Kepalaku sakit, amat sakit. Sebenarnya bukan sakit yang sebenarnya, tapi rasanya sangat penuh, lelah, dan tak bertenaga. Karena setidaknya dalam seminggu terakhir aku memfokuskan diri untuk mempelajari pemrograman UI (User Interface) untuk PyPLIF, seharusnya aku mengerjakan PyPLIF namun karena bug-bug pada PyPLIF sudah banyak yang tertangani aku pun beralih untuk mempelajari pemrograman UI. Ceritanya sih lagi ngebet banget buat jualan UI-nya, baik untuk preparasi konfigurasi PyPLIF maupun visualisasi hasil dan analisis statistiknya. Ntar kalau jadi maka akan menjadi software proprietary-ku yang pertama dan akan kujual hahahaha…

Kembali ke cerita awal, dalam seminggu ini aku melakukan banyak sekali perencanaan dan analisa lisensi library (istilah keren dari modul siap pakai dalam dunia pemrograman). Awalnya aku menemukan PyQt yang tampilannya amat cantik dan kaya akan fitur-fitur. Namun tak lama setelah mempelajari PyQt ternyata library ini memiliki dual-license, di mana lisensi GPL PyQt hanya berlaku untuk software yang akan dirilis dalam lisensi GPL juga, padahal softwareku bakal dirilis dalam bentuk proprietary, jadi jelas-jelas gak mungkin pake lisensi GPL yang notabene lisensinya Open Source. Seketika itu juga diriku langsung down, masak iya pakai GTK atau Tkinter yang jelas-jelas tampilannya kurang oke. Bagi orang yang gak biasa ngliat tampilannya GTK atau Tkinter pasti langsung bilang kalau itu gak user-friendly, coba aja liat tampilannya GIMP (yang pake GTK) atau VMD (yang pake Tkinter), kalau orang gak biasa pake yang tampilannya begituan pasti langsung ill-feel hahahaha…

Alhasil diriku beralih ke GTK yang lisensinya LGPL yang bisa digunakan untuk software proprietary, dan setelah belajar GTK beberapa hari aku pun memutuskan untuk mempelajari library UI lainnya, dan aku menemukan satu library yang menarik, yakni PySide. Namanya memang gak terkenal sih, tapi usut punya usut, si PySide ini merupakan kembarannya PyQt, analoginya seperti OEChem library dan OpenBabel library. Kalau si PyQt ini lisensinya GPL maka si PySide ini lisensinya LGPL sehingga bisa untuk software-software proprietary, yippy!!! ^^

Dan demikian hari-hari selanjutnya kuisi dengan mencoba dan berlatih PySide, bahkan dalam 2 hari terakhir sampai bisa menyelesaikan lebih dari 30 example hahaha. Satu hal yang kusuka dari PyQt dan PySide adalah tersedianya Qt Designer yang dapat digunakan untuk mendesain tampilan UI dengan klak-klik klak-klik, atau bahasa kerennya, WYSIWYG (What You See Is What You Get), jadi pemrograman UI dengan PyQt dan PySide jadi jauh lebih ringan :D

Dan harus kuakui… semua latihan yang ekstrim ini benar-benar menghabiskan tenaga yang sangat banyak. Dalam seminggu ini setiap harinya aku menghabiskan waktu paling tidak 3 jam per hari, bahkan kadang sampai lebih dari 6 jam sehari. This is the level of constant exposure that driving me crazy -_- … Satu efek yang benar-benar terasa adalah sulitnya berfokus pada hal yang lain, yes, there’s a trade-off between concentration and context-shifting after all… Pada hari senin aku mencoba-coba jalan baru antara Jakal km 8,6 dan Minomartani (sekitar Plosokuning) dan ternyata diriku mudah linglung dan tersesat di antah berantah -_- … gak gw banget dah! Hari kamis saat buber bareng temen-temen KKN pun diriku juga mudah bingung dan males ngomong, tanda bahwa energi emosional dan mental-ku benar-benar rendah -_- … Dan esoknya pun saat dinner bareng temen-temen Farmasi angkatan ’05 pun juga gitu -_- … dan saking rendahnya energi emosional dan mental-ku sampai-sampai pikiranku dengan mudahnya dimasuki pikiran negatif dan gampang iri sama temen-temenku hadeeeh…

Sampai sekarang pun, ada berapa sms yang dah masuk tapi belum satu pun yang kubalas, maaf maaf, bukannya sombong, tapi diriku benar-benar exhausted… besok insya Allah kubalas…

Muhammad Radifar

August 19th, 2012

P.S. Setelah menulis ini pikiranku sedikit lebih jernih… output memang harus seimbang dengan inputnya :D