Di Negri kincir angin ada ungkapan “Wie het kleine niet eert is het grote niet weert” yang berarti “barang siapa tidak menghargai hal-hal yang kecil maka dia tidak pantas memperoleh hal yang besar”. Sedari tadi siang aku berusaha mengerjakan tugas kuliah yang sudah lama tertunda, yakni tugas fisiologi molekuler (A.K.A. Biokimia). Temanya ialah Perkembangan Biokimia Terkini. Jadi, akupun mencari-cari jurnal yang berkaitan dengan lipase dan simulasi in silico karena waktu awal perkuliahan dan mengikuti seminar kakak angkatan enzim lipase ini sering dibahas karena peranannya yang luar biasa dan biasa diutak-atik dan diudal-udal. Oh ya, aku sudah dapat 6 jurnal sejak lama, tapi karena kesibukanku yang teramat sangat, membaca satu jurnal pun gak rampung-rampung. Jadi dari tadi siang aku lanjut mengkaji jurnal dan Alhamdulillah hingga kini telah menyelesaikan 3 jurnal, dan kesanku, keren, sangat keren. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari si enzim lipase. Tapi mohon maaf bagi anda yang merupakan fans berat dari enzim lipase, di tulisan ini bukan enzim lipase yang akan saya soroti, melainkan air. Air? Kenapa air, karena saat malam ini juga saat membaca jurnal keempat aku menemukan kata yang tidak asing tapi juga tidak kumengerti definisi sesungguhnya, yakni water activity. Badalah! Barusan kemaren kamis diriku menjelaskan dengan tidak jelas definisi dari water activity di depan kelas saat presentasi makalah biosel. Pasti ada maksud kenapa Tuhan menunjukkan frasa water activity untuk kedua kalinya dalam waktu yang berdekatan pikirku, dan karena diriku ingin lebih memahami maksud dari jurnal keempat ini akhirnya diriku menelusuri dunia maya untuk mencari tahu arti sesungguhnya dari water activity.

Dan saat mencari tahu tentang water activity, akupun justru semakin terseret ke dunia air. Ya, ternyata ada begitu banyak hal yang bisa dipelajari dari setetes air, menakjubkan! Aku jadi teringat saat sekitar 1 tahun lalu, saat aku mempelajari CP2K, sebuah software untuk simulasi mekanika kuantum. Ternyata di ETH Zurich, salah satu universitas terdepan di Dunia Sains menggunakan CP2K untuk mempelajari sifat-sifat air pada level molekuler. Helloooooo, sudah tahun 2010 saja salah satu universitas terbaik di dunia sains malah mempelajari air coba?!

Semua ini membuatku merenung dan ingin mempelajari lebih dalam tentang air, maka kuambil buku Silberberg Chemistry dari rak dan kucari bab yang berkaitan dengan air. Ini semua mengingatkanku, jika aku ingin mendapatkan sesuatu yang luar biasa, maka aku harus memulainya dengan menghargai hal-hal kecil di sekitarku.

 

October 20th 2012, Bantul

Muhammad Radifar