONKRIT bahwa orang yang anda tanyai memiliki keahlian itu, entah jurnal ilmiah atau abstrak skripsi dari orang tersebut. Sudah beberapa kali saya ditanyai hal-hal yang sebenarnya di luar bidang saya, dan dalam hati saya berkata “What the fuck?! Why on earth this guy asking me this question? -_- …”. Kenyataan bahwa anda menanyai hal yang sebenarnya di luar bidang orang tersebut adalah bukti nyata anda belum mencari tahu betul bidang/keahlian orang tersebut, dan ada kemungkinan anda memiliki ‘potensi untuk semena-mena’ dalam berkomunikasi. Never ever assume! Always find concrete evident!

Nah setelah perkenalan mari berlanjut ke arah formalitas. Saya pribadi dan kebanyakan peneliti yang sudah sering bergulat dengan penulisan dan membaca tulisan-tulisan ilmiah teramat sangat tidak suka dengan tulisan yang semena-mena. Seriously, it is pissing me off when someone write something that’s hard to read or understand! Pertama-tama hindarilah penggunaan singkatan, kecuali singkatan yang sudah umum digunakan, jika anda menulis sms pun usahakan menghindari penggunaan singkatan. Coba tanyakanlah pada diri anda sendiri, pernahkah anda menulis sms penuh dengan singkatan kepada dosen? Jika iya maka anda bisa dibilang sebagai orang yang (maaf) kurang ajar. Apalagi bila anda menggunakan singkatan saat menulis email atau message facebook. Kedua, sebisa mungkin hindari bahasa/tulisan gaul yang justru menghambat komunikasi dan membangun rasa sebal pada orang yang terbiasa membaca jurnal ilmiah. Hal tersebut mungkin terkadang terlihat sepele, namun percayalah, kecuali orang yang anda hubungi luwes dan fleksibel (which is not most likely the case is) maka orang tersebut pasti akan merasa malas untuk berkomunikasi dengan anda. Selain itu cara berkomunikasi yang buruk merefleksikan ‘kemalasan mental’, dan orang-orang akademis yang cerdas secara intuitif akan menghindari orang-orang yang malas secara mental.

Lalu terakhir dan tidak kalah penting, adalah mengenai substansi dari pertanyaan yang anda ajukan. Aturan dasarnya sebenarnya sederhana, jangan pernah menanyakan pertanyaan yang terlalu sepele, SELALU TUNJUKKAN BAHWA ANDA TELAH BERUSAHA! Para ahli biasanya lebih menyukai jika anda telah melakukannya dan setelah menemui permasalahan yang spesifik barulah ditanyakan. Sebisa mungkin ajukanlah pertanyaan sespesifik mungkin, jangan pernah menanyakan pertanyaan yang terlalu umum apalagi kalau pertanyaan anda bisa dicari di google! Seperti yang telah kuutarakan di atas orang-orang akademis yang cerdas secara intuitif akan menghindari orang-orang yang malas secara mental.

Mungkin sekian dulu untuk artikel ini, jika ada kelanjutannya akan kulanjutkan di bagian kedua :).

July 20th, 2012
Muhammad Radifar