Belakangan aku baru nyadar, ternyata ambisi dan harapan adalah dua hal yang berbeda. Aku tidak bisa membedakan artinya, tapi yang kutahu aku bisa merasakan bedanya… Ambisi terasa seperti nyala dari dalam, sedangkan harapan seperti cahaya yang hangat yang turun dari atas. Harapan itu membuatku merasa lebih hidup, dan membantuku lebih cepat sembuh tak peduli seberapapun dalamnya luka yang didapat. Harapan itu membuatku bangun lebih cepat setiap kali aku terjatuh.

Konyol juga, selama ini aku berpikir bahwa dengan ambisi, semangat dan usaha yang benar sudah cukup untuk mencapai apa yang kucitacitakan. Tapi aku sekarang sadar, itu seperti lari maraton dengan kaki yang pincang… Semakin jauh kau berlari, justru semakin terasa menyakitkan dan kau justru semakin sakit hingga akhirnya kau pun tidak bisa berlari lagi. Dengan harapan aku bisa berlari tak peduli seberapapun jauhnya…

Harus kuakui… belakangan ini aku ternyata memang selalu menjalani hidupku tanpa harapan. Maybe it was the darkness, I was lowering my guard yeah… I never thought that the darkness can eat hope, I should be more cautious. It is… it is tough to use darkness and light at the same time.

Sekarang aku tahu kenapa aku tidak pernah mengalami penyesalan yang mendalam… tidak juga merasa kehilangan setiap kali ada yang hilang… karena aku memang tidak pernah berharap… Am I just running away? Or is it because the darkness inside of me? Anyhow… I must keep my hope high, always, all the time…

TETAP SEMANGAT & SELALU BERHARAP!!! :D

P.S. Mohon maaf lahir dan batin dan selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan.

Hmmm… hari yang cukup melelahkan… Hari minggu kemarin aku ke kampus diboncengi Rifky, ngapain minggu-minggu ngampus? Yaaahhh, itu karena sehari sebelumnya aku dah janji buat bantuin Rifky ngerjain presentasi & poster buat pimnas yang akan dia ikuti tanggal 20 juli mendatang. Rifky datang ke tempatku sekitar jam setengah 10 dan kamipun sampai di kampus sekitar jam 10. Sesampai disana ternyata diduga lepi Rifky terjangkit virus Sality, bagi kalian yang gak tau, virus Sality adalah virus yang menyerang file-file exe sehingga banyak software komputer yang tidak bisa dipakai. Alhasil kita gak bisa buka program ini itu dan gak bisa install ini itu… ya udah, akhirnya kita install ulang windows, lalu setelah itu kita langsung install antivir dan update lalu scan semua file… Setelah lepi bersih barulah kita install dari adobe reader, corel, photoshop ampe office 07. Busyet dah! ternyata waktu kita yang seharusnya dipakai untuk desain poster dan template presentasi malah jadi banyak terbuang buat benerin lepi dan install ini itu. Untung waktu itu internet kampus jalan, jadi kusempatkan untuk mendownload video tutor mekanika kuantum dan file iso leopard-nya arip (7,5 GB boookk!!! Kejahatan!!).

Selagi mendownload kusempatkan juga untuk chatting dengan orang yang telah sejak lama ingin kuajak berdiskusi, siapakah dia? Bukaaannn…. bukan si Diiiaaa… melainkan pak Enade. Siapakah beliau? Aku tidak begitu mengenal beliau, tetapi aku pernah mendengar ceritanya dari pak Pardjan (dosenku di bidang kimia organik dan sintesis organik yang kini sudah profesor), beliau bukan saja memiliki kepandaian yang luar biasa, tetapi juga semangat yang luar biasa. Pak Pardjan pernah bercerita, pada suatu ketika semasa pak Enade masih mahasiswa pak Enade bersama kawan-kawannya pernah datang ke rumah pak Pardjan. Pada saat itu sudah lewat maghrib, ada apa gerangan? Ternyata pak Enade dan kawan-kawannya hendak mengikuti PKM, saat itu pak Enade dan kawan-kawannya hendak mengajukan proposal penelitian mengenai sintesis senyawa (kalo gak salah :p) sehingga mereka perlu buku-buku referensi kimia organik dan sintesis organik. Tentu saja pak Pardjan sebagai dosen kimia organik dan sintesis organik pak Pardjan memiliki banyak sekali buku-buku tersebut. Dan tahukah anda? Ternyata batas waktu pengumpulan proposal adalah keesokan harinya, sehingga semalaman suntuk mereka mengerjakan proposal itu. Pada pagi hari draft proposal jadi dan dicetak untuk kemudian diserahkan pak Pardjan dan dikoreksi, siang harinya draft telah koreksi oleh pak Pardjan dan mereka segera melakukan koreksi dan cetak ulang dan segera mengumpulkannya! Dan hebatnya proposal mereka ternyata diterima!

Selain itu pak Pardjan juga pernah bercerita bahwa suatu ketika USD (Universitas Sanata Dharma) membutuhkan dosen kimia organik, saat itu pak Enade ingin menjadi dosen kimia organik di USD, tapi sayangnya syarat menjadi dosen ialah lulus S2 sedangkan pak Enade baru lulus S1, namun pak Pardjan merekomendasikan pak Enade untuk menjadi dosen disana dengan alasan bahwa dosen kimia organik sulit dicari, selain itu pak Enade adalah orang yang sangat menguasai bidang kimia organik. Alhasil pak Enade menjadi dosen di USD. Selama menjadi dosen pak Enade mengukir prestasi yang hebat di USD, hal ini dapat dilihat dari keberhasilannya menerapkan SCL (Student Centered Learning) di USD dimana setiap mahasiswa dituntut untuk mandiri dalam mencari ilmu yang dibutuhkan untuk memahami kimia organik. Dan penerapan SCL oleh beliau di USD telah berjalan disaat Fakultas Farmasi UGM hendak menerapkan SCL di beberapa mata kuliah di Fakultas Farmasi UGM. Luar biasa! Tak hanya itu, pak Enade juga satu-satunya dosen USD yang berkompeten di bidang CADD (Computer-Aided Drug Design), bidang ilmu yang terbilang masih sangat baru di komunitas akademika farmasi Indonesia.

Beliau menyelesaikan S2 di Vrije Universiteit Belanda dan kini melanjutkan studi S3-nya di universitas yang sama. Beliau mendalami bidang Farmakokimia terutama di bidang CADD seperti QSAR, Pharmacophore dan Molecular Docking.

Cuma itu yang kuketahui tentang beliau. Dan selama ini aku baru bertemu beliau dua kali, pertama yakni saat praktikum kering Farmakokimia dimana kita diminta untuk melakukan kalkulasi deskriptor senyawa flavonoid dengan menggunakan software MOE (Chemcomp). Saat itu beliau menerangkan tentang deskriptor dan penggunaannya dalam QSAR. Yang kedua ialah saat aku hendak minta tanda tangan dosen pembimbing akademikku bu Nunung, ternyata pak Enade ialah teman bu Nunung (teman kuliah kalau gak salah?), saat aku hendak meminta tanda tangan untuk KRS-ku ternyata pak Enade sedang berbincang-bincang dengan bu Nunung dan mereka tampaknya akrab sekali.

Kembali ke topik pembicaraan, kenapa aku begitu ingin chatting dengannya? Karena aku hendak konsultasi tentang skripsiku. Skripsiku kini telah beralih dari sintesis + uji in vitro menjadi sintesis + uji in silico (docking). Yang menjadi masalah sebenarnya bukanlah dockingnya melainkan struktur protein yang akan digunakan untuk docking nanti, struktur yang akan kugunakan merupakan struktur reseptor Histamin H-1, dimana struktur kristal dari reseptor tersebut belum tersedia untuk saat ini. Sehingga untuk mendapatkan strukturnya aku perlu melakukan homology modeling, suatu proses penyusunan struktur protein dengan template struktur protein yang telah diketahui. Proses homology modeling bukanlah proses yang mudah. Dalam mencari template yang baik kita perlu mengetahui banyak hal tentang protein yang akan kita modelkan serta template yang akan kita gunakan. Selain itu banyak parameter yang musti dipertimbangkan dalam melakukan modeling. Belum lagi MD (Molecular Dynamic) untuk “menuntaskan” struktur model yang didapatkan. That’s why I need to discuss a lot of things with him. Untunglah kemarin rabu aku berhasil mendapatkan alamat ym beliau dari profesor dunker. Setelah ku-add akhirnya pada hari jumat telah diapprove, tapi karena status beliau sibuk akupun tak berani mengganggunya. Lalu keesokan sabtu pagi aku online sampai jam 12 dan beliau masih bobok… dan kemarin minggu siang akhirnya aku sempat berbincang dengannya…

Awalnya memang sedikit berat… kami belum mengenal satu sama lain dan nampaknya beliau kurang berkenan untuk kuganggu wakakakakakak… maap ya pak! Tapi seiring dengan berjalannya waktu meskipun seringkali diriku dan ilmuku dipertanyakan oleh beliau akhirnya aku merasa mendapat pencerahan dari beliau, kebanyakan tentang homology modeling, sedangkan untuk molecular dynamic tidak ada yang dibicarakan, karena memang aku sendiri malah keasyikan berdiskusi tentang homology modeling. Beliau juga bahkan sempat memberikan aku banyak informasi mengenai perkembangan modeling untuk GPCR. Namun berkali-kali pak Enade menekankan bahwa homology modeling adalah ilmu yang luar biasa sulit yang beliau sendiri bahkan kurang menguasainya… sehingga beliau memperingatkanku dalam mempelajarinya…

Meskipun skripsiku luar biasa sulit (Sintesis+Homology Modeling+MD+Molecular Docking) bu Ratna dan pak Ari sudah memberikan kepercayaan mereka padaku… dan aku tidak boleh mengecewakan mereka…

For the first time in my life there are people who have faith in me and there are people who questioning me… What a challenge! This is exciting! Soon… soon I will show this world my persistencies!

Please sir… have faith in me! :D

Gak terasa dah sekitar sepuluh bulan sejak kejadian itu, meskipun begitu rasanya seperti belum lama… Sejak kejadian itu hatiku jadi serasa membeku, akupun jadi tak merasa dan tak berkeinginan, otakkupun diam tak bergeming, hari demi hari aku berjalan tanpa arah, kebosanan muncul ke permukaan dengan cepat tak peduli apapun yang sedang kulakukan, selalu kucoba berlari dari semua masalah yang ada, lalu kumencari jati diri dalam kegelapan dan ketiadaan yang luar biasa…

Rasa bersalah, rasa bersalah itu terus menghantuiku… Coz one day I said to myself that I won’t forgive myself, even if she forgive me…

Who am I?… Why am I doing this and that?…

Keep interacting with my friends… Keep grining everyday to hide my ultimate pain…

I know that I was making a fatal mistake, I almost losing one of my best friend… and I can never smiles in front of her anymore too…

I still remember the message that she send to me that day, “Promise me in the name of god that u will stay where u stand… or even better, stay away from me!”. I didn’t reply her message and I didn’t give her my words, coz I don’t wanna make another stupid ‘bond’ after I make a stupid ‘bond’ with one of my best friend. Honestly… I feel angry that time, sooo… angry… I think she can tell by looking at my face everytime we met… But two weeks after that I begin to realize that what she said was right… she was damn totally right, coz I begin to realize that everything I did for her is always wrong, either it’ll make her bothered… or even sad… eitherway, everything I did for her is always wrong…

Who am I?… Why am I doing this and that?

Two weeks after the message that she send to me I made up my mind… That I won’t smile in front of her, even if she forgive me… Coz I’m afraid that when I gave my smile to her we’ll begin to get closer and closer, the closer I am to her the easier for me to hurt her, I will never hurt her anymore…

Two weeks after the message we only communicate when it is really necessary and if it is not a personal matter…

Though so… after just few days I made up my mind not to give my smile everytime I met her, I found out that it is much much harder than I thought… It’s so painful, it is so painful not to be able to smile in front of her when I really really want to smile in front of her…

I really wanna smile in front of her, it hurts, but I don’t wanna see her hurts… so better to take some distance…

Month after month I’m trying to collect the spirit, but it’s hard, yes it is damn hard!

Half year later… I begin to move on… even so… still I can’t forgive my self…

God damn it! My darkness is reaching the level where there is no such day with no despair… I was completely numb too…

Gosh… I know that I suppose to help her everytime she need help, but I can’t… and it hurts… especially to help her to get what she want the most, but I can’t… thanks to my stupid ‘bonds’ that I make to one of my best friend…

After very loooonngg… loooonnngg… time, I begin to learn a lot, I know that I’m not ready for a new relationship, and I still have friends along side with me… I gotta move on…

I forgive myself now, for the most stupid mistake I make in this life… And I’m gonna move on!

I’ll give her my smile if she already forgive me now.

Also… though I’m not completely recovered, I’m sure that in a few more month I will…

I’ll continue my life and fulfil my destiny!

I’ll face my day with grin! :D

PS. Though I cannot smile in front of you, I always pray for you everytime I know something is happening to you… That’s the most I can do for you now…

Posted by: dep05 | June 30, 2008

It is… KKN Time… ~ Off I go…

Sorry… sudah saatnya daku pergi hiks hiks hiks T-T…

Daku ‘kan pergi ke tempat yang jauuuuhhhh… sekali! Nggak… gak jauh amat sih… cuman di Klaten daerah Jatinom, deket tempatnya Napi… satu setengah jam perjalanan pake motor (satu jam kalo ngebut, dasar Leo bocah edan!!! Pake 90-105 km/jam mlulu!)

I’m leaving for 2 months… to add my experience… to vanish my thirst of power… and to fulfil my fucking duty as a college student hahaha…

Jadi mungkin aku akan menghilang sesaat dari dunia maya, mungkin juga aku tidak akan mengepost selama 2 bulan ini… tapi insyaAllah bila sempat khan kutulis ceritaku disana selama ber-fuckingKKNria disana hehe…

PS : Ini adalah posting pertamaku yang kutulis di luar rumah, gara-gara kompie-ku lagi rusak, sial! Jadi murni SPONTAN!!! Gak pake ngedit-edit dulu!

Seperti biasa, sebelum membaca tulisan ini anda diharapkan sudah membaca “Mikirin Ceweeeek Mlulu Part 1, Part 2,  Part 3 dan Part 4″ terlebih dahulu, mengingat mata kuliah tersebut adalah mata kuliah prasyarat sebelum mengambil mata kuliah ini ceritanya saling berkaitan satu sama lain. Tulisan tersebut dapat anda baca di blog saya di friendster (untuk yang part 4 ada di blog ini) yang mana link-nya terdapat di sebelah kanan blog ini.

9 months after part 4 written…

Setelah pencarian yang demikian lama, aku baru bener-bener paham dengan apa yang diomongkan bu Nunung dosen P.A.-ku… Omongan yang mana? Yaitu omongan yang “Kita harus memperluas jaringan kita dan berkenalan dengan sebanyak mungkin lawan jenis kita.” Belakangan aku baru mengerti alasan dibalik semua itu… Alasannya ternyata tidak sesederhana yang kukira dulu, dulu kupikir itu hanyalah sekedar pemercepat-pertemuan-dengan-soulmate-kita. Namun alasan yang sebenarnya tidaklah sesederhana itu, harus kuakui aku yang dulu terlalu lugu dan naif untuk menangkap makna sebenarnya yang sedemikian dalam. Memang dibutuhkan pengalaman yang banyak untuk menangkap makna sebenarnya, dan kini setelah hampir satu tahun berlalu dan banyak hal yang telah terjadi padaku, seberkas cahayapun mulai menyoroti paradigmaku yang dirundung dalam kegelapan.

Kini, setelah aku menggunakan cara yang bergerak yang benar-benar berbeda daripada aku yang dulu (thx to u :) , aku yang sekarang lebih fleksibel. Sebagai akibatnya lambat namun pasti, aku mulai menemukan potongan-potongan yang diperlukan untuk menemukan makna-makna tersembunyi dalam ayat-ayat yang kuterima dari orang-orang disekitarku. Dan ayat yang ingin kuangkat adalah ayat yang kudapat dari dosen P.A.-ku.

Beruntung sekali… aku kuliah di dunia dimana stok ceweknya melimpah, aku kuliah di fakultas farmasi dimana cowok : cewek = 1 : 7. Sayangnya kini setelah masuk jurusan FSI perbandingannya jadi 1 : 5 hahaha… Loh?! Apa hubungannya cewek yang melimpah dengan omongannya bu Nunung? Mmm, gini lho jeng… untuk mengaplikasikan apa yang diomongkan bu Nunung aku khan musti kenalan dengan banyak cewek, nah caranya tentu dengan pergi ke luar fakultas. Lha aku khan punya banyak keterbatasan, apa lagi dengan kepribadianku yang kek gini. Nah, karena disini dah ada banyak cewek jadinya rasanya gak perlu keluar-keluar lagi khan? Hahahaha… Jadi inget omongan pak Sudjadi pas kuliah rekayasa genetika, beliau pernah ngomongin tentang salah satu mahasiswanya yang saat sedang pretest praktikum analisis farmasi ditanyai perihal jodoh, mahasiswanya itu malah ngomong “gak usah nyari diluar pak, di sini khan dah banyak”. Tahukah kamu? Mahasiswa yang dimaksud pak Sudjadi itu aku! Wakakakakak

Dengan banyaknya cewek disini aku mulai bisa belajar berinteraksi dengan berbagai macam cewek. Dari situ sedikit demi sedikit aku bisa melihat mana sifat-sifat yang kusukai dari seorang cewek dan mana yang tidak tapi bisa kutolerir sampai sifat yang tidak bisa kutolerir sama sekali. Output akhirnya? Tentu saja cewek yang kuidamkan… Dengan mengumpulkan sifat-sifat yang kusuka dan menghilangkan yang tidak kusuka akupun mulai membangun model dari cewek yang kuidam-idamkan selama ini.

Dan tahukah kamu? Aku baru bener-bener menyadari hal itu gara-gara kuliah farmakokimia 2 yang pas itu diampu oleh pak Ari. Pas itu pak Ari menjelaskan tentang Structure-Based Drug Design. Di dalam Structure-Based Drug Design ada teknik yang namanya de novo Design, teknik apakah itu? Itu adalah teknik dimana kita mengumpulkan potongan-potongan molekul yang sesuai dengan bagian-bagian tertentu dari binding site pada protein (lihat gambar). Dari sedemikian banyak potongan molekul yang sesuai tersebut kita sambung-sambung. Pada kenyataannya ada berbagai macam ikatan antara molekul substrat dan enzim/reseptor, selain itu bentuk molekul substrat yang khas, dan bentuk binding site dari enzim/reseptor yang khas menyebabkan adanya ’spesifisitas ikatan’. Voila! The miracle of enzime! :)

Dan tahukah anda? Bahwa hubungan antara dua insan itu serupa dengan ikatan enzim-substrat. Anda tidak percaya? Mari saya ‘paksa’ anda, agar anda mau percaya. Pada dasarnya ikatan antara dua insan disebabkan oleh adanya kemiripan dan perbedaan. Hal yang serupa juga terjadi pada enzim-substrat. Pada interaksi enzim-substrat, terdapat berbagai macam ikatan/interaksi. Yakni ikatan hidrogen, ikatan polar, ikatan non-polar/hidrofobik, interaksi phi. Ikatan hidrogen dan ikatan polar merepresentasikan ‘ikatan akibat perbedaan’, karena ikatan ini terjadi akibat dua bagian yang bertolak belakang, dimana pada ikatan hidrogen terjadi akibat adanya atom yang amat elektronegatif dan atom hidrogen yang terikat pada atom yang amat elektronegatif, sedangkan ikatan polar terjadi akibat dua atom yang bermuatan berlawanan satu sama lain sehingga saling tarik menarik. Ikatan hidrofobik dan interaksi phi merepresentasikan ‘ikatan akibat kemiripan’, karena ikatan hidrofobik terjadi akibat pertemuan dua gugus yang tidak bermuatan, sedangkan interaksi phi terjadi akibat pertemuan dua gugus elektron ikatan phi (biasanya dalam bentuk gugus aromatik).

interaksi enzim substrat

Ikatan-ikatan pada enzim-substrat tersebut merepresentasikan kecocokan antara dua insan. Dan kecocokan itu dapat disebabkan oleh adanya perbedaan (mis. yang satu sangat pemarah dan yang satu lagi penyabar, yang satu fotografer yang satu lagi model) dan bisa juga disebabkan oleh kemiripan (mis. sama-sama suka berorganisasi, sama-sama penyayang binatang). Namun tentu saja ada satu hal lagi yang sangat vital yang perlu diperhatikan, apakah hal itu? Hal itu adalah prinsip, standar dan nilai-nilai kehidupan yang dibawa setiap insan. Adalah percuma jika terdapat banyak kecocokan namun dalam hal prinsip, standar dan nilai-nilai kehidupan ternyata tidak sejalan (bukan sekedar berbeda, karena perbedaan prinsip, standar dan nilai-nilai kehidupan boleh berbeda selama masih bisa saling mentolerir satu sama lain). Hal yang sama terjadi antara enzim dan substrat, analogi dari prinsip, standar dan nilai-nilai adalah kerangka dasar/backbone dari substrat dan bentuk 3D dari binding site. Jika gugus-gugus yang benar menempel pada bagian yang salah dari kerangka dasar tentu kecocokan yang ada menjadi tidak berguna, bentuk kerangka dasar yang salah (terlalu panjang/pendek, atau melengkung ditempat yang salah) juga tidak berguna karena ikatan dengan enzim tidak akan fit.

Nah, sekarang bagaimana cara mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari? Sependek yang saya tahu, berdasarkan dua buku yang pernah saya tahu yakni Making Love Happen karya Bart A. Bagget dan Dating for Dummies karya Dr. Joy Browne, disitu terdapat sebuah kemiripan dibagian awal bukunya, apakah itu? Yakni mengenal diri sendiri dan mencari tahu apa yang kita inginkan. Hal ini benar-benar sesuai dengan de novo design, dimana pertama-tama kita harus mencari tahu residu-residu asam amino apa saja yang ikut berperan dalam binding site suatu enzim/reseptor. Mari kita analogikan si enzim/reseptor sebagai diri kita dan residu-residu asam amino tersebut sebagai sifat-sifat kita, sedangkan wujud 3D ruang binding site sebagai prinsip, standar dan nilai-nilai kehidupan kita. Jika kita ingin mencari tahu apa yang kita inginkan maka kita harus mengenali diri sendiri. Jika kita telah berhasil mengenali diri sendiri maka mencari tahu apa yang kita inginkan menjadi lebih mudah.

Second step… dalam pencarian ‘potongan-potongan’ yang diperlukan dalam menyusun obat, maka berbagai macam senyawa kecil dengan gugus tertentu dimasukkan untuk dilihat interaksinya dengan residu-residu asam amino dalam binding site. Jika energinya rendah (ikatan bagus/stabil), maka ‘potongan’ tersebut adalah kandidat untuk bagian obat yang akan kita susun nanti. Di dalam kehidupan nyata, kita dapat berinteraksi dengan sebanyak mungkin lawan jenis. Dari berbagai macam sifat yang kita temui, kita bisa memonitor perasaan kita untuk mengetahui apakah sifat seperti ini yang kita cari? Atau malah ilfil? Kemudian kita bisa mengumpulkan potongan-potongan itu menjadi satu, sehingga kita bisa mendapatkan ‘prototipe’ pasangan idaman kita. Tentu saja itu semua baru sebatas kecocokan dibanyak hal, namanya juga prototipe… ingat, ada hal fundamental yang harus diperhatikan. Yakni prinsip, standar dan nilai-nilai kehidupan kita. Perhatikanlah prinsip, standar dan nilai-nilai kehidupan kalian berdua, apakah sama atau berbeda? Jika sama tidak perlu dipertanyakan, namun jika berbeda? Lihatlah perbedaannya, jika masih bisa berjalan bersama maka lanjutkan. Tapi jika prinsip, standar atau nilai-nilai kehidupan yang dipegang masing-masing sudah bertolak belakang satu sama lain maka sudah tidak ada gunanya hubungan yang ada dilanjutkan, lebih baik sekedar teman daripada sakit hati.

de novo 2

Yang menjadi masalah sekarang adalah, cinta belum tentu cocok, dan cocok belum tentu cinta. But luckily, I’ve got the solution already. Stop or slow down ur feeling when u don’t know the one u’re attracted to. And build ur feeling when u know someone u’re compatible with ^^. Never ever got involved (crush or moreover… infatuated) before u know the real him/her! Once u got involved, u can’t use ur brain, trust me! Pada kenyataannya tentu saja tidak semudah yang kutulis barusan, tetapi aku sudah belajar cukup banyak, baik dari temanku, forum dan dari buku (my special thanx to Arko Java for the lesson ’bout how to slowing down the feeling, it really works! U’re genius Arko! Hahaha…). Dan lagi, ada range toleransi dari segi fisik, materi, lingkungan keluarganya, and the other “outer quality”. Ada kalanya meskipun kita merasa ada kecocokan tetapi dari segi “outer quality” kurang memungkinkan. Mmmm… inner quality is confusing enough, and there is outer quality also… so much things to calculate… ~.~

BTW, kita sebenarnya sudah mengaplikasikan ilmu ini tanpa kita sadari ^^, kalau anda tidak percaya, cobalah liat ke belakang hehehe… (kecuali kalau anda tidak pernah berminat mencari jodoh, atau tidak pernah serius mencari jodoh)

Sayangnya kita tidak mengaplikasikannya dengan benar… satu hal yang sering kali terlupakan… mencoba melihat ke dalam diri sendiri… jika anda tidak pernah mencari tahu apa yang ada dalam diri anda, maka anda tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya anda cari

Good Luck in Finding Ur Soulmate!

———appendix———-

de novo Design

1. Get the structure of protein. Know the amino acid that playing the role
2. Find the ‘pieces’ that fit to the amino acid
3. Assembly those pieces into one
4. Try to synthesize the drug LOL Hahahahaha…
Soulmate Finding

1. Recognize urself
2. Recognize what u want
3. Find what u want
4. Build the mutual feeling
PS : Don’t expect too high, there’s no such thing as “perfect human”, u must accept other’s limitation. Because that’s what tolerance for…

Older Posts »

Categories