Jadi, inilah puasa pertamaku (di Ramadhan kali ini), kuawali dengan sahur dan subuhan. Lalu saat pulang subuhan entah kenapa tiba-tiba ingin sepedaan, persetan dengan puasa, jika hasrat untuk menggowes telah tiba maka badai pun tidak dapat menghalangiku untuk membelah kota ini bersama sepedaku gyahahahahaha, sok-sokan banget ik! xD

Aneh memang, tapi karena kondisi badan hampir pada kondisi puncak kenapa tidak? Jadi sampai rumah aku bersiap-siap berangkat, peregangan otot, sedikit fesbukan, lalu pukul setengah enam aku berangkat dari rumah. Awalnya aku cuman berniat sampai Concat, setelah itu entah kemana, harus kuakui petualanganku kali ini tidak terencana sehingga rada geje. Anyway, seperti biasa aku memulai dari JEC, Janti, Ringroad Timur, selanjutnya aku melewati Babarsari, dan Seturan, teruuuss hingga perempatan UPN Veteran, dari situ aku lurus, awalnya sempet bingung koq jalannya rada beda yah? Dulu keknya gak kek gini, pas itu kupikir jalan yang kulewati adalah jalan Nusa Indah. Lalu saat jalan di depan mulai terasa semakin asing aku belok kiri dan barulah aku tersadar, nah! Ini dia jalan Nusa Indah! Wakakakakakak, aku terus mengambil jalan Nusa Indah hingga mendekati jalan yang mulai menurun dan aku ambil kiri, teruuuuss hingga perempatan yang kalau ke kanan ada jalan Gurameh Raya aku ambil ke kanan. Nah di sini ane mulai was-was gan! Secara di sini adalah areanya dia yang namanya tidak boleh disebutkan gyahahahaha. Nothing really serious actually, but it is kinda awkward to see her again, especially at time and place like this xD.

Nah setelah melewati jalan Gurameh Raya dan hingga perempatan yang kalau lurus akan sampai ke perumahan Minomartani aku pun belok ke kiri melewati jalan Pondok Raya, sebenernya di sini masih waswas juga sih hahahaha gak penting banget sih! Anyway, ada satu hikmah saat lewat situ, karena ternyata di jalan itu ada toko yang menjual benih dan alat tani, serta pupuk. Kebetulan aku berencana untuk menanam sayur-sayuran dalam waktu dekat, namun karena bentar lagi mau pindah maka rencana itu kupending dulu. Sebenarnya aku dah tau sejak lama akan keberadaan toko itu secara ini adalah kali kesekian aku melewati jalan itu.

Lalu sampai di persimpangan “gak jelas” dan aku belok ke kiri (ke jalan Anggajaya) yang mana bila aku ambil jalan itu teruuuss maka akan sampai terminal Concat dan perempatan Concat. Tapi aku tidak berminat ke perempatan Concat, coz I don’t wanna end this trip that soon :). Di sini lah faktor nekat bin intuitifku mulai mengambil inisiatif untuk mengambil jalan di kanan jalan yakni jalan Garuda. Yang ada dalam benakku adalah aku nanti harus sampai Jakal, lalu aku akan ke barat lagi hingga sampai Jamal. Sounds crazy? Naah, it happens pretty frequently :D.

Jadi aku mengikuti jalan itu, kanan, kiri, kanan, kiri, dan begitu seterusnya dan voila! Tiba-tiba aku sampai di Jakal km 8, tepat di samping gardu listrik PLN, lalu aku berkata pada diriku sendiri “oalaaaahh, jebul jedule kene to!” (red. oalah, ternyata keluarnya sini to!). Lalu aku teringat kalau dari Jakal ke utara maka di suatu pertigaan dengan lampu APILL-nya terdapat jalan masuk yang cukup besar di sebelah kiri jalan, dan jika ingatanku benar, pertigaan itu ada di sebelah utara dari gardu listrik di sebelahku ini sehingga aku memutuskan untuk mengambil belokan ke kanan. Dan setelah menyusuri Jakal hingga km 9.5 ternyata memang benar, ada pertigaan yang kucari dan aku pun mengambil belokan ke kiri. Jalan yang kulewati selanjutnya ialah jalan Kapten Haryadi. This is where the fun part begin, jujur seumur hidup baru kali ini aku melewati jalan ini, belum pernah aku melewatinya dengan kendaraan apapun apalagi naik sepeda. Dan kenapa aku bilang menyenangkan? Simply karena diriku suka mendapatkan rare-type experience, dan bagiku ini bisa dibilang rare-type experience karena selain ini kali pertama aku melewati jalan tersebut, jalan ini memberikan suasana yang berbeda dari jalan-jalan yang sebelumnya kulewati, meskipun banyak rumahnya namun juga banyak pepohonan rindang di kanan-kiri jalan, udaranya pun sangat bersih dan sejuk. Dengan mendapat rare-type experience maka otakku pun mendapatkan ‘stimulus that it has been longing for so long’.

Setelah melalui jarak sekitar 1,5 km maka diriku sampai di APILL yang lainnya, awalnya aku mengira itu adalah Jamal, namun kemudian aku sadar, something is not right. Jalan itu terlihat lebih kecil dari yang seharusnya, dan begitu aku melewatinya ternyata itu bukanlah Jamal, melainkan jalan Palagan yang merupakan terusan dari jalan Monjali. Di persimpangan itu nampak petunjuk arah menuju Jejamuran, lalu aku berkata “wow, Jejamuran?! Berarti aku bakalan nembus Jamal yang cukup tinggi (km-nya)”. Jadi di persimpangan itu aku mengambil jalan ke kiri sedikit lalu ke kanan sehingga aku masuk ke jalan yang namanya sedikit aneh, yakni Gito-gati yang sekilas terdengar seperti Gonta-ganti gyahahahaha. But despite of its weird name, This one is actually the best part of the trip :). Jalan ini paling menyenangkan dari semua jalan yang kulalui, karena atmosfernya, udaranya yang sejuk, banyaknya pepohonan, dan dari semua jalan yang kulalui tempat ini juga yang paling dingin. Meskipun sudah lewat pukul 6.30 tempat ini bahkan lebih dingin dibanding di rumahku saat subuh tadi :). Jika anda suka menggowes diriku sangat merekomendasikan jalan ini, karena selain suasananya yang enak, pemandangannya pun sejuk dipandang mata.

Setelah 3 km melewati jalan Gito-Gati maka akhirnya sampailah diriku di Jamal, dan ternyata tembusnya di Jamal km 9,5, dan sayangnya, tidak seperti yang kuharapkan ternyata si Jejamuran ini masih harus nambah 1 km lagi ke utara hahahaha, sudahlah, not like I’m gonna eat there anyway. Dan akhirnya kesampaian juga melewati Jamal utara ringroad dengan sepedaku. Dan seperti kata Okta, melewati Jamal memang membosankan, jalannya lurus, bersih, dan lebar. Untungnya jalannya menurun sehingga bisa terlalui dengan cepat hahaha. Setelah Jamal perjalanannya terasa biasa-biasa saja, Samsat, Malioboro, Kusumanegara, sampai rumah deh.

Lumayan capek juga, seenggaknya gak terlalu dehidrasi hehe. Semoga bisa mbolang lagi bersama sepedaku di Ramadhan ini. Sore ini aku sudah menemukan target selanjutnya, yakni sebuah jembatan di dusun Pendeman, kecamatan Trimulyo, Sleman. Which is looks very nice. I’ll be there for sure, no matter what it cost gyahahahahaha.

July 21st, 2012
Muhammad Radifar

PS. Godira itu singkatan dari Nggowes di bulan Ramadhan :p