Dahulu sering rasanya, jika duduk terlalu lama lalu bangkit berdiri… tiba-tiba pengelihatan berkunang-kunang atau bahkan hingga benar-benar tidak bisa melihat apa-apa, mungkin seperti itulah kira-kira rasanya kalau menjadi buta… begitulah pikirku. Selain pengelihatan, kemampuan koordinasi otot dan kognitif anjlok. Tiba-tiba lutut agak menekuk, membentuk sudut 20-30 derajat, dan membuka-tutup sehingga terjadi fluktuasi sudut yang kecil sehingga badan bergetar naik turun. Selain itu gerakan tangan pun juga menjadi sedikit tidak terkendali. Dahulu pernah saat diriku masih tinggal di belakang JEC, aku mengalami sensasi ini saat berjalan di dapur (waktu itu memang lepas duduk lama). Dan parahnya, saat itu bapakku sedang mensangrai ketumbar di atas wajan, dan saat itu pengelihatanku kabur, aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kemudian terdengar suara wajan jatuh dan tiba-tiba bapakku menghardikku dengan lantang. Yang kutahu berikutnya pengelihatanku mulai pulih, dan aku mulai bisa berpikir. Kuperhatikan sekitarku dan ternyata wajan telah jatuh dan ketumbar bertebaran kemana-mana. Kemudian yang kuperhatikan adalah badanku sendiri, yang ternyata masih belum terkontrol sepenuhnya. Kakiku masih agak menekuk dan sedikit membuka tutup sehingga badanku naik turun. Dan sepertinya bapakku mulai sadar ada yang aneh dengan diriku dan berhenti memarahiku. Kemudian aku pun beranjak dari dapur dan berusaha memulihkan kondisiku. Aku tidak begitu ingat, kapan ini terjadi, saat aku masih SMP atau SMA. Seiring dengan berjalannya waktu, aku tahu, ini adalah kombinasi dari kedua kondisi badanku, yakni anemia dan tekanan darah rendah. Saat S1 aku menemukan solusi berupa suplemen vitamin B kompleks yang disertai zat besi, ekstrak hati, dan vitamin C dengan harga yang sangat terjangkau. Sejak saat itu aku jarang mengalami sensasi itu, atau setidaknya sampai separah saat itu.

Saat aku masih SMA atau awal S1 aku juga sempat berdiskusi dengan salah seorang tetanggaku, ia adalah salah satu sahabatku saat aku masih tinggal di kompleks belakang JEC dahulu. Ia mengambil jurusan kuliah yang bagiku tidak lazim, yakni filsafat. Saat aku bertanya kenapa ia mengambil filsafat, kalau tidak salah ingat ia menjawab bahwa filsafat adalah induk dari segala ilmu, dan segala ilmu diturunkan dari filsafat. Well basically you can understand (almost) everything if you understand this stuff. Aku lupa apakah saat itu ia memberikan alasan lain atau tidak. Ia mengakui bahwa tidak sedikit anak-anak filsafat yang terbilang “kurang waras”, maybe they just think too deep and way too far. Saat berdiskusi ia mengakui bahwa sebagai musisi ia berteman dengan orang-orang yang kurang baik, you know, booze and drugs. Tetapi ia berhasil menjaga diri, agar tidak terperosok terlalu dalam seperti kawan-kawannya. Namun demikian, ia adalah orang yang berpikiran terbuka, he may not try drugs, but he try booze, and… for the sake of experiment. Ya, kukira sebagai mahasiswa filsafat rasa ingin tahunya tentu mengusik dirinya, bagaimana minuman keras dapat mempengaruhi kemampuan berpikirnya. Jadi ia pun mencari tahu, ia menenggak gelas demi gelas, hingga jumlah di mana secara teoretis dapat menurunkan tingkat kesadarannya hingga tidak dapat berpikir. Tapi kau tahu, di saat yang bersamaan dia berusaha tetap berpikir meski minum, dan berusaha menjaga kesadarannya. Dan ternyata ia berhasil, ia tetap bisa berpikir jernih meski telah menenggak minuman keras. Terdengar tidak masuk akal memang. Then for some time later, I thought, there could be a way after all… to bring control to your situation whatever the situation is.

Kemudian saat S1 aku mulai melatih diri, setiap kali mengalami situasi di mana pengelihatan berkunang-kunang atau bahkan kabur aku mencoba untuk tetap bisa berpikir betapapun sulitnya, dan mencoba untuk memegang kendali atas tubuh meski sulit. Dan sedikit demi sedikit aku pun dapat menjaga kesadaran meski pengelihatan benar-benar kabur, dan masih dapat merasakan bagian-bagian tubuh meski sulit. Dan meski sulit untuk menjaga postur tubuh untuk tetap tegak dan tidak mengalami tremor, tapi kini sudah jauh berkurang dibanding dulu. Kinda amazing I know. Hingga satu ketika aku membaca Naruto di mana terjadi pertarungan antar Sennin, di mana Orochimaru dan Kabuto bertarung melawan Jiraiya, Tsunade, dan Naruto. Ada satu adegan di mana Tsunade menotok tubuh Kabuto agar sinyal syarafnya tertukar antara tangan dan kaki, sehingga saat Kabuto ingin menggerakkan kaki yang bergerak justru tangan, dan saat ingin menggerakkan tangan yang bergerak justru kaki. Namun Kabuto sangat proaktif dan merupakan jenius, alih-alih merasa panik dan tidak bisa berbuat apa-apa ia justru melatih diri cara menggerakkan tangan dan kaki, hingga akhirnya ia berhasil sepenuhnya mengendalikan tangan dan kakinya. And somehow… I can relate to that. Bahkan ada banyak adegan dalam film, manga, apalagi dalam kehidupan nyata, di mana orang mengalami kondisi yang sulit, dan alih-alih mengalami kelumpuhan ia justru berusaha menemukan dan memegang sebanyak mungkin kendali yang ia bisa.

Seiring dengan bertambahnya usia aku pun menyadari, bahwa seringkali kondisi yang ada memang kurang favorable. Yah… kau tahu… jam ketemuan ngaret dan kau tidak tahu harus berbuat apa. Ada banyak yang harus dikerjakan, tapi justru pikiran sedang tidak kondusif. Kau sedang berkendara dan orang-orang di jalan banyak yang kurang beradab. Kau ingin memulai bisnis, tapi modal entah dari mana. Apapun kondisinya, aku mulai sadar bahwa untuk setiap kondisi tersebut, selalu ada SATU HAL yang terbaik untuk dikerjakan. Hal tersebut mungkin tidak memberikan hasil secara langsung, tapi dalam jangka waktu pendek atau panjang dapat meningkatkan efektivitas dan produktivitas dalam hidup. Semisal, saat harus menunggu lama, aku mulai sadar saat akan memasuki umur 20 tahun, bahwa menunggu bukanlah hal yang sia-sia, dan tidaklah buang-buang waktu. The problem is, how did you spent it? Terkadang dalam waktu menunggu tersebut kita justru dapat berbincang-bincang dengan orang di samping kita, dan memperoleh informasi baru, sekaligus meningkatkan kemampuan sosial kita. Atau terkadang hidup terasa begitu cepat dan menjenuhkan, sehingga waktu tersebut dapat digunakan untuk membiarkan pikiran mengalir, dan melepaskan semua hal yang memenuhi dan mengganggu pikiran. Menggunakan waktu tersebut untuk bermeditasi sejenak, mengobservasi semua yang terjadi pada diri kita tanpa menghakimi setiap kejadian yang terjadi pada diri kita.

Contoh lainnya ialah saat berkendara. Harus kuakui bahwa jalanan di Jogja sudah tidak seramah dulu, semua mulai berubah 3-5 tahun lalu. Orang-orang di sini semakin tidak beradab dan tidak mau tahu dengan keselamatan orang lain, apalagi kenyamanan orang lain. Tapi melalui banyak perenungan aku sadar, bahwa menghardik orang, mencela orang, terpancing emosi hingga ikut-ikutan ngebut, bukanlah hal yang akan memperbaiki keadaan, bahkan justru memperburuk keadaan. Seorang kenalanku di Fesbuk pernah membagikan sebuah gambar, yang berisi tulisan yang kira-kira seperti ini artinya “Dengki/dendam terhadap orang lain itu seperti meminum racun tapi justru ingin orang tersebut mati”. Kemudian aku sadar, bahwa masalahnya selalu ada dalam diri kita, bukan pada orang lain. Alih-alih melakukan sesuatu yang tidak berguna dan justru merugikan diri sendiri lebih baik berusaha melepaskan apabila ada orang yang bertindak anarki di jalanan.

Aku rasa ada banyak contoh yang lainnya, tapi intinya tetap sama. Dan dalam beberapa hal, hal ini serupa dengan mental juara, di mana kau masih akan terus berjuang dan memberikan yang terbaik seperti apapun situasi dan kondisimu. Dan seringkali inilah yang akan membalik permainan. Sekarang pertanyaannya ialah, apa hal terbaik yang dapat kau lakukan dalam kondisi dan situasimu saat ini? Suatu hal yang akan meningkatkan efektivitas dan produktivitasmu dalam kondisi dan situasi saat ini. Because there will always be a leverage for every kind of situation :).

Muhammad Radifar

August 7, 2015


NB. Nabi Muhammad SAW seringkali bermeditasi dan merenung tentang bangsa Jahiliyah dalam gua saat sebelum kenabiannya datang, merenungkan bagaimana kondisi umatnya dan bagaimana langkah terbaik dalam menanganinya. Dan perenungannya dilakukan dalam waktu yang sangat lama. Banyak pemimpin besar yang melakukan perenungan dan refleksi diri untuk menjadi pemimpin yang baik, dan tiap diri ialah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri. Oleh karenanya, renungkanlah… apa langkah terbaik untuk setiap kondisi yang kau lalui saat ini dan setiap keputusan yang kecil yang kau ambil sehari-hari. Pikirkanlah konsekuensi logis dari tiap-tiap keputusan yang kau ambil, meski hanya sesepele jadwal menyalakan lampu dan peralatan elektronik, ataupun caramu berkendara, membuang sampah, dll. Selalu ada hal yang dapat kau tingkatkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan membuat dunia ini menjadi lebih baik, betapapun kecilnya :).