Setiap orang punya citanya masing-masing, ada yang cuman setinggi langit-langit, ada juga yang setinggi langit. Ada yang seumprit, ada yang segede gunung. Ada yang hilang tak berbekas saat belum kuliah sekalipun, dan ada pula yang masih kokoh tak bergeming setelah memasuki dunia kerja dan terjun ke masyarakat sekalipun.

Aku? Cita-citaku besar dan kokoh, mungkin beberapa orang bisa bilang aku idealis, mungkin beberapa orang bilang aku keras kepala, dan bahkan mungkin juga beberapa orang bilang aku tolol. Saat ini aku adalah sarjana farmasi non apoteker :p, don’t ask me what’s with that ‘non-apoteker’ thing. It’s too long to explain here. Meskipun dalam lubuk hati sebenarnya gak kerasa juga apaan sih bedanya dapat titel Sfarm dan nggak, rasanya masih sama kek yang dulu. Tapi sebenarnya secara logika ada signifikansi di balik titel itu. Secara tangible ada dua, yang pertama aku bisa lanjut sekolah pascasarjana, dan yang kedua aku mendapat peluang kerja yang lebih luas. Sedangkan secara intangible orangtuaku merasa bangga dan lega aku akhirnya telah berhasil menyelesaikan studi sarjanaku, yang sebagian besarnya berkat usaha, dukungan, dan doa orangtuaku tentunya.

Jadi… di sinilah aku berdiri saat ini, aku kini resmi menjadi mahasiswa pascasarjana di jurusan Rekayasa Biomedis, sounds cool huh? Aku berdiri di sini (mostly) berkat dukungan dari bu Nunung serta dukungan serta ‘paksaan’ dari pak Enade hahahaha. Kenapa aku tulis paksaan? Karena tadinya memang aku lagi gak pengen sekolah di sini, aku benar-benar ingin fokus untuk lanjut sekolah S2 di Konstanz Universiteit, Jerman, tempat penulis software molecular docking PLANTS, Oliver Korb menyelesaikan studi doktornya. Kenapa aku ingin kesana? Simply karena aku punya beberapa rencana untuk menulis software kimia komputasi, dan salah satunya adalah software docking, sehingga pergi kesana adalah keputusan yang sangat reasonable mengingat pak Thomas (Thomas Exner adalah supervisornya Oliver Korb di Konstanz) memiliki keahlian yang sangat mumpuni di bidang kimia komputasi dan software development.

Nah, untuk fokus pergi kesana akupun fokus pada penulisan PyPLIF dan belajar bahasa Jerman, serta mencari kerja sambilan dan memulai wirausaha untuk menjaga kestabilan finansialku saat kursus bahasa Jerman dan mengurusi administrasi saat berangkat kesana nanti. Kenapa harus fokus pada PyPLIF? Karena pak Thomas memberikan open position di grupnya dan secara logika, agar aku bisa positif masuk ke sana aku harus impress pak Thomas, PyPLIF adalah software yang digunakan untuk analisa post-docking, dan untuk lebih spesifiknya, PyPLIF dibuat untuk menganalisa luaran PLANTS xD.

Namun di sisi lain pak Enade berpendapat lain, menurutnya aku boleh fokus pada tujuan yang tinggi, namun aku tidak boleh menyianyiakan kesempatan-kesempatan yang bisa diraih. Atau kalau bahasa kerennya ‘You can aim for the highest and the most delicious fruit, but you shouldn’t waste the low-lying fruit’ :). Dan selain itu, aku akan butuh status selama masa menunggu, katanya sih biar aku bisa lebih menjual, dalam artian saat mengadakan pelatihan atau saat kita akan publish jurnal ilmiah aku memiliki status yang dapat digunakan. Dan jika dalam satu tahun ini aku ternyata diterima di Konstanz Universtiteit aku akan meninggalkan studiku di sini dan langsung ngacir ke sana. Tapi seperti biasa, diriku yang memiliki resistance yang tinggi ini tidak mudah dibujuk rayu halah… aku selalu berpikir bahwa aku akan butuh banyak waktu untuk persiapan ke Jerman, sehingga yang kutakutkan adalah aku tidak akan bisa mengumpulkan semua kekuatan yang kubutuhkan untuk berangkat ke sana. Tapi setelah beberapa kali adu argumen dengan pak Enade akhirnya aku memutuskan untuk lanjut S2 di sini…

Lalu yang tersisa adalah memantapkan hati dan mencari hikmah. Seiring dengan berjalannya waktu hatiku semakin mantap dengan keputusan yang kuambil, untuk hikmah? Ada dua pelajaran berharga yang kudapat di sini, pertama, you can aim for the highest fruit, but never ever forget the low-lying fruits around you! Yang kedua, dengan bersekolah di sini aku mulai sadar bahwa sebenarnya aku bisa menjadi utuh tanpa harus ke luar negri, dan aku pun menjadi lebih berpikiran terbuka (baca postingan sebelumnya tentang responsibility).

It took me 6 months, 6 months to realize all that… but it’s better than never, Alhamdulillah… :)

 

August 22nd, 2012

Muhammad Radifar