Saat ini adalah salah satu masa-masa terpanas di kota Yogyakarta dan sekitarnya, baik siang maupun malam, udara terasa begitu panas. Ah ya, ini adalah Oktober, bulan di mana langit Yogyakarta sedang mengalami peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Bulan yang sama di mana 6 tahun yang lalu angin puting beliung menyentuh tanah kampus UGM, damn how I miss the old good day…

Di bulan ini tidak saja kota ini menjadi panas, jalanan pun terasa jauh lebih panas dan tidak kenal ampun. Dan di saat yang bersamaan aku pun mendapat tugas untuk menghantarkan surat ke beberapa tempat yang tersebar dari Bantul hingga Sleman, perjalanan yang saat sampai kembali di rumah odometer di motor menunjukkan jarak tempuh hampir 100 km. Dan untungnya saat di JIH sempat mendapatkan hujan, meski hanya sejenak, namun cukup menyejukkan hati. Alhamdulillah saat itu perjalanan cukup lancar, namun dari perjalanan itu dan perjalanan-perjalanan setelahnya aku menjadi sadar… bahwa ternyata jalanan kota menjadi jauh lebih tidak ramah dibanding beberapa minggu sebelumnya. Mungkin panasnya kota Yogyakarta telah memanggang akal sehat, nurani, dan belas kasih orang-orang di sekitarku.

Kita semua tahu betapa tidak nyamannya jalanan kota Yogyakarta dalam 3 tahun terakhir ini, dan kita semua tahu bahwa ketidaknyamanan (lapar, lelah, dahaga, panas, sakit perut, ingin buang air, amarah, dendam) akan membuat kita semakin lepas kendali. Dan aku tahu, bahwa amat mudah bagiku untuk menjadi seperti mereka. Bahkan pada kenyataannya aku seringkali menjadi cukup lemah untuk menjadi bagian dari mereka. Tapi kau tahu, aku berusaha selalu belajar. Ada banyak hal yang kupelajari dalam 1,5 tahun terakhir ini. Dan terkait kisah ini setidaknya ada 4 hal penting yang sangat berguna dan dapat diterapkan dalam kasus ini. Keempat hal tersebut ialah:

  1. Jika engkau “serba otomatis” maka hidupmu akan sepenuhnya didikte oleh lingkunganmu.
  2. Temukanlah tujuan bersama, maka kau akan mendapatkan (solusi) yang terbaik.
  3. Sakit atau tidak, semua akan tergantung titik awal, yakni bagaimana kau memberi nilai (atau memberi label harga) pada segala sesuatu dan bagimana niatmu sebelum memulai.
  4. Begitu banyak ilusi di dunia ini, ilusi yang paling umum ialah overrating, ada begitu banyak hal yang overrated di dunia ini.

Serba otomatis

Apa yang dimaksud dengan serba otomatis? Serba otomatis merupakan kondisi mental di mana seseorang cenderung melakukan segala sesuatu tanpa pertimbangan, sehingga setiap tindakan yang diambil tanpa melalui pertimbangan untung rugi, atau nilai-nilai yang ada. Segala sesuatunya dilakukan atas panduan program otomatis dengan korelasi satu-satu, yakni satu tindakan untuk tiap satu rangsangan dari luar. Dalam 7 Habit of The Highly Effective People karangan Stephen Covey kondisi mental ini diberi nama dengan reaktif. Dan lawan dari reaktif adalah proaktif, suatu kondisi di mana kita berusaha mengendalikan respon dengan pertimbangan yang sesuai untuk setiap rangsangan dari luar. Sehingga kita memiliki kuasa untuk memutus atau menulis ulang kebiasaan.

Sedangkan istilah yang biasa digunakan oleh Daniel Goleman dalam bukunya Focus: The Hidden Driver of Excellence ialah Top-down thinking versus Bottom-up thinking. Di mana top-down thinking adalah proses berpikir yang menggunakan kesadaran dan membutuhkan energi. Sedangkan bottom-up thingking adalah proses berpikir yang otomatis dan menggunakan sedikit energi. Contoh mudah untuk kedua cara berpikir ini ialah seorang atlet yang saat awalnya begitu fokus pada tiap gerakan, setiap teknik berusaha dihafalkan dan dipraktikan dengan ketelitian yang luar biasa. Ini adalah penggunaan top-down thinking, namun seiring dengan berjalannya waktu maka setiap gerakan akan terdaftar dalam ingatan, seolah-olah tubuh atlet tersebut mengingat setiap gerakan. Yang terjadi di sini ialah saat setiap gerakan telah terdaftar melalui gerakan yang berulang maka untuk seterusnya bottom-up thinking akan mengambil alih sehingga kerja top-down thinking berkurang dan energi mental yang tersedia lebih besar dan dapat digunakan untuk menjaga fokus atlet selama pertandingan.

Apabila kedua referensi di atas disatukan maka serba otomatis adalah kondisi di mana seseorang cenderung mengambil tindakan/keputusan atas panduan program dalam otak (reaktif), di mana program  dalam otak ini tidak lain adalah bottom-up thinking. Kondisi mental seperti ini biasa terjadi pada orang yang tidak “hadir di saat ini”, semisal seseorang di restoran sedang makan lalu ditanya oleh pelayan, “apakah piringnya boleh diambil?” lalu justru menjawab “tidak terima kasih”. Sebuah indikasi dari penggunaan bottom-up thinking (yang biasanya diakibatkan karena kehabisan tenaga mental :p ).

Konsekuensi dari kondisi serba otomatis ialah orang yang mengalaminya seringkali merasa menjadi korban, dan cenderung didikte oleh lingkungan sekitar. Bahayanya ialah, saat orang ini melihat orang lain ugal-ugalan ia akan merasa dunia kejam kepadanya, maka ia pun boleh kejam kepada dunia. Dengan demikian ia akan menjadi bagian dari masalah, akibat kegagalannya dalam menentukan sikapnya (menjadi proaktif, atau mengaktifkan top-down thinking). And this is the very reason, why recklessness on the street is so contagious.

Saat di jalan, berulang kali aku berusaha untuk tidak didikte oleh orang-orang di sekitarku. Aku tahu betapa sulitnya untuk tidak terprovokasi, terutama saat banyak ketidaknyamanan meliputi (utamanya datang dari rasa lelah). Di sini lah aku diuji untuk menjadi diri yang kugambarkan, bukan diri yang ditentukan oleh secuil orang-orang brengsek di sekitarku. Sekarang tanyakanlah pada anda diri semua, apakah anda ingin menjadi pribadi yang serba otomatis? Ataukah anda ingin menjadi pribadi yang tidak didikte oleh orang-orang di sekitar anda?

Temukan tujuan bersama

Pernah menonton The Beautiful Mind? Ada kata-kata yang menarik dari John Nash saat mengkritik kutipan kata-kata Adam Smith saat John Nash dan kawan-kawannya sedang memilih wanita incaran di suatu bar.

Hansen: Recall the lessons of Adam Smith, the father of modern economics. “In competition …”
Everybody: “… individual ambition serves the common good.”
John: [after thinking] Adam Smith needs revision.
Hansen: What are you talking about?
John: Adam Smith said the best result comes from everyone in the group doing what’s best for himself.
Right? That’s what he said, right?
Hansen: Right.
John: Incomplete. Incomplete, okay? Because the best result will come from everyone in the group doing what’s best for himself … and the group.
Hansen: Nash, if this is some way for you to get the blonde on your own, you can go to hell.
John: Governing dynamics, gentlemen. Governing dynamics. Adam Smith…he was wrong.
(sumber: dari sini)

John Nash menyadari dalam suatu lingkungan yang dinamis maka interaksi antara satu individu dengan individu yang lain harus dipertimbangkan. Dan apabila setiap orang berusaha mendapatkan yang terbaik untuk dirinya tanpa memikirkan kepentingan bersama maka yang dihasilkan adalah kerusakan. Hal ini tampak begitu nyata dalam lalu lintas. Apabila setiap orang berusaha untuk mendapatkan yang terbaik untuk dirinya masing-masing maka dapat dipastikan setiap orang akan menjadi penghalang untuk yang lain. Dan setiap orang akan menjadi sumber masalah. Pernahkah anda melihat ada orang yang berusaha menyebrang jalan dengan perlahan-lahan memaksakan kendaraannya dan menghalangi kendaraan lain. Hal ini memang diperlukan untuk kondisi di mana kendaraan lewat tiada henti, namun acapkali kondisinya justru malah membuat orang yang hendak lewat justru melambat dan yang tidak disadari oleh sang penyebrang jalan justru membuat perjalanan terhambat untuk semua orang, bahkan termasuk dirinya sendiri!

Bagiku sendiri, tujuan bersama terealisasi dengan memberi kesempatan kepada orang lain untuk mendahului. Kita tidak tahu seberapa tergesanya orang lain, dan acapkali kita sendiri tidak sedang diburu waktu, sehingga alangkah baiknya memberi kesempatan pada orang lain untuk lewat dan mendahului. Percayalah, dengan menemukan tujuan bersama dan memberi kesempatan sebesar-besarnya pada orang lain memberikan kedamaian. Namun kedamaian ini tidak akan sempurna tanpa poin ketiga, yakni poin selanjutnya.

Sakit atau tidak, semua akan tergantung pada titik awal.

Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari suatu penelitian di bidang psikologi, salah satunya ialah
sumber dari rasa sakit. Dalam sebuah penelitian, ada dua kelompok probandus di mana keduanya diberi 5x sengatan listrik, kelompok pertama diberitahu bahwa sengatan listrik berasal dari orang yang menekan tombol dengan sengaja di ruangan sebelah, sedangkan kelompok kedua diberitahu bahwa sengatan listrik berasal dari orang di ruangan sebelah yang tanpa dia sadari menekan tombol yang mengaktifkan sengatan. Kelompok pertama mengalami rasa sakit yang setiap kali diulangi (sengatan listriknya) makin terasa sakit. Sedangkan kelompok kedua mengalami rasa sakit yang makin lama makin kecil rasa sakitnya. Nampaknya, dua perlakuan yang sama akan memberikan rasa sakit yang berbeda jika cara kita memandang berbeda (sumber: dari sini).

Seringkali, bagaimana kita merasakan sesuatu cenderung tergantung pada titik awal, entah cara pandang kita, bagaimana kita memberi nilai pada sesuatu, maupun niat kita saat awal. Bayangkan bila sedari awal anda memberi nilai yang begitu berharga pada waktu anda atau pada diri anda sendiri, maka anda pasti begitu marah saat anda kehilangan kesempatan entah karena ditikung orang yang tidak bertanggung jawab, atau karena tertinggal lampu hijau 1-3 detik saja. Tentu akan berbeda bila anda menaruh nilai tertinggi pada kenyamanan orang lain dan keselamatan diri. Pada nantinya, nilai yang anda berikan pada segala sesuatu akan menentukan bagaimana anda merasa untuk setiap rangsangan yang datang dari luar. Dan ini tentunya akan mempengaruhi kenyamanan anda saat di jalan. Ini adalah sesuatu yang disebut dengan Begin from the end of the mind dalam 7 Habit of The Highly Effective People. Anda harus mengatur nilai-nilai dalam hidup anda untuk mendapatkan kenyamanan maksimal dalam berkendara.

Selain cara pandang dan nilai, niat pun tak kalah penting. Ada satu trik mudah yang selalu
kupraktekkan saat di jalan, yakni niat memberikan kesempatan bagi setiap orang, sehingga apabila ada kesempatan yang “dirampas” oleh orang lain maka aku akan berkata pada diriku sendiri “tak apa, aku memang sudah berniat memberikannya pada mereka”, sambil tersenyum manis. Dengan demikian hati pun lebih tentram, dan pengambilan keputusan saat di jalan menjadi lebih baik.

Ilusi yang paling umum ialah overrating

Ada begitu banyak ilusi di dunia ini, dan menurut pengalaman pribadi ilusi yang paling sering terjadi ialah overrating. Overrating merupakan kondisi di mana kita cenderung menilai sesuatu lebih dari kenyataannya. Ada banyak hal yang seringkali overrated di dunia ini, misalnya uang, kekuasaan, kecepatan, kekuatan, ilmu, kemenangan. Seringkali karena sesuatu overrated maka hal-hal penting lainnya seperti keluarga, cinta, belas kasih, agama, keselamatan, keadilan, dll. menjadi terabaikan. Untuk kasus berkendara, biasanya kecepatan (atau waktu) cenderung overrated. Banyak orang yang ingin sampai secepat-cepatnya, lalu untuk apa? Benarkah waktu mereka memang sesempit itu? Rasanya tidak. Seringkali orang ngebut tanpa alasan yang jelas, hanya ingin sampai secepat-cepatnya, seperti ingin mengikuti slogan “Makin cepat makin baik”, eh, bukan menghina wapres kita loh ya :p

Oleh karenanya, selalulah tanyakan pada diri sendiri, apakah kita benar-benar tergesa-gesa atau tidak? Seringkali kita tergesa hanya karena merasa makin cepat makin baik, yang mana tidak selalu benar. Karena harga yang harus dibayar untuk kecepatan yang tinggi adalah kenyamanan dan keselamatan semua orang (orang lain dan anda sendiri).

Demikian panduan dari saya, semoga bermanfaat :)

October 21, 2014

Muhammad Radifar