Kau tahu? Jika kau memperhatikan perilaku manusia di kala dua pasangan bersaing untuk mendapatkan kursi RI-1 & RI-2 maka kau akan menemukan banyak hal yang menarik. Kau akan melihat betapa mudahnya manusia berpikir irasional. Mungkin satu hal yang paling nampak saat orang memilih suatu pilihan yang kompleks dan berkaitan dengan sesosok insan adalah sikap fanatisme, akan kuberi kau satu kutipan yang sering dishare oleh pacarku:

Rasa kagum itu adalah emosi yang paling jauh dari pemahaman
Sousuke Aizen – Bleach

Jika diperhatikan dengan cermat penyakit fanatisme memiliki bahaya yang luar biasa, terutama jika penderitanya sudah benar-benar menarik garis batas yang jelas antara pilihannya dan pilihan lainnya, lalu menaruh rasa cinta pada yang dipilih serta rasa benci pada pilihan lainnya.

Sebelum aku memaparkan apa bahaya dari fanatisme akan kuberi kau satu kutipan dari Emily Levine, beliau berkata:

The trickster has a mind that is prepared for the unprepared. That, and I will say this to the scientists, that the trickster has the ability to hold his ideas lightly so that he can let room in for new ideas or to see the contradictions or the hidden problems with his ideas.

Terjemahan bebas:
Trickster (komedian, penipu, ilusionis) memiliki cara berpikir yang sesuai untuk segala situasi. Itulah, yang ingin kukatakan pada para ilmuwan, bahwa trickster memiliki kemampuan untuk mempertahankan ide dalam benaknya dengan longgar sehingga ia dapat memberikan ruang untuk ide baru atau untuk melihat adanya kontradiksi atau masalah-masalah tersembunyi dari ide dalam benaknya.

Sumber: www.ted.com/talks/emily_levine_s_theory_of_everything

Jadi pertama-tama yang akan kutanyakan padamu, seberapa ketatkah kau mempertahankan ide dalam benakmu? Aku tahu, beberapa darimu bahkan rela mati-matian dalam mempertahankan idemu. Aku tahu, bahwa beberapa darimu bahkan begitu meyakini pilihanmu, sehingga saat informasi baru yang berlawanan datang itu tidak akan membawa perubahan apapun bagimu. Aku tahu, bahwa beberapa darimu begitu menjunjung tinggi kebenaran, dan di saat yang bersamaan kau takut salah, kau menganggap bahwa membuat kesalahan adalah kehinaan dan kenistaan yang tak terhingga, sesuatu yang begitu dibenci dalam masyarakat kita, sehingga kau bahkan tidak berani sama sekali untuk menemukan ‘kebenaran yang lain’ selain apa yang kau yakini benar.

Saat kau mempertahankan ide dalam benakmu dengan sedemikian ketatnya apa yang kau dapatkan? Kemantapan hati? Mungkin… Sebegitu takutnya kah kau dengan kegalauan? Dude, it’s OK to be galau. Apakah kau rela kehilangan pandangan dari segala aspek demi membeli sebuah keyakinan? Mengutip kata Stephen Covey “Tidak ada gunanya kita cepat memanjat jika pada akhirnya tangga yang kita gunakan bersandar pada dinding yang salah, SEMAKIN CEPAT kita memanjat semakin cepat kita sampai di tujuan, namun jika sandarannya sudah salah maka hanya akan semakin cepat sampai di tempat yang salah”. Kawan, pesan yang ingin disampaikan oleh pak Covey sangat relevan di sini, dalam konteks keyakinan dalam memilih maka yang harus kita fokuskan adalah PENGKAJIAN (dinding sandaran) dan bukan KEYAKINAN (kecepatan memanjat). Oleh karenanya, berhati-hatilah jika kita terlalu yakin pada apa yang kita pilih. Akan kuulangi sekali lagi, berhati-hatilah jika kita terlalu yakin. Jadi yakinlah, namun pada kadar yang secukupnya, agar kita dapat melihat kemungkinan-kemungkinan baru, membiarkan ide-ide baru masuk dan bercengkerama dengan ide-ide lama kita.

Witty-Facebook-Status-23999-statusmind.com

Saat melihat bagaimana orang membela capres-cawapres yang didukungnya seringkali terlihat sisi kurang dewasa dan kurang bijaksana dari cara mereka menyampaikan pendapat, bagaimana mereka membela kelemahan capresnya, dan bagaimana mereka tidak mau mengakui kelebihan capres-cawapres lainnya. Dan kau tahu, kau bisa melihat seberapa prematur keyakinan mereka dari cara mereka menyampaikan pendapat, mereka terlalu cepat yakin di saat fakta-fakta belum sepenuhnya terkuat, saat kemampuan mereka yang sesungguhnya belum benar-benar terlihat. Saranku untukmu, kurangilah kadar keyakinanmu dan selalulah pertanyakan kedua sisi. Masih ada waktu satu bulan lagi, dalam masa sebulan ini mereka (para timses) akan saling beradu fakta dan opini, pada akhirnya konvergensi akan terbentuk. Setelah masa tenang datang barulah tingkatkan keyakinan.

Masih terlalu yakin? Kalau begitu akan kutawarkan beberapa kemampuan berpikir yang sebaiknya kau latih dari sekarang:

1. Kemampuan untuk menerima dua ide yang bertolak belakang dalam pikiranmu serta melabeli keduanya dengan tingkat kebenaran yang sama.

Aku tahu ini kedengarannya gila, tapi memang inilah yang harus kau lakukan pertama kali, untuk melakukan suatu pertimbangan maka kau harus meletakkan keduanya pada tingkat yang sama. Kau tidak boleh mengunci satu pilihan di tempat yang lebih rendah dibanding yang lain karena dapat menimbulkan bias dalam melihat pro dan kontra di dalamnya. Situasi ini tentu menyebabkan ketidaknyamanan di pikiranmu, karena kita terbiasa untuk hidup di dunia yang penuh dikotomi (jika satu bagus maka yang lainnya pasti tidak bagus) tapi bertahanlah, semua akan indah pada masanya :)

2. Kemampuan untuk mempertanyakan apa yang kau yakini.

Sudah dalam sifat alami manusia bahwa manusia hanya melihat apa yang ingin mereka lihat. Berhentilah sejenak, dan carilah kelemahan dalam apa yang kau yakini, telaah dengan seksama kelemahan orang yang kau dukung, dan kelebihan orang yang tidak kau dukung. Kenapa hanya dua itu? Karena dua hal itu adalah yang paling sulit untuk dilakukan oleh orang-orang yang fanatik. Aku masih ingat saat debat di acara Mata Najwa yang mempertemukan timses dari kedua belah pihak, saat akhir acara kedua belah pihak diminta memberitahu apa sisi baik dari pihak lawan. Dan kau tahu apa yang terjadi? Keduanya tidak dapat mengatakannya, and I was like “What!?”.

Ingat, cobalah untuk fokus pada dua hal itu. Lepaskan pikiranmu dari prasangka-prasangka dan untuk sesaat lepaskan ego “aku pasti benar”.

3. Kemampuan untuk dapat menerima kesalahan/kekurangan dalam diri dan memaafkan diri sendiri.

Kawan, melakukan kesalahan dan memiliki kekurangan adalah hal yang manusiawi. Namun seringkali kita tidak dapat menerima kesalahan dan kekurangan orang lain, lalu kita mencemooh, menghina, merendahkan. Kau tahu, sikap itu tidak lain merupakan refleksi dari bagaimana kita memperlakukan diri kita. Semakin keras kita pada orang lain maka semakin keras kita pada diri sendiri. Semakin kita tidak bisa menerima kesalahan/kekurangan orang lain maka demikian halnya pada diri kita sendiri. Dan jika kita dengan mudahnya menyalahkan orang lain bukankah itu berarti kita begitu takut kalau diri kita disalahkan? Dan jika kita begitu takut disalahkan lalu kau pasti akan dengan mudah membangun dinding pertahanan, membentuk sistem pertahanan yang begitu hebat yang sangat sulit dibobol. Jika sudah demikian, bagaimana mungkin kau membiarkan kemungkinan-kemungkinan baru masuk? Dude, just let it go. Jangan kau buat gap (jarak) yang memisahkan kita, yang pada akhirnya hanya akan membuat kita semakin tidak dapat menerima informasi-informasi baru.

Dan terkadang, kita begitu takut salah, sehingga kita berusaha menjaga pilihan kita, berdebat demi argumentasi itu sendiri. Memprioritaskan kemenangan, bukan pertukaran informasi. It’s OK to be vulnerable. Pada kenyataannya, yang menang bukanlah yang argumennya benar, melainkan yang memperoleh tambahan informasi & ide lebih banyak.

4. Kemampuan untuk dapat menerima kesalahan/kekurangan dalam yang kita yakini dan memaafkan pilihan kita.

Masih berhubungan dengan poin sebelumnya. Poin sebelumnya adalah pondasi bagi poin keempat. Poin ini lahir karena pilihan di sini merupakan sesosok tokoh. Seringkali orang atau kelompok yang kita pilih menjadi bagian dari ke-aku-an, sehingga keberadaan orang atau kelompok tersebut menjadi ekstensi dari diri kita sendiri. Jadi apabila dia/mereka terlihat hebat dan keren maka kita merasa bangga, jika mereka kalah/salah maka kita merasa malu, jika mereka disakiti maka kita merasa tersakiti.

Lalu apa yang kau rasakan saat mengetahui bahwa yang kau pilih memiliki kekurangan? Tergantung pada tingkat kedewasaan, keberanian dan kebijaksanaanmu maka kau bisa jadi menutup mata dan tidak mau tahu, berusaha membalas orang yang membuka aib pilihanmu, berusaha membela dengan menyajikan fakta-fakta, berusaha membela dengan pembenaran-pembenaran yang tidak perlu, atau bisa juga dengan menerima dengan legowo dan menganggap kekurangan adalah bagian yang wajar. Nobody’s perfect, setiap orang dan setiap kelompok memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Kita tidak bisa hanya menginginkan enaknya saja namun menghindari lemahnya. Setiap orang yang telah memiliki pasangan hanya pantas mendapatkan sisi terbaik pasangannya jika ia dapat menerima sisi terburuk dari pasangannya. Jadilah lebih bertanggungjawab dan ksatria, kalau memang mereka salah dan memiliki kekurangan maka akuilah. Dan seperti yang kukatakan sebelumnya hal ini hanya bisa dicapai jika poin nomer 3 telah dikuasai.

5. Kemampuan untuk menerima perbedaan (toleransi) dan menerima ketidakteraturan dalam alam.

Jadi, apa yang salah dengan perbedaan? Beberapa orang tidak menyukai perbedaan karena berbagai macam alasan. Mungkin yang paling sering adalah karena perbedaan identik dengan jarak (sosial, sehingga menjadi berbeda itu memalukan), perbedaan identik dengan kelemahan (seperti pada orang-orang difabel), perbedaan identik dengan kesalahan, dan bahkan ada beberapa orang yang melihat perbedaan sebagai perlawanan dan permusuhan.

Masalahnya adalah manusia sekarang cenderung kurang terhubung dengan orang-orang di sekitarnya (terutama orang yang tak dikenal) sehingga saat melihat perbedaan langsung menarik garis batas yang jelas, mengakumulasi rasa takut dan marah, bahkan ingin mengendalikan situasi di sekitarnya. Kawan, ikutilah alirannya, jangan kau lawan. Jika kau menemukan perbedaan maka alih-alih langsung mengaktifkan sistem pertahanan untuk mempertahankan diri cobalah untuk berusaha memahami sisi yang berlawanan, kaji sedalam-dalamnya. Karena jika tidak, maka aku takut kau hanya akan melakukan pembenaran diri, terlepas argumen yang kau bawa itu benar atau salah.

Di sisi lain, kemampuan untuk menerima perbedaan ini berkaitan erat dengan kemampuan kita menerima ketidakteraturan di alam. Kau tahu manusia sekarang begitu mendambakan kerapian dan keteraturan. Ini memang bagus di satu sisi karena terlihat lebih indah, tapi di sisi lain, berdasarkan ilmu psikologis ketidakmampuan menerima ketidakteraturan merupakan salah satu ciri orang yang tidak kreatif. Kau tahu dalam ilmu permakultur disebutkan “Nature never monocrops” yang artinya di alam tanaman tidak hidup secara teratur dan menggerombol menjadi satu dalam tatanan yang rapi. Idealnya suatu tanaman berdampingan dengan tanaman lain (tidak terisolasi) dan tidak tertata dengan jarak yang seragam, penelitian menunjukkan bahwa cara ini lebih ramah lingkungan dan menguntungkan dalam jangka panjang dibanding metode konvensional saat ini. Di ujung yang ekstrim dari ketidakmampuan untuk menerima ketidakteraturan di sekitar kita ada sebuah penyakit yang disebut dengan obsessive-compulsive disorder. Yaitu keinginan kuat dari dalam diri (yang berlebihan tentunya) untuk menata dengan rapi semua yang ada di sekitar, yang biasanya disertai rasa paranoid karena takut tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Jadi, itulah kelima kemampuan yang sebaiknya anda latih dari sekarang untuk menangani keyakinan anda yang berlebihan itu. Selamat mencoba :)

June 10th, 2014
Muhammad Radifar